PEMERINTAH, Gaduh Oleh Ulah Sendiri

- Penulis

Kamis, 14 Mei 2026 - 21:34

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ADA banyak kegaduhan yang tidak penting terjadi belakangan ini, yang semestinya tidak perlu, bila pemerintah bekerja sungguh-sungguh untuk kesejahteraan warga.

Kegaduhan itu terjadi, karena warga merasa, tindakan pemerintah sama sekali tidak mewakili suara dan keinginan warga.

Gaduh karena beli mobil listrik, ingin beli kamera, beli susu dan buah, renovasi ruang kerja, beli baju baru, ganti horden baru, sewa mobil dinas.

Bikin rumah dinas baru, ulang tahun mewah di Jakarta, perjalanan ke luar negeri, bagi-bagi jabatan di lingkungan keluarga dan handai tolan, serta segala macam yang tidak mewakili kebutuhan warga, sehingga menimbulkan kegaduhan.

Waktu dan perhatian pemerintah habis untuk mengelola kegaduhan oleh ulahnya sendiri. Klarifikasi dilakukan, counter wacana disuguhkan, dan para pejabat memberi kesaksian tentang maksud dan tujuan yang dianggap disalahpahami.

Tapi siapa yang percaya dengan penjelasan dan klarifikasi tersebut? Warga tidak bodoh.

Warga melihat, mencerna, menyimak, merasakan, dan memikirkan dengan segenap kesadaran, bahwa sikap dan tindakan, cermin dari hati dan pikiran.

Kalau tindakan hanya untuk memperkaya dan memfasilitasi diri sendiri, itulah cermin dari hati dan pikiran pelakunya.

Bila pemerintah bekerja sepenuhnya untuk membangun kesejahteraan bersama warga, mestinya kegaduhan hanya untuk hal-hal substansial.

Apa hal substansial itu?. Misalnya, gaduh mempersoalkan bagi hasil pengelolaan sumber daya alam yang tidak pernah adil.

Gaduh karena mengundang para investor untuk membangun kawasan-kawasan industri baru yang bakal menyediakan lapangan pekerjaan.

Gaduh karena ingin mendirikan universitas bertaraf internasional dengan berbagai jurusan pilihan yang dibutuhkan pasar tenaga kerja.

Gaduh karena akan ada pabrik-pabrik modern yang mengadopsi teknologi terbaru dan memberi peluang putra-putra daerah beradaptasi dengan teknologi modern.

Gaduh karena sungai, jalan, jembatan, trotoar, pasar, sekolah, rumah sakit dan hutan kota akan dipercantik seindah mungkin dan memerlukan partisipasi semua pihak.

Dan berbagai kegaduhan yang lebih substantif, sehingga waktu dan perhatian, hanya terkuras untuk hal-hal yang memberi faedah.

Mestinya pemerintah gaduh menata dan mengelola ekonomi daerah agar tidak ambruk, karena dolar terus melangit dan rupiah terpuruk.

Mempersiapkan ketahanan warga. Empati, prihatin, dan berpihak pada segala kesulitan warga yang mengais rejeki di jurang miskin ekstrim.

Bukan sebaliknya, mabok memfasilitasi diri sendiri dengan uang rakyat, dan ujungnya hanya memupuk kecemburuan sosial, menciptakan kegaduhan atas ulahnya sendiri.

Bagi warga, gaduh adalah kontrol atas kesewenangan kekuasaan. Dari pada apatis, hoples, putus asa, lebih baik gaduh.

Gaduh adalah cermin bahwa warga peduli. Warga masih waras dan mampu melihat mana yang baik, penting dan urgen untuk diperhatikan pemerintah.

Gaduh adalah demokrasi, tentang kontrol warga atas pemerintahan yang mestinya mensejahterakan warga.

(Oleh: Noorhalis Majid/Ambin Demokrasi)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

MENGAPA Gerakan Dayak Harus Bersatu
Memelihara Harapan, Catatan Hendry Ch Bangun
MELAYANI dengan Kearifan Lokal, Bertumbuh di Era Digital
PENGADAAN MOBIL Listrik yang “Menyengat” Warga Miskin
KEBUDAYAAN Banjar dengan Ungkapan “Dipintarinya”
ANALISISI DAN PERSPEKTIF Keadilan dan Hak Asasi Manusia Kasus Pembunuhan Zahra Dilla
MOTIVASI “Anak Punai Rajawali”
ULAH SADAR Menuai Bencana

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 20:05

KOMJAK Pantau Langsung Penanganan Perkara Febrie

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:35

KONTROVERSI Pelibatan Babinsa dalam Mengawasi Kepatuhan Wajib Pajak Dikritik – ‘Bisa Menggerus Kepercayaan’

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:42

KPK: Bupati Lombok Barat LAZ dan Dua Orang jadi Tersangka Korupsi

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:29

PENGUMUMAN Hasil Seleksi SPMB SNT 3 Agustus 2026

Senin, 20 Juli 2026 - 21:08

KORUPSI Pembiayaan Batu Bara Rugikan Negara Rp38 Miliar

Sabtu, 18 Juli 2026 - 22:57

CERITA FOTO IKONIK Lionel Messi Memandikan Lamine Yamal saat Bayi

Kamis, 16 Juli 2026 - 14:56

DIPICU SUARA KNALPOT, Pedagang Gorengan Bunuh Seorang Pemuda di Hadapan Sang Istri

Rabu, 15 Juli 2026 - 21:32

KEJAGUNG Terbitkan Sprindik 3 Kasus Korupsi eks Jampidsus

Berita Terbaru

Ketua Komisi Kejaksaan RI Pujiyono Suwadi (kedua dari kanan) dan para komisioner Komisi Kejaksaan RI memantau langsung penanganan perkara dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dengan tersangka mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (22/7/2026). (Foto: HO-Komisi Kejaksaan RI)

Hukum

KOMJAK Pantau Langsung Penanganan Perkara Febrie

Rabu, 22 Jul 2026 - 20:05

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca