KEBUDAYAAN Banjar dengan Ungkapan “Dipintarinya”

- Penulis

Sabtu, 10 Januari 2026 - 17:12

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ARIF sekali kebudayaan Banjar dengan ungkapan ini. Bahwa setiap orang pada dasarnya pintar.

Tidak ada satu pun yang bodoh atau pun dungu. Hanya saja, kepintaran itu bertingkat-tingkat. Seperti halnya lapisan langit, “di atas langit ada langit”.

Di atas seorang yang pintar, ada lagi yang lebih pintar. Pun terhadap yang dianggap paling pintar, yakinlah masih ada yang lebih pintar.

Kalau dalam kehidupan ini ada yang terpedaya dengan seseorang, bukan disebabkan karena dia bodoh, boleh jadi karena ada orang yang kepintarannya lebih tinggi, sehingga mampu memperdaya.

Terhadap tindakan yang memperdaya tersebut, kebudayaan Banjar menyebut “dipintarinya”.

Tidak dapat ditolak, dalam hidup ini sering kali berlaku hierarki dominasi. Yang besar memakan yang kecil, yang kuat memangsa yang lemah.

Dalam keseharian, praktiknya bisa dalam wujud “bullying” atau intimidasi. Semuanya berproses laksana seleksi alam.

Saling kalah mengalahkan, bergantung pada level mana kepintaran ditentukan. Dalam teori hierarki dominasi, penindasan akan terus terjadi, seiring pertarungan antar level kepintaran, dan yang paling rendah kepintarannya, selalu menjadi korban.

Dipintarinya, adalah satu bentuk kesadaran tentang diri yang kalah atau mengalah. Terkadang, tahu saja ada orang yang berlaku “memintari”, dengan tujuan untuk mendominasi.

Dan kesadaran itu menuntun untuk membiarkan hal tersebut terjadi, sebab “memintari” belum tentu berujung pada kemuliaan. Bukankah ada banyak bukti, akibat suka “memintari”, justru berlaku karma yang menimpa pada dirinya sendiri.

Pintar adalah anugerah dan karunia Tuhan, mestinya digunakan semaksimal mungkin untuk menolong, membantu, mengayomi, melindungi atau minimal memberikan pencerahan, agar “pintar” tersebut bisa menjadi penuntun jalan menuju kebenaran.

Sekarang ini, nampaknya hierarki dominasi sedang mabuk kepayang. Entah berupa penyimpangan kekuasaan, manipulasi kebijakan yang pongah, keserakahan atas ekspolitasi alam, ketimpangan dan ketidakadilan pembagian pendapatan, yang kesemuannya itu mestinya tidak harus terjadi, bila “pintar” digunakan secara tepat dan adil untuk membangun kesejahteraan bersama.

Ungkapan ini ingin memberitahu, pada dasarnya semua kebobrokan yang terjadi sekarang ini sangatlah dipahami, dimengerti, dan disadari, bahwa sesuatu sedang berjalan tidak sebagaimana mestinya.

Disebabkan banyaknya yang merasa pintar, kapipintaran, katuju memintari, dan karena semua pada akhirnya akan menuai akibatnya, biarlah dipintarinya.

(Oleh: Noorhalis Majid/Ambin Demokrasi)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

MENGAPA Gerakan Dayak Harus Bersatu
Memelihara Harapan, Catatan Hendry Ch Bangun
PEMERINTAH, Gaduh Oleh Ulah Sendiri
MELAYANI dengan Kearifan Lokal, Bertumbuh di Era Digital
PENGADAAN MOBIL Listrik yang “Menyengat” Warga Miskin
ANALISISI DAN PERSPEKTIF Keadilan dan Hak Asasi Manusia Kasus Pembunuhan Zahra Dilla
MOTIVASI “Anak Punai Rajawali”
ULAH SADAR Menuai Bencana

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 20:05

KOMJAK Pantau Langsung Penanganan Perkara Febrie

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:35

KONTROVERSI Pelibatan Babinsa dalam Mengawasi Kepatuhan Wajib Pajak Dikritik – ‘Bisa Menggerus Kepercayaan’

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:42

KPK: Bupati Lombok Barat LAZ dan Dua Orang jadi Tersangka Korupsi

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:29

PENGUMUMAN Hasil Seleksi SPMB SNT 3 Agustus 2026

Senin, 20 Juli 2026 - 21:08

KORUPSI Pembiayaan Batu Bara Rugikan Negara Rp38 Miliar

Sabtu, 18 Juli 2026 - 22:57

CERITA FOTO IKONIK Lionel Messi Memandikan Lamine Yamal saat Bayi

Kamis, 16 Juli 2026 - 14:56

DIPICU SUARA KNALPOT, Pedagang Gorengan Bunuh Seorang Pemuda di Hadapan Sang Istri

Rabu, 15 Juli 2026 - 21:32

KEJAGUNG Terbitkan Sprindik 3 Kasus Korupsi eks Jampidsus

Berita Terbaru

Ketua Komisi Kejaksaan RI Pujiyono Suwadi (kedua dari kanan) dan para komisioner Komisi Kejaksaan RI memantau langsung penanganan perkara dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dengan tersangka mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (22/7/2026). (Foto: HO-Komisi Kejaksaan RI)

Hukum

KOMJAK Pantau Langsung Penanganan Perkara Febrie

Rabu, 22 Jul 2026 - 20:05

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca