SuarIndonesia– Dinas Tanaman Pangan dan Hortilultura (TPH) Kalsel menggunakan metodologi Sistem Informasi Tanaman Pangan (SIMTP) untuk penghitungan produksi gabah kering giling (GKG).
Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) sejak tahun 2018 menggunakan metodelogi baru yaitu Kerangka Sampel Area (KSA).
Data yang digunakan dua institusi ini beda sejak 2018 karena perbedaan basis data yang digunakan.
Metodologi SIMTP mengambil data dari survei manteri tani secara riil di lapangan per kecamatan dengan total luas baku sawah (LBS) di Kalsel 548.369,5 hektare.
Sedangkan BPS mengambil data menggunakan metodelogi kerangka sampel area (KSA) yang sudah dipetakan secara resmi oleh Kementerian ATR BPN dengan total LBS hanya 291.145,20 hektare.
“Terdapat sisa LBS seluas 257.224 hektare yang secara riil masuk luas panen namun tak dihitung, karena Kementerian ATR/BPN masih belum selesai memetakan LBS secara keseluruhan di Kalsel. 257.000 hektare itu tidak diperhitungkan lalu sekarang jadi tanggung jawab siapa, perhitungan hasil panen dari petani?” kata
Kepala Dinas TPH Kalsel, Syamsir Rahman, baru baru tadi.
Akibat metode berbeda maka input data juga berbeda. Data Dinas TPH menunjukkan produksi GKG Kalsel tahun 2020 sekitar 2 juta ton sementara BPS merilis hanya 1,1 juta ton.
Dijelaskan Syamsir, pada tahun 2016 – 2017 metode perhitungan produksi gabah yang digunakan antara Pemprov Kalsel dan BPS sama – sama menggunakan SIMTP. Kemudian sejak tahun 2018 hingga 2020, BPS menggunakan perhitungan KSA.
“BPS mempersilahkan dan mengamini Dinas TPH tetap melanjutkan perhitungan dengan SIMTP, karena BPS juga tahu masih ada sebanyak 257.000 hektar LBS (luas baku sawah yang belum dimasukkan oleh Kemterian ATR BPN sebagai dasar perhitungan KSA,” jelas Syamsir.
Pada tahun 2020 ini Kalsel juga melampaui target produksi gabah yang ditetapkan Kementan RI sebanyak 1,7 juta ton.
“Kita berhasil produksi 2 juta ton walaupun saat pandemi, itu artinya kita kelebihan 300 ribu ton gabah dari target yang ditetapkan menteri,” pungkas Syamsir.
Pada debat pamungkas atau ketiga antara Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalsel, terjadi perbedaan data produksi GKG). Pasangan petahanan, H Sahbirin Noor dan H Muhidin (BirinMu) membeberkan surplus beras di Kalsel, namun diragukan oleh pasangan Denny Indrayana-Difriadi (H2H) mengacu pada data (BPS).(RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















