ULAH SADAR Menuai Bencana

- Penulis

Sabtu, 13 Desember 2025 - 22:36

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MUSTAHIL tidak paham, bila hutan digunduli, maka longsor dan banjir akan segera terjadi.

Bila gunung-gunung ditambang, digali puluhan hingga ratusan meter, pasti gunung dan hutan kehilangan daya dukungnya terhadap lingkungan.

Pun mustahil tidak mengerti, bahwa tanaman monolkultur seperti sawit, telah menghilangkan ekosistem alam.

Segala flora dan fauna musnah seketika, pada saat itu alam juga kehilangan keseimbangannya, sebab rantai makanannya berubah.

Pasti juga sudah tahu, akar sawit berbeda dengan akar pohon. Sawit tidak mampu menampung curah hujan.

Kalau curah hujan tinggi, maka ribuan hektar sawit tidak akan berfungsi mencegah banjir. Air hujan melaju menjadi bah, menghanyutkan semuanya.

Pasti pula sangat sadar, bahwa pertambangan dan perkebunan besar, mempercepat laju pemanasan global.

Kalau sudah menyangkut perubahan iklim, tentu sistem alam global yang terganggu, sehingga jangan heran musim jadi tidak menentu, alam siklusnya berubah, dan bencana datang bertubi-tubi tanpa bisa dicegah dan ditolak, apalagi hanya dengan konservasi yang pura-pura lagi serimonial.

Maka, karena ini tindakan penuh sadar, jangan berhenti mengeluarkan izin tambang, izin sawit, dan segala izin eksploitasi sumber daya alam, karena itulah cara sadar mengundang bencana.

Setelahnya tidak perlu mengeluh, apalagi menyalahkan alam, menuding curah hujan tinggi atau air pasang rob yang melebihi perkiraan.

Terima segala bencana, sebagai satu konsekuensi sadar, dari ulah yang sudah dilakukan.

Jangan mengeluh tentang bencana, bukankah sebagian sudah bangga bekerja di sektor tambang dan sawit dengan gazi besar tajir melintir?.

Padahal, konsekuensinya jelas mengundang bencana. Kalau ada banjir, tanah longsor, sungai kotor tercemar limbah tambang, itulah harga yang harus dibayar.

Begitu juga dengan pemerintah, tidak perlu terlalu pusing, bukankah selama ini sangat bangga pendapatan daerah meningkat tiap tahun, dan peningkatan yang sesungguhnya tidak seberapa tersebut, hasil dari tambang dan sawit.

Bukankah politik, dan segala money politik yang terjadi pada Pemilu, dan semua uang untuk menyuap penyelenggara dan pemilih, sumbernya dari hasil ekspolitasi alam?.

Jangan menyesal kalau pemimpin yang terpilih, akan terus menggali dan menganiaya alam semaksimal mungkin, tanpa mau peduli pada akibat dan dampak yang terjadi.

Tidak perlu protes dan mengeluh, semua sudah “saraba santuk”, segala yang terjadi sekarang ini, ulah sadar menuai bencana.

(Oleh: Noorhalis Majid/ Ambin Demokrasi)

 

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

Memelihara Harapan, Catatan Hendry Ch Bangun
PEMERINTAH, Gaduh Oleh Ulah Sendiri
MELAYANI dengan Kearifan Lokal, Bertumbuh di Era Digital
PENGADAAN MOBIL Listrik yang “Menyengat” Warga Miskin
KEBUDAYAAN Banjar dengan Ungkapan “Dipintarinya”
ANALISISI DAN PERSPEKTIF Keadilan dan Hak Asasi Manusia Kasus Pembunuhan Zahra Dilla
MOTIVASI “Anak Punai Rajawali”
PENGELOLAAN dan Pengaturan Pembukaan Lahan Gambut : Antara Larangan Pembakaran dan Kearifan Lokal di Indonesia
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 21:13

TERCATAT 913 ODGJ di Palangka Raya, Dinsos: ‘Himpitan Ekonomi Picu Gangguan Mental’

Selasa, 9 Juni 2026 - 21:05

DIDUGA! Oknum Pegawai KUA Sampit Bawa Kabur dan Sekap Anak di Bawah Umur

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:51

358 JEMAAH HAJI Kalteng Tiba, 2 Masih Dirawat di Arab Saudi

Senin, 8 Juni 2026 - 23:22

WASPADA BANJIR ROB di Kalimantan 14-25 Juni 2026

Minggu, 7 Juni 2026 - 23:03

PENCURI 1,6 TON SAWIT Ketahuan! Gegara Tertidur Pulas Usai Beraksi

Minggu, 7 Juni 2026 - 22:58

2 NAPI LAPAS Palangka Raya Dikirim ke Nusakambangan

Minggu, 7 Juni 2026 - 22:52

SAAT BERENANG, Bocah Jio Hilang Misterius di Sungai

Minggu, 7 Juni 2026 - 22:45

PRIA R NGAMUK Bacok Ibu dan Anak

Berita Terbaru

Aridiwi alias Diwi (36). ditemukan terbujur kakui tak bernyawa di dalam rumah Jalan A Yani 7 Kompleks Mahligai Permai Indah Jalur 12, Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Rabu (10/6/2026).  (SuarIndonesia/DO)

Kab. Banjar

SEORANG PRIA Ditemukan Terbujur Kaku Tak Bernyawa

Rabu, 10 Jun 2026 - 14:56

Ratusan CPNS dilantik menjadi PNS angkatan pertama OIKN. (Foto: Humas OIKN)

Kaltim

OIKN Lantik 555 PNS Angkatan Pertama

Selasa, 9 Jun 2026 - 21:30

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca