ISU Penyelundupan jadi Alasan Mendesak Pemekaran Wilayah

- Penulis

Jumat, 11 Juli 2025 - 20:09

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Praktisi Politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura (FISIP Untan), Dr Erdi. (ANTARA/Rendra Oxtora)

Praktisi Politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura (FISIP Untan), Dr Erdi. (ANTARA/Rendra Oxtora)

SuarIndonesia — Praktisi Politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura (FISIP Untan), Dr Erdi meminta pemerintah pusat untuk bisa segera mempertimbangkan kembali pembukaan moratorium pemekaran daerah agar Provinsi Kapuas Raya bisa segera dibentuk dari Kalimantan Barat.

“Isu krusial di wilayah perbatasan Kalimantan Barat, mulai dari minimnya pelayanan publik, maraknya penyelundupan narkotika, hingga perdagangan manusia, dinilai dapat menjadi alasan kuat bagi pemerintah pusat untuk mempertimbangkan kembali pembukaan moratorium pemekaran daerah,” kata Erdi di Pontianak, Jumat (11/7/2025).

Menurut Erdi, langkah Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat yang memasukkan agenda pemekaran Provinsi Kapuas Raya ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029 merupakan penanda kuat atas keseriusan Pemprov dalam memperjuangkan terbentuknya provinsi baru di wilayah timur Kalbar tersebut.

“Ketika isu pemekaran Kapuas Raya masuk dalam RPJMD, maka itu bukan lagi sekadar wacana. Ini sudah menjadi prioritas. Dan dalam konteks moratorium yang saat ini masih diberlakukan oleh pemerintah pusat, pendekatan berbasis isu strategis seperti masalah kawasan perbatasan, penyelundupan narkotika dan manusia bisa menjadi pintu masuk yang meyakinkan,” tutur Erdi dilansir dari ANTARANews.

Ia menyebutkan wilayah yang dirancang menjadi Provinsi Kapuas Raya seperti Kapuas Hulu, Sintang, Melawi, Sekadau, dan Sanggau merupakan daerah dengan bentang perbatasan langsung terhadap negara tetangga Malaysia. Kondisi ini, jika tidak diimbangi dengan tata kelola wilayah dan pengawasan yang kuat, sangat rentan terhadap kejahatan lintas negara.

“Masalah seperti penyelundupan narkoba dan manusia sudah lama menghantui kawasan perbatasan. Maka dengan membentuk Provinsi Kapuas Raya, ada potensi besar bagi pemerintah daerah baru untuk fokus mengelola perbatasan dengan pendekatan yang lebih efektif dan kontekstual,” katanya.

Baca Juga :   DPRD KALSEL Konsultasikan RPJMD 2025–2029 ke Bina Bangda

Menurut Erdi, wacana pemekaran Kapuas Raya sebenarnya telah muncul sejak lebih dari 15 tahun lalu, bahkan telah dikaji dalam Buku Desain Penataan Daerah Kalbar 2012–2025.

Dalam dokumen tersebut, kata dia, Kalbar direkomendasikan untuk dimekarkan menjadi tiga provinsi. Namun, untuk saat ini, pemekaran menjadi dua provinsi Kalbar dan Kapuas Raya dinilai cukup realistis dan mendesak.

“Selain pelayanan publik yang masih belum merata, pemekaran Kapuas Raya akan memperpendek rentang kendali birokrasi dan membuka peluang akselerasi pembangunan yang lebih adil dan merata di wilayah timur Kalbar,” katanya.

Erdi juga optimistis bahwa Gubernur Kalbar Ria Norsan dan Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan memiliki kapasitas politik dan strategi yang cukup untuk membuka komunikasi ke tingkat pusat, terutama dengan mengedepankan urgensi keamanan dan kedaulatan wilayah perbatasan.

“Jika Papua bisa mendapat lima provinsi baru karena alasan kedekatan budaya dan keamanan wilayah, maka Kalimantan Barat, yang secara geografis berbatasan langsung dengan negara asing dan memiliki sejarah panjang penyelundupan, juga layak mendapat perhatian yang sama dari pemerintah pusat,” katanya.

Dengan situasi tersebut, Erdi berharap pemerintah pusat dapat mengevaluasi kembali kebijakan moratorium pemekaran wilayah dan membuka peluang bagi Kalbar untuk memekarkan Provinsi Kapuas Raya sebagai solusi nyata dalam mengatasi persoalan perbatasan dan memperkuat ketahanan wilayah. (*/ut)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

PEKAN DEPAN Finalisasi Perpres Ojol Rampung
NANIK S Deyang Diminta jadi Dewan Pengawas BGN
SUDARYONO Dilantik sebagai Kepala BGN Gantikan Nanik
DUKUNG Program Presiden: KSP Pangkas Birokrasi Berbelit
SEPANJANG 2026 Karhutla Kalbar Terluas di Indonesia
HARGA BBM Terbaru di Kalimantan Per 12 Juli 2026
PRESIDEN PRABOWO: ‘Banyak Patriot, Banyak Juga Bajingan’
PRESIDEN Prabowo: Kepala Daerah Diminta Awasi Dapur MBG

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 21:08

SH, Nenek 70 Tahun Diduga Edarkan Sabu

Jumat, 24 Juli 2026 - 20:37

POLRI: Bhabinkamtibmas tidak Berwenang Pungut Pajak

Jumat, 24 Juli 2026 - 20:29

KUNTADI Dilantik jadi Jampidsus

Jumat, 24 Juli 2026 - 18:36

DPRD KALSEL Dorong Program Rumah Layak Huni, Ribuan Unit BSPS Disiapkan 2026

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:34

BUKA SUARA ! Pelapor Babe Aldo Merasa Terzalimi hingga Ranah Pribadi dan Apresiasi Polda Kalsel

Kamis, 23 Juli 2026 - 23:03

PEKAN DEPAN Finalisasi Perpres Ojol Rampung

Kamis, 23 Juli 2026 - 22:56

NANIK S Deyang Diminta jadi Dewan Pengawas BGN

Kamis, 23 Juli 2026 - 22:31

DIUSULKAN Kewarganegaraan Ganda Terbatas bagi Talenta

Berita Terbaru

Kab. Banjar

KOBARAN API Ludeskan Delapan Rumah, Empat Warga Terluka

Sabtu, 25 Jul 2026 - 21:52

Kalsel

DIRESMIKAN Pos Bakamla Zona Tengah Banjarmasin

Sabtu, 25 Jul 2026 - 16:38

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca