SuarIndonesia — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan mengoptimalkan helikopter water bombing dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), guna mempercepat pemadaman titik-titik api yang sulit dijangkau oleh tim darat.
Kepala BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra mengatakan, operasi ini dilaksanakan bersamaan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sekaligus untuk mempercepat pemadaman titik-titik api yang sulit dijangkau.
“Operasi udara menjadi bagian penting dalam strategi penanganan karhutla, terutama untuk lokasi yang memiliki akses terbatas,” katanya di Banjarbaru, Rabu (22/7/2026).
Menurut dia, operasi udara sudah dilaksanakan bersamaan dengan Operasi Modifikasi Cuaca. Saat tim darat menemukan titik api yang tidak dapat dijangkau, maka operasi udara melalui helikopter water bombing langsung dikerahkan untuk memadamkan api di lokasi tersebut.
Ronny menjelaskan, saat ini BPBD Kalsel mendapat dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berupa tiga unit helikopter water bombing serta satu unit helikopter patroli udara.
Armada tersebut dimanfaatkan untuk mempercepat respons terhadap kejadian karhutla di berbagai wilayah di Banua.
“Alhamdulillah, beberapa titik api yang sulit dijangkau oleh tim darat berhasil dipadamkan melalui operasi helikopter water bombing yang merupakan bantuan dari BNPB,” katanya.
Ia menambahkan, operasional helikopter akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan. Dukungan udara tersebut direncanakan berlangsung selama masa penetapan status siaga darurat karhutla hingga 31 Oktober 2026.
“Kita menetapkan status sampai dengan 31 Oktober. Harapan kami sebelum tanggal tersebut kondisi sudah terkendali sehingga helikopter water bombing tidak lagi diperlukan karena seluruh titik api telah berhasil dipadamkan,” kata Ronny.
Untuk memperkuat upaya penanganan karhutla, BPBD Kalsel juga berencana menambah satu unit helikopter water bombing.
Penambahan helikopter ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan penanggulangan kebakaran di wilayah-wilayah yang sulit diakses.
“Ada rencana penambahan satu unit helikopter water bombing lagi untuk memperkuat penanganan karhutla, khususnya di daerah-daerah yang tidak dapat dijangkau melalui jalur darat,” ujarnya.
Ronny menegaskan, prioritas utama penanganan saat ini difokuskan pada Zona 1, yakni kawasan sekitar Bandara Internasional Syamsudin Noor.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah asap akibat karhutla mengganggu aktivitas penerbangan.
“Prioritas utama kita adalah Zona 1, yaitu kawasan sekitar bandara. Kami berupaya menghindari adanya gangguan terhadap penerbangan akibat kebakaran hutan dan lahan,” kata Ronny.
Melalui sinergi operasi darat, operasi udara, serta dukungan Operasi Modifikasi Cuaca, BPBD Provinsi Kalimantan Selatan berharap penanganan karhutla dapat berlangsung lebih efektif sehingga dampak kebakaran terhadap masyarakat, lingkungan, dan transportasi udara dapat diminimalkan.
Tunggu rekomendasi BMKG perpanjang OMC tangani karhutla
Sementara itu, dilansir dari Antara, BPBD Kalsel menunggu rekomendasi BMKG terkait perpanjangan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sebagai salah satu upaya untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah itu.

Kepala BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra mengatakan OMC telah berjalan sesuai rencana mulai 15 hingga 21 Juli 2026, namun keputusan untuk memperpanjang atau menghentikan kegiatan masih menunggu hasil evaluasi teknis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“OMC sudah dilaksanakan sejak 15 Juli sesuai jadwal selama tujuh hari hingga 21 Juli. Namun, saat ini kami masih menunggu saran dan masukan dari rekan-rekan BMKG apakah operasi ini masih memungkinkan untuk dilanjutkan atau dihentikan,” ujarnya di Banjarbaru, Rabu (22/7/2026).
Menurut dia, rekomendasi tersebut akan mempertimbangkan kondisi atmosfer dan potensi sebaran awan di wilayah Kalimantan Selatan. Hasil evaluasi diperkirakan diterima pada siang atau sore hari.
“Kami menunggu informasi dari BMKG terkait status OMC, apakah diperpanjang atau dihentikan, mengingat potensi sebaran awan di Kalimantan Selatan menjadi salah satu faktor utama dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca,” katanya.
“Alhamdulillah, selama tujuh hari pelaksanaan OMC telah beberapa kali terjadi hujan dengan intensitas sedang. Hujan tersebut mampu menurunkan suhu udara secara cukup signifikan di Kalimantan Selatan dan turut membantu memadamkan sejumlah titik api,” ujarnya. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















