SuarIndonesia — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat memprioritaskan perlindungan orang utan beserta habitatnya di tengah, meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.
“Upaya perlindungan dan pelestarian orang utan beserta habitatnya menjadi salah satu prioritas BKSDA Kalimantan Barat. Untuk memastikan keselamatan satwa dilindungi dari dampak puncak musim kemarau dan potensi gangguan habitat, petugas di lapangan terus melakukan pemadaman di area kebakaran hutan dan lahan,” kata Kepala Subbagian Tata Usaha BKSDA Kalimantan Barat, Imam Setyo Hartanto di Pontianak, Selasa (1/9/2026).
Ia mengatakan BKSDA Kalbar menyiapkan langkah penyelamatan dan translokasi terhadap orang utan yang terdampak maupun terancam akibat kebakaran hutan dan lahan.
Menurut dia, karhutla tidak hanya berdampak terhadap kerusakan tutupan hutan, tetapi juga mengancam keselamatan satwa liar serta mempersempit ruang jelajah dan sumber pakan orang utan.
BKSDA Kalbar sebelumnya juga melakukan penyelamatan orang utan dari kawasan terdampak kebakaran di Kabupaten Ketapang sebagai bagian dari mitigasi ancaman karhutla terhadap satwa dilindungi. Kebakaran dan fragmentasi habitat dinilai dapat mendorong orang utan keluar dari kawasan hutan dan meningkatkan potensi konflik dengan manusia.
Imam mengatakan penanganan ancaman terhadap orang utan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri sehingga diperlukan keterlibatan masyarakat adat, komunitas lokal, akademisi, dunia usaha, dan organisasi masyarakat sipil.
“Konservasi orang utan di tengah ancaman degradasi habitat dan bencana kebakaran hutan dan lahan perlu melibatkan dukungan dari berbagai pihak. Peningkatan kapasitas masyarakat adat dan komunitas lokal juga menjadi fondasi bagi keberhasilan rencana konservasi dan pengelolaan kawasan secara berkelanjutan,” kata Imam, melansir dari Antara.
Menurutnya, Kalimantan Barat merupakan salah satu wilayah penting bagi konservasi orang utan karena menjadi habitat dua subspesies, yakni Pongo pygmaeus wurmbii dan Pongo pygmaeus pygmaeus.
Di Kabupaten Kapuas Hulu, populasi Pongo pygmaeus pygmaeus atau yang dikenal masyarakat Dayak setempat sebagai “Mayas” tersebar di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, Taman Nasional Betung Kerihun, Koridor Labian-Leboyan, hingga bentang alam yang terhubung dengan Batang Ai-Lanjak Entimau di Sarawak, Malaysia.
Berdasarkan dokumen Analisis Kelangsungan Hidup Habitat dan Populasi (Population and Habitat Viability Analysis/PHVA) Orangutan 2016, populasi Pongo pygmaeus pygmaeus, diperkirakan hanya tersisa sekitar 4.520 individu, dengan sekitar 2.470 individu dilaporkan berada di Kabupaten Kapuas Hulu.
Akademisi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Untan Riyandi mengatakan orang utan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, karena merupakan salah satu spesies payung (umbrella species) yang membutuhkan wilayah jelajah dan habitat luas.
Sementara itu, BKSDA Kalbar bersama pemerintah daerah, akademisi dan sejumlah lembaga konservasi terus mendorong penguatan perlindungan kawasan penting, termasuk Koridor Labian-Leboyan yang menjadi jalur penghubung habitat orang utan di antara Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum.
Upaya perlindungan habitat dan pengendalian karhutla dinilai harus berjalan bersamaan, karena kebakaran hutan dapat mengancam keberadaan satwa liar, merusak sumber pakan, serta meningkatkan tekanan terhadap populasi orang utan yang telah mengalami penurunan akibat degradasi dan fragmentasi habitat. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















