REGENERASI Bahasa Ibu jadi Tantangan Pelestarian Budaya di Kaltim

- Penulis

Jumat, 18 April 2025 - 19:35

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Atraksi budaya Dayak masyarakat di Kelurahan Pampang, Samarinda, Kaltim. (Foto: ANTARA/Ahmad Rifandi)

Atraksi budaya Dayak masyarakat di Kelurahan Pampang, Samarinda, Kaltim. (Foto: ANTARA/Ahmad Rifandi)

SuarIndonesia — Ketua Harian Dewan Kesenian Kalimantan Timur Hamdani mengungkapkan tantangan dalam pelestarian budaya di provinsi itu adalah regenerasi bahasa ibu.

“Sejumlah bahasa daerah dari berbagai sub-etnis Dayak di Kaltim terancam punah atau bahkan sudah punah akibat minimnya penutur dan generasi muda yang tidak lagi menggunakan bahasa warisan leluhur mereka dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya di Samarinda, Jumat (18/4/2025.

Hamdani menjelaskan Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur telah menginventarisasi bahasa daerah yang nyaris punah dan yang sudah punah, dan sebagian besar berasal dari berbagai sub-etnis Dayak.

Keragaman sub-etnis Dayak yang cukup banyak, seperti sub dari Dayak Punan, Dayak Basap, Kenyah, Bahau, dan lainnya, semakin memperumit situasi ini. Bahasa dari sub-sub etnis inilah yang paling rentan mengalami kepunahan.

Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah kurangnya penutur aktif. Generasi penerus penutur yang telah meninggal dunia banyak yang tidak lagi mewarisi dan menggunakan bahasa ibu mereka.

Selain itu, perbedaan kosakata dan makna antarbahasa sub-etnis Dayak juga menjadi kendala dalam komunikasi lintas kelompok. Meskipun terdengar mirip, seringkali terjadi kesalahpahaman.

“Akibatnya, ketika bertemu dalam acara masyarakat Dayak dari berbagai sub-etnis cenderung memilih menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Hamdani menyoroti bahwa bahasa merupakan salah satu dari sepuluh objek pemajuan kebudayaan. Selain bahasa, objek lain yang juga menghadapi ancaman kepunahan di Kaltim adalah manuskrip atau catatan-catatan sejarah masa lalu.

Baca Juga :   PEMERINTAH Wajibkan 343 Kabupaten/Kota Serius Kelola Sampah

Menurutnya, catatan-catatan penting itu hampir tidak ditemukan lagi, bahkan di beberapa daerah sama sekali tidak ada.

“Salah satu faktor penyebabnya adalah suku-suku di Kalimantan Timur ini secara tradisional tidak memperhatikan aksara. Ini menjadi kelemahan besar dalam mendokumentasikan bahasa daerah dan tulisan-tulisan masa lalu,” tutur Hamdani dilansir dari AntaraNewsKaltim.

Menyadari beratnya tantangan ini, Dewan Kesenian Kaltim memiliki peran dalam upaya pelestarian budaya, termasuk pendokumentasian dan pengarsipan.

Hamdani mencontohkan penerbitan buku dari pihaknya pada tahun 2022 yang membahas berbagai aspek kebudayaan Kalimantan Timur, tidak hanya kesenian. Langkah tersebut merupakan salah satu upaya untuk merekam dan menyebarkan informasi mengenai kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas, termasuk generasi muda.

Dewan Kesenian Kaltim menyadari bahwa pelestarian bahasa ibu dan warisan budaya lainnya memerlukan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, dan partisipasi aktif dari masyarakat itu sendiri.

Hamdani menambahkan bahwa upaya revitalisasi bahasa daerah, peningkatan kesadaran akan pentingnya warisan budaya, dan pendokumentasian yang sistematis menjadi kunci untuk mencegah kepunahan dan memastikan kekayaan budaya Kaltim tetap lestari hingga generasi mendatang. (*/ut)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

KASUS Eks Bupati Kukar Berlanjut, Pejabat Kemenkeu Dipanggil KPK Jadi Saksi
PEMBANGUNAN IKN Diarahkan ke Sembilan Wilayah Perencanaan
AKP DEKY Diperiksa dan Resmi Dipecat! Diduga Jadi Beking-Terima Dana dari Jaringan Narkoba
AKP BONAR Terancam Dipecat! Terlibat Jaringan Peredaran Narkotika
OIKN Berikan Payung Hukum Masyarakat Adat Jaga Kearifan Lokal IKN
OIKN Ambil Langkah Tegas Penegakan Hukum Pengrusakan Hutan
PEGUNUNGAN Liangpran, Satu Puncak Tertinggi di Kalimantan
SANGKULIRANG-MANGKALIHAT Dipersiapkan jadi Geopark Dunia

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 23:16

KASUS Eks Bupati Kukar Berlanjut, Pejabat Kemenkeu Dipanggil KPK Jadi Saksi

Senin, 25 Mei 2026 - 23:09

DUA GADIS Asal Medan Diamankan, Diduga akan Dijual ke China

Senin, 25 Mei 2026 - 23:02

KASUS K3: JPU Tuntut Eks Wamenaker Noel 5 Tahun Penjara

Senin, 25 Mei 2026 - 22:48

DUA IKON Daerah di Kalteng Ditetapkan jadi Kawasan Berbasis KI

Senin, 25 Mei 2026 - 14:44

AKSI SADIS Seorang Paman Habisi Bocah Ponakannya hingga Bacok Ibu Korban dan Warga

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:50

LAHAN JADI TAMBANG, Warga Adat Barut Ajukan Banding ke PTUN-MA

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:42

PECATAN Polisi Bawa Kabur Mobil

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:33

3 PROVINSI di Kalimantan Rawan Karhutla

Berita Terbaru

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto (tengah) dan Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Panitia SNPMB Tahun 2026 Eduart Wolok (kiri) dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (25/5/2026). (Foto: Antara/Sean Filo M)

Headline

SNBT 2026: 256.369 Peserta Lulus

Selasa, 26 Mei 2026 - 00:28

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca