SuarIndonesia — Memadamkan karhutla di Kalimantan Tengah (Kalteng) bukan perkara mudah. Selain menghadapi medan yang sulit dan cuaca panas, operasi penanganannya juga membutuhkan biaya besar.
Salah satu komponen dengan biaya tinggi adalah pengerahan helikopter water bombing. Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalteng menyebut operasional satu helikopter untuk menjatuhkan air ke titik api bisa menelan biaya lebih dari Rp 100 juta per jam.
Kepala Pelaksana BPB-PK Kalteng Ahmad Toyib mengatakan besarnya biaya tersebut menjadi salah satu alasan mengapa upaya pencegahan harus dilakukan sedini mungkin, sebelum api terlanjur meluas.
“Sepengetahuan saya, rata-rata di atas Rp 100 juta per jam untuk satu helikopter. Kalau sehari terbang enam sampai tujuh jam, tinggal dikalikan saja. Dan itu dilakukan setiap hari selama operasi berlangsung,” kata Toyib, Senin (10/8/2026).
Jika satu helikopter beroperasi enam hingga tujuh jam dalam sehari, biaya operasionalnya secara kasar dapat mencapai sekitar Rp 600 juta hingga Rp 700 juta. Angka tersebut belum termasuk kebutuhan penanganan karhutla melalui operasi darat.
Toyib menjelaskan biaya operasional helikopter water bombing yang digunakan dalam penanganan karhutla di Kalteng ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB melakukan kontrak dengan pihak ketiga sebagai penyedia armada. Setelah memperoleh persetujuan dan surat penugasan, helikopter kemudian diserahkan kepada Satgas Karhutla Pemerintah Provinsi Kalteng untuk digunakan di lapangan.
“Seratus persen dari BNPB. Mereka yang melakukan kontrak dengan pihak ketiga,” jelasnya.
Keberadaan helikopter sangat membantu ketika titik api berada di kawasan yang sulit dijangkau tim pemadam melalui jalur darat. Dalam sejumlah kondisi, armada udara bahkan dapat lebih dulu mencapai lokasi sebelum personel darat tiba. Water bombing juga menjadi andalan ketika kebakaran terjadi di lahan gambut yang masih mengeluarkan asap tebal. Menurut Toyib, asap yang terus muncul dapat menjadi tanda api masih bertahan di bawah permukaan gambut.
“Sering kali tim darat belum sempat mencapai lokasi karena medan yang sulit, sehingga helikopter water bombing lebih dulu melakukan pemadaman,” ujarnya.
Meski efektif membantu mengendalikan api, Toyib menegaskan bukan berarti water bombing mampu menyelesaikan seluruh persoalan karhutla. Terutama pada kebakaran gambut dalam skala luas.
Operasi udara lebih banyak berfungsi untuk menahan laju penyebaran api agar tidak semakin meluas. Di tengah cuaca panas, air yang dijatuhkan dari udara maupun pembasahan yang dilakukan tim darat bisa cepat menguap. Karena itu, kondisi lahan dapat kembali kering dan berpotensi terbakar.
“Upaya yang dilakukan Satgas Darat maupun udara sebenarnya lebih kepada memperlambat penyebaran dan perluasan kebakaran. Api ditahan agar tidak semakin meluas dan asap tidak semakin besar,” katanya.
“Berdasarkan pengalaman sebelumnya, untuk kebakaran lahan gambut dalam skala luas, yang benar-benar mampu memadamkan adalah hujan,” tegas Toyib.
Operasi Darat Tembus Rp 1 Miliar
Tak hanya operasi udara yang membutuhkan biaya besar. Penanganan melalui jalur darat juga menyedot anggaran cukup signifikan.

Pembiayaan operasi darat berasal dari pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten dan kota. Pemprov Kalteng juga membantu daerah yang memiliki keterbatasan anggaran dengan menambah personel dan regu pemadam. Khusus BPB-PK Kalteng, anggaran yang telah dikeluarkan untuk mendukung Satgas Darat sudah lebih dari Rp 1 miliar.
“Untuk BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah untuk Satgas Darat saja sudah lebih dari Rp 1 miliar,” ungkapnya.
Toyib menambahkan angka tersebut belum menggambarkan total keseluruhan biaya penanganan karhutla di Kalteng. Operasi masih berlangsung sehingga kebutuhan personel, peralatan, maupun dukungan lainnya dapat terus bertambah mengikuti perkembangan kebakaran.
Besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk memadamkan api menjadi gambaran bahwa karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga membutuhkan sumber daya dan anggaran yang sangat besar. Karena itu, pencegahan sejak munculnya potensi titik api dinilai jauh lebih penting dibandingkan menunggu kebakaran membesar dan kemudian mengerahkan operasi udara maupun darat dengan biaya yang jauh lebih besar.
Asap Karhutla Mulai Kepung Sekolah di Kobar
Sementara itu, dilansir dari detikKalimantan, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dirasakan di lingkungan sekolah di Kotawaringin Barat (Kobar). Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kobar, Muhammad Alamsyah, meminta seluruh siswa, guru, dan tenaga kependidikan meningkatkan kewaspadaan dengan menggunakan masker selama beraktivitas.
Imbauan tersebut menjadi langkah awal untuk melindungi warga sekolah dari paparan asap, sembari pemerintah daerah terus memantau perkembangan kondisi di lapangan.
“Menyesuaikan kondisi terkini. Sudah diimbau untuk menggunakan masker. Untuk tindakan lain masih melihat kedaruratannya,” kata Muhammad Alamsyah, Senin (10/8/2026).
Menurut Alamsyah, pihaknya belum mengambil keputusan untuk mengubah pola kegiatan belajar mengajar. Kebijakan seperti penyesuaian jam sekolah maupun langkah lainnya masih menunggu perkembangan kualitas udara dan tingkat kepekatan asap.
Alamsyah menegaskan keselamatan siswa dan tenaga pendidik menjadi prioritas. Apabila kondisi karhutla semakin memburuk hingga mengganggu aktivitas belajar, Dinas Pendidikan akan melakukan evaluasi dan mengambil langkah sesuai tingkat kedaruratan.
“Kita lihat dulu perkembangannya. Kalau memang kondisi semakin darurat, tentu akan disesuaikan dengan keadaan,” ujarnya. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















