SuarIndonesia — Stasiun Meteorologi Kelas II Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda melaporkan kualitas udara di wilayah ibu kota Provinsi Kalimantan Timur dan sekitarnya memburuk hingga masuk kategori sangat tidak sehat.
“Kondisi tersebut memperpendek jarak pandang (visibility) hingga tersisa 1.000 meter,” kata Kepala Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda Riza Arian Noor di Samarinda, Rabu (16/9/2026).
Menurut dia, tingginya konsentrasi partikulat halus ini berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat apabila terpapar dalam jangka waktu lama.
“Partikulat udara berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk langsung ke saluran pernapasan. Dengan konsentrasi yang mencapai 210,4 µg/m³, kondisi ini berada pada kategori sangat tidak sehat,” kata Riza di Samarinda, Rabu (16/9/2026), dikutip SuarIndonesia dari Antara.
Ia menegaskan tingginya konsentrasi ini perlu menjadi perhatian serius, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.
Berdasarkan data BMKG, kondisi cuaca di sekitar Bandara APT Pranoto Samarinda sejak pagi hingga sore hari terpantau berawan hingga berawan tebal, dengan jarak pandang berkisar antara 1.000 hingga 1.500 meter.
Merespons situasi tersebut, Koordinator Bidang Logistik, Sarana, dan Prasarana BPBD Kota Samarinda Ifran membenarkan adanya penurunan kualitas udara yang signifikan dibandingkan hari-hari sebelumnya akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Kami meminta masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan untuk menahan diri dan mengurangi aktivitas di luar ruangan,” ujar Ifran.
BPBD mencatat lonjakan kasus karhutla yang masif di Samarinda, di mana hingga pertengahan September 2026 telah terjadi 185 kali kebakaran lahan yang menghanguskan total 382,93 hektare.
Kawasan terparah berada di Kecamatan Palaran, Sambutan, dan Samarinda Utara.
Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda telah memperpanjang status tanggap darurat bencana untuk mengoptimalkan penanganan dampak kekeringan dan kabut asap di lapangan.
Sebagai langkah taktis, Pemkot Samarinda mengalokasikan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp10 juta per kelurahan melalui kecamatan setempat untuk mempercepat operasional pemadaman darat serta penanggulangan dampak kabut asap.
BMKG bersama instansi terkait juga mengimbau pengguna jalan untuk meningkatkan kewaspadaan karena jarak pandang terbatas.
Bagi pengguna jasa transportasi udara diharapkan terus memantau informasi resmi berkala dari pihak bandara menyusul fluktuasi cuaca ekstrem ini. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















