SuarIndonesia — Viral video orang utan bernama Sam makan di tempat pembuangan sampah di Jalan Poros Bengalon-Sangatta, Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim). Kemunculan orang utan mencari makan rupanya bukan pertama kali terjadi di wilayah itu.
Founder dan Direktur CAN Borneo, Paulinus Kristanto mengatakan, kebiasaan buang sampah makanan sembarangan dapat memicu perubahan perilaku orang utan. Satwa liar tersebut mampu mengenali bau serta sumber pakan dari aktivitas manusia.
“Ketika orang membuang sampah makanan, orang hutan tertarik turun ke situ. Saat makanan di tempat sampah habis, kecenderungan dia pergi ke rumah warga lebih tinggi, bahkan bisa turun ke jalan dan menghentikan kendaraan seperti kasus sebelumnya,” kata Paulinus, Jumat (30/01/2026).
Ia menerangkan peristiwa Sam, orang utan makan sampah tidak bisa dipandang semata sebagai persoalan kebersihan lingkungan. Fenomena tersebut dinilai berkaitan langsung dengan penyusutan habitat di sekitar lokasi temuan.
Paulinus menyebut kawasan sekitar koridor jalan kini diapit aktivitas pembukaan lahan dan tambang. Sehingga menyisakan kantong hutan yang semakin sempit dan terfragmentasi.
“Ini bukan cuma soal orang utan makan di sampah. Ini tentang hilangnya habitat yang mengubah perilaku orang utan. Mereka berusaha bertahan hidup dengan memakan apa pun yang bisa ditemukan,” kata Paulinus mengutip detikKalimantan, Jumat (30/1/2026).
Secara tidak langsung, ia menggambarkan bentang hutan di koridor Simpang Perdau hingga arah Wahau sudah tidak lagi ideal sebagai ruang jelajah orang utan. Satwa yang masih bertahan disebut berada dalam kondisi terpaksa karena sumber pakan dan wilayah hidup yang terus menyusut.
“Ketika land clearing sudah sampai ke jalan, praktis tidak ada lagi habitat tersisa. Waktu hutan tinggal sedikit saja mereka sudah makan sampah, apalagi kalau benar-benar habis,” katanya.
Paulinus memandang kondisi ini sebagai peringatan dini bahwa tekanan terhadap habitat berdampak langsung pada perubahan perilaku satwa liar dan meningkatkan potensi konflik dengan manusia.
Senada, Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto menyebut lokasi penemuan orang utan yang makan di tempat sampah memang sudah tidak layak. Karena berdekatan dengan jalan, kebun sawit, dan tambang.
Menurutnya, ada banyak faktor orang utan di Simpang Perdau turun ke jalan. Faktor terbesar adalah seringnya diberi makan hingga di lokasi tak ada pakan lagi.
“Kemudian faktor kalau dia sudah tua, dewasa, dan dia sudah tidak bisa naik ke atas pohon lagi dan mainnya sekarang di tanah saja, jadi kita tidak bisa memastikan kenapa dia begitu, banyak faktor yang memengaruhi,” tutur Ari.
Selain itu di Kaltim memang terkenal dengan orang utan jenis Morio atau Pongo pygmaeus morio. Salah satu orang utan yang mampu survive dalam kondisi apapun.
“Jadi Morio ini adalah salah satu orang utan terpintar dari beberapa orang utan yang ada di Indonesia, meskipun dia tidak terlalu besar, tapi kecenderungan mereka bisa survive, jadi karena itu juga (faktor) jadi karena mereka sudah dikasih makan, merasakan makanan manusia jadi mereka mencari makanan manusia,” pungkasnya. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















