SuarIndonesia — Nina (43), perempuan yang tergabung dalam Srikandi BPBD Samarinda, turut berjibaku memadamkan karhutla di Kota Tepian. Mulai dari mengangkat selang, menyemprotkan air, hingga menarik peralatan di medan terjal. Nina tetap turun ke lapangan meski penanganan api terkadang berlangsung sampai tengah malam.
Nina bekerja di BPBD Samarinda sejak 2015. Baginya, tugas memadamkan karhutla bukan hanya pekerjaan yang dilakukan bersama personel laki-laki, tetapi juga tanggung jawab yang harus dijalankan bersama demi menangani kebakaran.
“Kalau peran selama saya di lapangan, sama saja sih laki-laki dan perempuan itu sama aja,” tutur Nina, Selasa (27/10/2026).
Dalam penanganan karhutla, Nina turut mengangkat selang, melakukan penyemprotan saat api masih bisa ditangani, hingga menggulung dan menarik selang setelah pemadaman serta pendinginan selesai. Ketika api membesar, personel laki-laki biasanya lebih sigap menangani kondisi tersebut, sedangkan Nina dan rekan-rekannya juga ikut menyemprot saat kobaran masih dapat dikendalikan.
“Setelah penyemprotan, pendinginan, mau selesai itu kami juga narik selang, gulung selang. Pokoknya sama dengan laki-lakinya,” tutur nina dilansir dari detikKalimantan.
“Srikandi bukanlah tim yang baru dibentuk khusus untuk menangani kebakaran. Sebutan tersebut merujuk pada perempuan yang bekerja di lingkungan BPBD Samarinda, sebagaimana polisi perempuan yang dikenal dengan sebutan Polwan,” jelasnya.
Sebagai bagian dari personel BPBD, Nina dan anggota Srikandi lainnya juga terlibat langsung dalam penanganan bencana. Pengalaman turun ke lapangan membuat mereka harus terbiasa menghadapi berbagai kondisi, termasuk medan yang sulit dijangkau dan risiko saat berhadapan dengan api.
“Karena itu, para anggota Srikandi juga menjalankan tugas sebagai bagian dari personel BPBD, termasuk terlibat langsung dalam penanganan bencana,” tambahnya.
Salah satu medan yang paling menantang bagi Nina berada di kawasan Batu Besaung, Samarinda. Petugas harus melewati jalur berbukit dengan tanjakan dan turunan sambil membawa selang menuju titik kebakaran, sehingga membutuhkan tenaga ekstra.
“Pernah ngangkat selang, Ibu jatuh pas lagi bawa selang karena medannya tiba-tiba pas diinjak ternyata gambut, tenggelam kaki,” kenangnya.

Bukan hanya medan terjal, Nina juga pernah menjalani penanganan kebakaran hingga malam hari ketika petugas masih berada di kawasan hutan sekitar pukul 22.00 Wita atau lebih. Ia bahkan mengaku pernah melihat kobaran api yang tampak berputar seperti angin.
“Tidak tahu secara pasti penyebab kejadian tersebut, apakah dipengaruhi pergerakan angin atau faktor lain,” bebernya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi Nina selama membantu penanganan karhutla di Samarinda. Ia berharap kondisi cuaca segera membaik agar kebakaran tidak terus terjadi dan petugas tidak harus berulang kali berjibaku di tengah panasnya api.
“Harapannya sih hujan secepatnya. Terus kesadaran orang-orang yang berniat membakar dengan niat untuk membuka lahan, berharapnya itu mereka sadar,” ujarnya.
Nina mengingatkan kebakaran yang terjadi bukan hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga membuat petugas dan relawan harus menghabiskan waktu berjam-jam di lokasi. Risiko keselamatan tetap ada, terlebih ketika penanganan berlangsung hingga larut malam.
“Kasihan teman-teman yang lain seperti kami, relawan yang lainnya. Sampai tengah malam di situ berjibaku dengan api, kan taruhan punya nyawa juga,” tambahnya.
Untuk mendukung penanganan di lapangan, BPBD Samarinda menyediakan sejumlah fasilitas operasional, mulai dari mobil rescue, ambulans yang dilengkapi tangki air, hingga mobil komando yang terkadang turut dikerahkan. Nina menyebut terdapat tiga tim dalam penanganan karhutla, dengan dua tim bertugas setiap hari.
“Peralatan operasional yang digunakan antara lain mobil rescue, ambulans yang dilengkapi tangki air, serta mobil komando yang terkadang turut dikerahkan,” terangnya.
Meski usianya kini 43 tahun, Nina mengaku tetap bersemangat saat harus turun ke lapangan. Baginya, usia bukan alasan untuk mengurangi keterlibatan dalam membantu penanganan kebakaran yang mengancam wilayah Samarinda.
“Saya sudah tua 43 tahun, tapi insyaallah semangat tetap gacor kalau di lapangan,” katanya dengan semangat.
Bagi Nina, selama karhutla masih mengancam, tugas membantu pemadaman tetap harus dijalankan. Di balik seragam BPBD yang dikenakannya, ia bersama anggota tim lainnya terus menghadapi medan sulit dan risiko kebakaran dengan harapan Samarinda segera terbebas dari kepungan api. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















