ISA Almasih Resmi jadi Yesus Kristus, Namanya Dibuktikan Arkeologis!

- Penulis

Rabu, 31 Januari 2024 - 21:20

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prosesi ibadah malam Natal Kristen Ortodoks di Gereja Ortodoks Rusia St Thomas, Jaksel, Sabtu (6/1/2024). Aspirasi umat Kristen memicu perubahan nama hari libur nasional terkait Yesus. [CNNIndonesia/Adi Maulana I]

Prosesi ibadah malam Natal Kristen Ortodoks di Gereja Ortodoks Rusia St Thomas, Jaksel, Sabtu (6/1/2024). Aspirasi umat Kristen memicu perubahan nama hari libur nasional terkait Yesus. [CNNIndonesia/Adi Maulana I]

SuarIndonesia — Nama Yesus Kristus dan Isa Almasih yang merupakan sosok yang sama tercantum dalam sejumlah catatan sejarah di luar ayat-ayat kitab suci meski diakui belum begitu lengkap.

Dua pilihan nama itu kembali mengemuka usai Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi meneken Keputusan Presiden nomor 8 tahun 2024 tentang Hari-hari Libur pada Senin (29/1/2024).

Keppres itu salah satunya mengakomodasi perubahan nomenklatur Isa Almasih menjadi Yesus Kristus.

Imbasnya, ada empat perubahan penyebutan dalam kalender nasional; Hari Kelahiran Yesus Kristus; Wafat Yesus Kristus; Kebangkitan Yesus Kristus atau Paskah; dan Kenaikan Yesus Kristus.

Wakil Menteri Agama Saiful Rahmat Dasuki menyebut usulan tersebut merupakan aspirasi dari umat Kristen dan Katolik.

“Indonesia terlahir dari keberagaman. Indonesia terlahir dari berbagai macam suku bangsa dan agama. Ini adalah karunia Tuhan yang terbesar, ini adalah nikmat yang terbesar karena dari perbedaan itulah kita sadar bahwa kita memang telahir berbeda dan tercipta untuk bersama-sama,” ujar dia, Desember lalu.

Bagaimana posisinya dalam sejarah masa lampau alias arkeologi?

Yesus Kristus di agama Kristen merupakan pokok utama keimanan agama; Tuhan, Anak Allah, hingga Juru Selamat.

Walau demikian, masih banyak pro dan kontra mengenai sosok Yesus Kristus. Sebuah survei 2015 yang dilakukan oleh Gereja Inggris, misalnya, menemukan 22 persen orang dewasa di Inggris tidak mempercayai bahwa Yesus adalah sosok nyata.

Para arkeolog pun bertahun-tahun menggali bukti keberadaan Yesus. Masalahnya, tidak ada bukti fisik atau arkeologis yang pasti tentang keberadaan Yesus.

“Tidak ada yang konklusif, dan saya juga tidak berharap akan ada,” aku Lawrence Mykytiuk, profesor ilmu perpustakaan di Purdue University dan penulis artikel Biblical Archaeology, melansir The History.

Bart D. Ehrman, profesor studi agama dari Universitas North Carolina, mengungkap sampai saat ini tidak ada catatan arkeologi untuk hampir semua orang yang hidup pada masa Yesus berada.

Namun, kurangnya bukti tidak berarti bahwa sosok Yesus tidak pernah ada.

“Kurangnya bukti tidak berarti seseorang pada saat itu tidak ada. Itu berarti bahwa dia, seperti 99,99 persen orang lain di dunia pada saat itu, tidak memberikan dampak pada catatan arkeologi,” jelas Ehrman.

Catatan bias
Catatan paling rinci tentang kehidupan dan kematian Yesus berasal dari empat Injil dan tulisan-tulisan Perjanjian Baru lainnya.

“Semua buku-buku ini ditulis oleh orang Kristen dan jelas-jelas memiliki bias dalam apa yang mereka laporkan, dan harus dievaluasi dengan sangat kritis untuk mendapatkan informasi yang bisa diandalkan secara historis,” tutur Ehrman.

“Namun, klaim utama mereka tentang Yesus sebagai tokoh sejarah–seorang Yahudi, dengan pengikut, yang dieksekusi atas perintah gubernur Romawi di Yudea, Pontius Pilatus, pada masa pemerintahan Kaisar Tiberius — didukung oleh sumber-sumber yang muncul belakangan dengan bias yang sama sekali berbeda.”

Dalam beberapa dekade setelah masa hidupnya, Yesus disebut-sebut oleh sejarawan Yahudi dan Romawi dalam ayat-ayat yang menguatkan bagian-bagian Perjanjian Baru yang menggambarkan kehidupan dan kematian Yesus.

Sejarawan Flavius Yosefus menulis salah satu catatan non-Alkitab yang paling awal tentang Yesus. Ehrman mengatakan Flavius merupakan sejarawan Yahudi abad pertama.

Ia mengungkap Yosefus sejauh ini merupakan sumber informasi terbaik tentang Palestina abad pertama dan dua kali menyebut Yesus dalam Jewish Antiquities, buku besar sejarah bangsa Yahudi sebanyak 20 jilid yang ditulis sekitar tahun 93 Masehi.

Yosefus diperkirakan lahir beberapa tahun setelah penyaliban Yesus sekitar tahun 37 M.

Ia adalah seorang bangsawan dan pemimpin militer, serta memiliki koneksi yang baik di Palestina yang menjabat sebagai komandan di Galilea pada masa Pemberontakan Yahudi pertama melawan Roma antara tahun 66 dan 70 M.

Meski Yosefus bukan pengikut Yesus, Mykytiuk mengatakan, “dia ada di sana saat gereja mulai berdiri, sehingga dia mengenal orang-orang yang pernah melihat dan mendengar tentang Yesus.”

Dalam satu bagian dari Jewish Antiquities menceritakan mengenai eksekusi Yakobus, saudara Yesus.

Baca Juga :   TERCATAT 29 Titik di Kawasan Handil Bakti, Kabel Fiber Optik Semrawut

Menurut Mykytiuk, beberapa ahli meragukan keaslian catatan pendek tersebut. Namun, lebih banyak perdebatan seputar catatan Yosefus yang lebih panjang tentang Yesus yang dikenal sebagai ‘Testimonium Flavianum‘.

Catatan tersebut menggambarkan seorang pria “yang melakukan perbuatan yang mengejutkan” dan dihukum disalib oleh Pilatus.

Mykytiuk sepakat dengan sebagian besar ahli bahwa para penulis Kristen memodifikasi beberapa bagian dari ayat tersebut, tetapi tidak memasukkannya secara keseluruhan ke dalam teks.

Para arkeolog mengekskavasi makam Salome yang dikatakan sebagai perawat bayi Yesus. Makam Salome berada di sebelah barat daya kota Yerusalem, Israel. [REUTERS/Ammar Awad]
Penyaliban Hingga Prasasti dari Arab
Catatan lain tentang Yesus muncul dalam Annals of Imperial Rome, sejarah abad pertama Kekaisaran Romawi yang ditulis sekitar tahun 116 Masehi oleh senator dan sejarawan Romawi Tacitus.

Dalam catatannya tentang pembakaran kota Roma pada tahun 64 M, Tacitus mengungkap Kaisar Nero secara keliru menyalahkan “orang-orang yang biasa disebut orang Kristen, yang dibenci karena kebesaran mereka.”

“Christus, nama pendiri tersebut, dihukum mati oleh Pontius Pilatus, prokurator Yudea pada masa pemerintahan Tiberius.”

Ehrman mengatakan, sebagai seorang sejarawan Romawi, Tacitus tidak memiliki bias Kristen dalam diskusinya mengenai penganiayaan terhadap orang-orang Kristen oleh Nero.

“Hampir semua yang dikatakannya sama persis – dari sudut pandang yang sama sekali berbeda, dari seorang penulis Romawi yang meremehkan orang Kristen dan takhayul mereka – dengan apa yang dikatakan oleh Perjanjian Baru itu sendiri,” ujar dia.

Bahwa, katanya, “Yesus dieksekusi oleh gubernur Yudea, Pontius Pilatus, atas kejahatan terhadap negara, dan sebuah gerakan religius dari para pengikutnya bermunculan setelah kematiannya.”

Myktiuk mengatakan Tacitus, jika menganggap informasi itu tidak sepenuhnya dapat diandalkan, biasanya menulis beberapa indikasi tentang hal itu untuk para pembacanya. Namun, dia menjamin nilai historis dari bagian tersebut.

“Tidak ada indikasi potensi kesalahan seperti itu dalam bagian yang menyebutkan Christus,” ujarnya.

Tak lama sebelum Tacitus menulis catatannya tentang Yesus, gubernur Romawi Pliny the Younger menulis kepada Kaisar Trajan bahwa orang-orang Kristen mula-mula “menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Kristus seperti kepada dewa.”

Beberapa ahli juga percaya bahwa sejarawan Romawi, Suetonius, merujuk kepada Yesus dengan mencatat bahwa Kaisar Claudius telah mengusir orang-orang Yahudi dari Roma yang “terus menerus membuat kekacauan atas hasutan Chrestus.”

Ehrman mengatakan bahwa kumpulan cuplikan dari sumber-sumber non-Kristen ini mungkin tidak memberikan banyak informasi tentang kehidupan Yesus.

“Tetapi berguna untuk menyadari bahwa Yesus dikenal oleh para sejarawan yang memiliki alasan untuk mencari tahu tentang hal tersebut. Tidak ada yang mengira bahwa dia hanya rekaan.”

Di makam ini pula, para arkeolog menemukan prasasti bertuliskan huruf Arab dan lampu minyak yang memiliki dekorasi. Arkeolog menduga, makam ini sudah diziarahi sejak lama oleh umat Kristiani. [REUTERS/Ammar Awad]
Prasasti dari Arab
Berabad-abad sebelum kemunculan Islam, beberapa suku di Arab kuno diduga menganut agama Kristen.

Kedatangan agama Kristen di jazirah ini diketahui melalui sumber-sumber literatur yang ditulis oleh orang luar, seperti ahli Alkitab dan penerjemah terkenal St. Jerome.

Ahmad Al-Jallad, profesor bahasa Arab di Ohio State University, dalam tulisannya di Biblical Archaeology Review, mengugkap ratusan prasasti kuno yang dicatat oleh para pengembara yang menjelajahi wilayah ini hampir dua ribu tahun lalu.

Salah satunya mendokumentasikan masuknya agama Kristen di Arab. Kemungkinan berasal dari abad keempat, prasasti ini menyebut nama Yesus — dengan nama yang sama dengan nama Yesus yang ada di dalam Al-Quran; Isa.

Al-Jallad mengungkap itu ada pada prasasti Yesus dari Wadi al-Khudari. Peninggalan ini merupakan prasasti peringatan, yang berarti memperingati orang yang sudah meninggal.

Prasasti ini terdiri dari tiga bagian. Pertama, prasasti ini memberikan nama dan silsilah si pembuat prasasti (Wahb-El).

Kedua, menambahkan peringatan tentang pamannya yang telah meninggal, dan akhirnya diakhiri dengan sebuah doa religius yang unik; Isa, yang sesuai dengan nama yang diberikan kepada Yesus dalam Al-Quran: “Wahai Isa, tolonglah dia terhadap orang-orang yang mendustakanmu.”

Tidak diragukan lagi, kata Al-Jallad, penulisnya adalah seorang Kristen. [*/UT]

*) CNNIndonesia.com

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

KOMDIGI Larang Anak di Bawah 16 Tahun Miliki Akun Medsos
BANK INDONESIA “Kick-Off” Festival ANTASARI 2026, Targetkan Kalsel jadi Pusat Ekonomi Digital
KEMKOMDIGI Siapkan Registrasi SIM Biometrik
SEORANG SISWI SMA di Banjar Diancam- Diperas Modus Konten Asusila di Instagram, Pelaku Diburu Ditreskrimsus Polda Kalsel
ANUGERAH KETERBUKAAN Informasi 2025, Pemprov Kalsel Tegaskan Komitmen Transparansi
DISLUTKAN KALSEL Raih Penghargaan Kategori Informatif pada Anugerah Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2025
BALANGAN Kembali Raih Predikat Kabupaten Terinovatif IGA 2025 dengan IID Tertinggi Nasional
DISKOMINFO Kalsel Dorong Pemenuhan Data Dukung SPBE 2026

Berita Terkait

Jumat, 10 April 2026 - 23:21

PRESIDEN PRABOWO: Halangi Satgas PKH Berarti Hambat Presiden

Jumat, 10 April 2026 - 23:09

SEMBILAN Anggota Ombudsman Dilantik

Jumat, 10 April 2026 - 22:40

KOLABORASI OIKN-IPB Hasilkan Panen Padi Gogo 20 Hektare di Nusantara

Jumat, 10 April 2026 - 22:35

PENAMPAKAN TUMPUKAN UANG 371 Triliun Hasil Satgas PKH

Kamis, 9 April 2026 - 23:26

DIKUKUHKAN GELAR DOKTER pada Kapolda Kalsel dan Istri bersama Ribuan Wisuda ULM

Kamis, 9 April 2026 - 22:01

KASUS KORUPSI PETRAL: Kejagung Tetapkan 7 Tersangka, Termasuk Riza Chalid

Kamis, 9 April 2026 - 20:41

SKEMA HAJI tanpa Antrean Dikaji

Kamis, 9 April 2026 - 00:00

PRESIDEN PRABOWO: Tertibkan SPPG Jalankan MBG tak Sesuai Juknis

Berita Terbaru

Petugas karantina saat mengamankan kura-kura dilindungi yang disamarkan dalam bentuk paket di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. (Karantina Kalsel)

Kalsel

PENYELUNDUPAN 179 Ekor Kura-kura Digagalkan

Sabtu, 11 Apr 2026 - 00:44

Pembacaan sumpah/janji jabatan anggota Ombudsman RI 2026-2031 di Istana Negara, Jakarta, Jumat (10/4/2026). (Antara/Maria C Galuh)

Nasional

SEMBILAN Anggota Ombudsman Dilantik

Jumat, 10 Apr 2026 - 23:09

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca