SuarIndonesia — Upaya mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah terus dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC). Sebanyak 7,2 ton bahan semai ditaburkan dalam delapan sortie penerbangan sejak Jumat, 23 Oktober 2026 yang diharapkan membuat hujan turun.
Berdasarkan laporan Posko Penanganan Darurat Bencana (PDB) Karhutla, operasi tersebut melibatkan TNI AU Kalimantan Tengah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui PT Milan Pillery Bersatu.
Bahan semai yang digunakan terdiri dari 5.200 kilogram dry ice dan 2.000 kilogram natrium klorida (NaCl). Operasi tersebut menggunakan sejumlah pesawat, yakni CN295, CASA 212, Cessna Caravan 208B, dan Pilatus PC-6 Porter.
Salah satu penerbangan menggunakan pesawat CN295 dengan membawa 2.000 kilogram NaCl. Penyemaian menyasar wilayah Kabupaten Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, hingga Kotawaringin Barat pada ketinggian 11.000 kaki.
Sementara itu, tujuh sortie penerbangan lainnya membawa dry ice dengan muatan sekitar 500 hingga 800 kilogram per sortie. Penyemaian dilakukan di sekitar VOR Palangka Raya, termasuk pada area penghalang atau blocking area di radial 320 hingga 360 derajat dengan jarak 80-100 mil laut.
Di tengah upaya tersebut, peluang hujan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah mulai menjadi perhatian. Prakirawan BMKG Tjilik Riwut Palangka Raya, Chandra, menyampaikan bahwa potensi hujan sedang hingga lebat diperkirakan terjadi secara bertahap di sejumlah wilayah mulai 24 Oktober 2026 hingga 5 hari ke depan.
“Potensi hujan sedang hingga lebat pada 25 Oktober, potensi hujan meluas ke Kotawaringin Barat, Sukamara, Kotawaringin Timur, Seruyan, Katingan, Kapuas, dan Kota Palangka Raya,” ujar Chandra dilansir detikKalimantan, Minggu (25/10/2026).
Ia menjelaskan, potensi hujan diperkirakan semakin meluas pada periode 26-29 Oktober 2026. Sebanyak 11 wilayah masuk dalam prakiraan, yakni Sukamara, Lamandau, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kotawaringin Timur, Katingan, Barito Utara, Murung Raya, Kapuas, Kota Palangka Raya, dan Gunung Mas.
“Meski ada potensi hujan di sejumlah wilayah, masyarakat tetap perlu waspada karena pertumbuhan awan hujan belum tentu merata. Kondisi atmosfer di sebagian wilayah masih relatif kering dan cenderung stabil sehingga potensi hujan perlu terus dipantau,” katanya.
BMKG mengidentifikasi adanya belokan angin dan perlambatan kecepatan angin atau konvergensi di Kalimantan Tengah bagian utara. Kondisi tersebut dapat mendukung pertumbuhan awan hujan. Namun, kelembapan udara yang relatif kering serta kondisi atmosfer lokal yang cenderung stabil masih menjadi faktor yang menghambat pertumbuhan awan hujan secara umum.
Chandra juga mengingatkan masyarakat agar tidak lengah terhadap ancaman karhutla meskipun terdapat potensi hujan dalam beberapa hari ke depan.
“Masyarakat diimbau tidak membakar lahan untuk tujuan apa pun. Selain itu, kurangi aktivitas di luar ruangan dan gunakan masker saat berada di luar, terutama bagi penderita gangguan pernapasan, anak-anak, ibu hamil, dan lansia,” katanya.
Upaya modifikasi cuaca dan pemantauan prakiraan hujan diharapkan dapat mendukung penanganan karhutla di Kalimantan Tengah.
“Meski demikian, potensi hujan tidak serta-merta menjamin seluruh wilayah terdampak kebakaran akan memperoleh curah hujan yang cukup sehingga kewaspadaan tetap diperlukan,” pungkasnya. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















