MENGAPA Gerakan Dayak Harus Bersatu

- Penulis

Kamis, 2 Juli 2026 - 18:26

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SuarIndonesia -Selama satu dekade terakhir, sebuah kebangkitan kebudayaan sedang bergemuruh di Kalimantan.

Dari balik rimbunnya hutan yang kian menipis, lahir gelombang baru gerakan Dayak. Ini bukan sekadar romantisasi budaya, ini adalah gerakan kelembagaan terorganisir.

Gerakan-gerakan ini nampaknya tumbuh sebagai perisai terakhir untuk melindungi identitas adat yang terancam punah dan merespons kehancuran lingkungan yang masif akibat eksploitasi tanpa ampun.

Namun, di balik riuhnya bendera organisasi yang berkibar, tersimpan paradoks yang rapuh, gerakan ini sedang berjalan ke arah yang berbeda-beda.

Walaupun begitu perjalanan ke empat penjuru mata angin, harus diapresiasi sebagai strategi kebudayaan yang sangat kuat pijakannya.

Fenomena problematika gerakan Dayak hari ini adalah sifatnya yang sporadis dan seperti tercerai-berai.

Di panggung politik lokal, para tokoh dan intelektual Dayak tersebar di berbagai faksi, mungkin tersekat dalam sekatan organisasi yang mereka dirikan sendiri.

Tidak ada satu visi besar yang mengikat. Akibatnya, potensi kekuatan kolektif yang seharusnya bisa mendikte kebijakan nasional justru tereduksi menjadi riak-riak kecil yang mudah diabaikan dan ringan untuk dipatahkan.

Polarisasi ini paling nampak terlihat dalam menyikapi gurita korporasi. Di satu sisi, kita melihat faksi gerakan yang teguh, menolak berkompromi, dan berdiri memasang badan demi sejengkal hutan adat.

Di sisi lain, kita menyaksikan pemandangan yang mungkin saja, sekali lagi mungkin sebagian kecil yang memilukan, melunak dan membuka pintu bagi korporasi yang merusak ruang hidup di tanah leluhur.

Jika tekanan ekonomi menjadi penyebab, maka penting sebuah Gerakan Dayak untuk memutus mata rantai problem ekonomi ini sehingga Dayak bisa bangkit sejahtera dan mandiri.

Ketika standar moral gerakan terbelah antara perlawanan dan akomodasi, maka legitimasi perjuangan sedang dipertaruhkan.

Orang Dayak yang terlanjur lahannya dijual kepada korporasi pun kemudian jika tidak mampu mengelola hasilnya, manajeman keuangan atas penjualan lahan yang kurang baik, pada akhirnya akan menjadikan mereka buruh di tanah sendiri.

Nampaknya sudah tiba waktunya untuk konsolidasi seluruh kekuatan gerakan sehingga dari titik itu menentukan arah Dayak hari ini dan masa depan, apakah tetap menjadi penonton di Benua sendiri atau bersinergi menuju kejayaan dan kesejahteraan bangsa Dayak.

Fragmentasi ini harus diakhiri, sudah saatnya segenap elemen Dayak melakukan konsolidasi total untuk melahirkan satu suara yang solid. Kepak sayap Enggang mesti lebih kuat dan berwibawa.

Baca Juga :   DISERBU WARGA Stan UMKM Gratis dan Pasar Murah, Kapolda Kalsel Pimpin Jalan Santai CFD

Momentum untuk penyatuan kekuatan ini tidak pernah se-urgensi sekarang. Indonesia sedang berhadapan dengan tekanan ekonomi global yang berat, diiringi oleh model pengelolaan negara yang semakin sentralistik, ang kerap kali menempatkan masyarakat Dayak hanya sebagai penonton pelataran rumah mereka.

Proyek-proyek megah datang silih berganti atas nama pertumbuhan ekonomi, namun yang tersisa diakar rumput sering kali hanyalah pengabaian.

Beberapa tulisan saya terkait pentingnya konsolidasi seluruh gerakan Dayak di Tanah Dayak.

Saya membagi gerakan Dayak itu pada lima tingkat.

  1. Gerakan politik, antara lain di wakili oleh ICDN 2, Gerakan Adat dan Budaya Dayak diwakili oleh Gawai Dayak, Aruh Dayak dan Isen Mulang Festival, Huma Hapakat Komunitas Seni dan Budaya
  2. Gerakan Literasi Dayak diwakili oleh Lembaga Literasi Dayak

  3. Gerakan Penyelamat Lingkungan diwakili oleh Kalawett

  4. Gerakan perlawanan hegemoni global dan penguatan Identitas Dayak diwakili oleh organisasi Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR), Sabang Merah Borneo (SMB) dan organ sejenis lainnya.

Konsolidasi gerakan ini bukanlah bentuk dari chauvinisme kesukuan yang sempit. Ini adalah mekanisme pertahanan hidup yang rasional.

Sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa pembangunan yang berjalan di atas ketimpangan sosial dan pengabaian hak pribumi adalah formula sempurna bagi lahirnya bencana.

Jika bangsa Dayak terus-menerus diposisikan sebagai korban dari ambisi pembangunan, Semakin menipisnya sumberdaya alam bisa saja mengguncang stabilitas sosial yang hari ini tampak tenang tetapi sesungguhnya sedang berdiri diatas rumah yang rapuh.

Pilihan bagi gerakan Dayak hari ini hanya dua berkonsolidasi sekarang atau hanya sekadar menjadi catatan kaki di tanah sendiri.

Penulis: Drs. H. Setia Budhi, M.Si., Ph.D
Dosen Senior FISIP ULM Banjarmasin
Ketua Lembaga Adat Bakumpai (Tepian Sungai Barito 1 Juli 2026)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

PENGGEREBEKAN NARKOBA, Satu Polisi Gugur dan Dua Lainnya Hilang
KRITIK HASIL RAPAT Komisi III DPRD Kalsel Kompensasi Bukan Solusi, Audit Dana dan Pertanggungjawaban Hukum PLN Harus Diutamakan
PADAM BERGILIR Sampai Akhir September, Begini Pernyataan GM PT PLN UID Kalselteng
ROSEHAN “Semprot” PLN, Desak Kepastian Akhir Pemadaman Bergilir
LOMBA BAGASING jadi Agenda Tahunan Lestarikan Warisan Budaya
POLEMIK PENGADAAN GEMBOK Ditjenpas, Komisi XIII DPR RI : Segera Buka Dokumen Pengadaan dan Kontrak
HARAPAN untuk Empat Calon Rektor ULM, Mampu Melampaui Peran sebagai Administrator Kampus dan Menjadi Pemimpin Transformasi
JEMBATAN Pulau Laut dan Mekar Putih Gerbang Logistik Kalimantan

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 22:09

KRITIK HASIL RAPAT Komisi III DPRD Kalsel Kompensasi Bukan Solusi, Audit Dana dan Pertanggungjawaban Hukum PLN Harus Diutamakan

Kamis, 2 Juli 2026 - 21:54

PADAM BERGILIR Sampai Akhir September, Begini Pernyataan GM PT PLN UID Kalselteng

Kamis, 2 Juli 2026 - 21:35

ROSEHAN “Semprot” PLN, Desak Kepastian Akhir Pemadaman Bergilir

Kamis, 2 Juli 2026 - 18:26

MENGAPA Gerakan Dayak Harus Bersatu

Kamis, 2 Juli 2026 - 13:28

POLEMIK PENGADAAN GEMBOK Ditjenpas, Komisi XIII DPR RI : Segera Buka Dokumen Pengadaan dan Kontrak

Rabu, 1 Juli 2026 - 23:28

HARAPAN untuk Empat Calon Rektor ULM, Mampu Melampaui Peran sebagai Administrator Kampus dan Menjadi Pemimpin Transformasi

Rabu, 1 Juli 2026 - 20:38

JEMBATAN Pulau Laut dan Mekar Putih Gerbang Logistik Kalimantan

Rabu, 1 Juli 2026 - 20:32

PEMBANGUNAN Stadion Taraf Internasional Penggerak Ekonomi

Berita Terbaru

(Foto Ilustrasi AI Gemini)

Hukum

KERJA Tak Digaji, Malah Disiksa hingga Trauma

Kamis, 2 Jul 2026 - 23:13

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca