SuarIndonesia — Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Kamis menguat 4 poin atau 0,03 persen menjadi Rp17.139 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.143 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan penguatan kurs rupiah dipengaruhi optimisme terhadap ketegangan geopolitik yang mereda jelang negosiasi putaran kedua antara AS dengan Iran.
“Dari sisi global, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS seiring meningkatnya optimisme terhadap meredanya ketegangan geopolitik serta ekspektasi kebijakan yang lebih akomodatif dari Federal Reserve,” kata Amru di Jakarta, Kamis (16/4/2026), dikutip dari Antara.
Kendati terdapat dorongan penguatan dari membaiknya sentimen global, ruang apresiasi rupiah dinilai masih relatif terbatas karena tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda.
Seiring potensi gencatan senjata, Sputnik melaporkan bahwa Angkatan Laut AS mulai memblokade seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran sejak 13 April di kedua sisi Selat Hormuz, yang mencakup sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, produk petroleum dan LNG.
Washington menyatakan bahwa kapal non-Iran tetap bebas melintasi Selat Hormuz selama tidak membayar pungutan kepada Teheran. Otoritas Iran belum mengumumkan penerapan pungutan di selat, tetapi telah membahas rencana tersebut.
Adapun Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyampaikan bahwa Blokade AS di Selat Hormuz dapat menyebabkan terganggunya gencatan senjata antara Teheran dan Washington,
Amru menyampaikan pula ketidakpastian terkait arah inflasi global, dinamika harga energi, serta kehati-hatian investor masih menjadi faktor yang membatasi penguatan rupiah.
Melihat sisi domestik, lanjutnya, fundamental ekonomi Indonesia relatif stabil dengan dukungan cadangan devisa yang memadai dan kebijakan responsif dari Bank Indonesia.
Namun, aliran modal asing yang masih cenderung berhati-hati serta kebutuhan likuiditas dolar AS di pasar domestik turut menahan penguatan rupiah dalam jangka pendek.
Menurut dia, kesulitan rupiah untuk bangkit dari tren depresiasi beberapa hari terakhir disebabkan kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Hal ini terjadi meskipun indeks dolar AS tengah berada di level terendah dalam enam pekan terakhir, yang mencerminkan tekanan terhadap mata uang domestik belum mereda, terutama akibat arus modal keluar (outflow) yang masih berlangsung.
“Selain itu, dominasi sentimen global dan preferensi investor terhadap aset safe haven membuat penguatan rupiah cenderung terbatas dan rentan terhadap perubahan arah pasar,” ungkap Amru.
Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru bergerak melemah ke level Rp17.142 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.141 per dolar AS. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















