SuarIndonesia — Populasi pesut di perairan Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), semakin menurun. Aktivis lingkungan pun mengharapkan adanya intervensi pemerintah untuk menjaga kelestarian populasi hewan dilindungi tersebut.
Pemimpin Program Ilmiah Yayasan Konservasi RASI (YK-RASI) Danielle Kreb mengungkapkan bahwa data populasi mamalia air di Kaltara saat ini yang sangat minim. Survei dilakukan pihaknya pada 2009 di Sungai Sesayap dan Muara Sesayap area Tarakan, terdapat tiga spesies langka, pesut pesisir, lumba-lumba bungkuk Indo-Pasifik, dan porpoise atau lumba-lumba tanpa sirip punggung.
“Spesies populasi di daerah pesisir paling rawan kepunahan karena paling dekat dengan aktivitas manusia, termasuk perikanan. Meskipun bukan industri, jaring nelayan sering kali menyebabkan tangkapan sampingan (bycatch),” ujar Danielle Kreb dikutip SuarIndonesia dari detikKalimantan, Rabu (8/4/2026).
Dari kajian populasi mamalia air di wilayah Sungai Sesayap dan deltanya di Kabupaten Tana Tidung (KTT) pada tahun 2009, populasi Pesut (lumba-lumba Irrawaddy) diestimasi hampir 100 ekor, disertai penampakan lumba-lumba bungkuk Indo-Pasifik. Kemudian berdasarkan laporan final BKSDA Kaltim, WWF, dan RASI, tim peneliti mencatat total 46 kali penampakan lumba-lumba Irrawaddy (Orcaella brevirostris) sepanjang periode Juli-November 2009. Puncak estimasi jumlah populasi tertinggi tercatat pada bulan Agustus 2009.
“Perkiraan total kelimpahan populasi di wilayah survei untuk kondisi muka air tinggi, rendah, dan sedang masing-masing adalah 43, 96, dan 41 ekor lumba-lumba,” catat laporan tersebut.
Sementara itu, untuk pendataan identitas individu, tim peneliti berhasil mengidentifikasi 11 ekor Pesut pada bulan Juli berdasarkan bentuk khas sirip punggung mereka. Pada survei lanjutan, tim kembali mengidentifikasi satu sirip tambahan, sehingga total terdapat 12 individu yang berhasil dikenali secara spesifik.
“Untuk pesisir Kaltara memang dibutuhkan survei untuk mengetahui sebesar apa populasinya. Ini bisa bekerja sama dengan LSM, mungkin nanti ada kegiatan training, dan semuanya sangat butuh dukungan dari pemerintah setempat untuk menjaga nelayan serta ekosistemnya,” ujar Danielle, peneliti asal Belanda.
Sebelumnya diberitakan, seekor pesut sepanjang hampir 2 meter ditemukan mati setelah masuk ke pukat nelayan saat air surut. Perwakilan Wetlands International Indonesia Firman Abadi berpendapat kurangnya edukasi dan lambatnya implementasi kebijakan dari pemerintah daerah menjadi akar masalah populasi pesut ini.
“Dalam tiga tahun terakhir, setidaknya sudah terjadi dua kasus kematian pesut di Muara Bulungan. Kami mendesak agar regulasi yang ada segera didorong ke tahap aksi nyata di lapangan, khususnya implementasi Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) sesuai Perda Provinsi Kaltara No. 04 Tahun 2018,” kata Firman.
Ditanya mengenai kasus ini, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bulungan Syam Hendarsyah menyebut bahwa hal tersebut merupakan ranah Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kaltara.
“Terkait hal ini yang lebih punya kewenangan menanggapi DKP Provinsi Kaltara,” ucapnya melalui pesan singkat, Rabu (8/4/2026).
Sementara menurut Kabid Perikanan Budidaya DKP Kaltara Hasan Basri, kewenangan justru ada di Pemkab Bulungan karena berkaitan dengan wilayah otonomi tingkat kabupaten.
“Perairan Sungai Kayan, kewenangan pihak Kabupaten Bulungan,” jelasnya. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















