SuarIndonesia – Fenomena “tintik-tintik” (rintik-ritik) air turun di Kota Banjarmasin, Jumat (25/9/2026) jadi ramai komentara warga, meski sekitar pukul 15.00 WITA, langit yang awalnya kabut asap jadi mendung, namun tidak menurunkan hujan yang deras
“Wah mendung ada gerugum petir. Semoaga saja hujan lebat, dan ini yang selama ini dinantikan. Apapun masalanya yang penting hujan ada turun, karena berbulan-bulan tak ada hujan, jangan hanya daerah tertemtu saja ” ucap salah satu warga, N Rezki.
Diketahui ada bebbarapa dawrah di Kalsel pernah dilakukan Operasi Modifikasi Cuaca )OMC) , yaitu teknologi rekayasa cuaca yang dikelola oleh BMKG dan instansi terkait untuk mengatur intensitas curah hujan di suatu wilayah guna menanggulangkan bencana seperti karhutla atau kekeringan.
Namun dari perkiarakan, pada umumnya disebabkan oleh dua kemungkinan utama berdasarkan video viral dari Kalimantan Selatan (Kalsel), setelah kemarau panjang, terdapat fenomena air turun rintik-rintik yang berwarna kehitaman, ini terjadi karena partikel sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) atau debu pekat di atmosfer terbawa oleh kelembapan udara yang tinggi.
Warga melihatnya seperti tetesan air tipis atau abu basah, padahal kondisi cuaca sekitarnya sedang kering atau hanya berawan. Kondisi di mana awan hujan sebenarnya melepaskan air di langit tinggi (rintik-rintik).
Nmun karena udara di lapisan bawah sangat panas dan kering khas kemarau Banjarmasin (suhu berkisar 27–37°C), tetesan air tersebut menguap sebelum menyentuh tanah secara merata.
Yang sampai ke bawah hanya berupa tetesan tipis sesekali atau partikel udara yang kabur.Pihak BMKG sendiri melaporkan bahwa wilayah Banjarmasin dan sekitarnya saat ini didominasi oleh kondisi udara kabur atau kabut asap dengan potensi hujan ringan yang masih sangat rendah atau tidak signifikan. (ZI)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















