MASKER Scuba dan Buff Tak Direkomendasikan IDI, Cuma 5 Persen Efektif Cegah Covid-19

MASKER Scuba dan Buff Tak Direkomendasikan IDI, Cuma 5 Persen Efektif Cegah Covid-19

SuarIndonesia – Masker jenis scuba dan buff marak dijual di pasaran. Bahkan tak jarang maker jenis ini dibagi-bagi pemerintah secara gratis ke masyarakat.

Namun baru-baru ini masker scuba dan buff ramai diperbincangkan, khususnya di media sosial. Pasalnya, kedua jenis penutup mulut dan hidung ini dinilai kurang efektif menangkal CoVID-19.

Hal ini pun diakui Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Kalimantan Selatan, dr Mohammad Rudiansyah. Bahkan jauh sebelum masker scuba dan buff ramai diperbincangkan, Rudi sudah menjelaskannya melalui akun medsos pribadinya.

Dalam video yang berdurasi 18 menit 16 detik di kanal YouTube Dr Rudi Rafisa yang diunggah sejak 5 bulan lalu, Ketua IDI Kalsel itu menjelaskan berbagai jenis masker berdasarkan fungsi dan tujuannya.

Pertama masker N95, yang hanya direkomendasikan untuk tenaga kesehatan. Menurut Rudi, masker jenis ini sangat rapat sekali. Bahkan sulit ditembus oleh kuman dan virus.

“Ini sebaiknya tidak digunakan oleh masyarakat luas, kecuali memang keluarga terdekatnya terinfeksi. Dan ini penggunaannya juga cukup susah. Karena tertutup, sehingga bernafas pun cukup sulit,” ucapnya.

Kemudian ada masker bedah. Dikatakannya punya tiga lapisan, yaitu lapisan luar, tengah dan dalam. Untuk lapisan luar, berfungsi untuk menahan tembusnya cairan, baik darah ataupun air.

Lapisan tengah, untuk menyaring mikroorganisme agar tidak tembus pori-pori. Sementara lapisan dalam berguna untuk menyerap keringat atau cairan lainnya.

“Ini juga dipakai oleh tenaga kesehatan. Berfungsi untuk tidak menularkan dan tertular,” ujarnya.

Lalu Rudi memperlihatkan masker jenis spon. Ia menerangkan masker jenis ini hanya mampu menahan virus dengan jarak yang agak jauh.

Dan terakhir ialah masker kain biasa, yang sering digunakan oleh kebanyakan orang. Namun Rudi merekomendasikan, masker kain harus punya lapisan minimal dua sampai tiga lapis.

“Diharapkan di dalamnya kalau bisa ada semacam tisu. Mungkin tidak seratus persen mengurangi penularan. Tapi dari beberapa penelitian dapat mengurangi paling tidak sampai 70 persen,” tuturnya.

Sekadar diketahui, masker jenis scuba atau buff itu mulai ramai diperbincangkan semenjak akun media sosial instagram PT KCI, melakukan sosialisasi menghindari penggunaan kedua masker itu.

Dalam penjelasannya, masker scuba atau buff hanya 5% efektif mencegah risiko terpapar virus.

Unggahan itu juga memaparkan efektivitas masing-masing jenis masker. Untuk N95 efektifitasnya mencapai 95-100 persen, masker bedah dan FFP1 80-95 persen, masker bahan 3 lapis 50-70% dan Scuba atau Buff hanya 0 sampai 5 persen. (SU)

 195 total views,  1 views today

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: