SuarIndonesia — Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan dukungan dari udara hingga saat ini masih menjadi bagian penting dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Dukungan udara menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan karhutla, terutama ketika api sulit dijangkau melalui jalur darat,” jelas Kepala Dishut Kalteng Agustan Saining di Palangka Raya, Rabu (12/8/2026).
Menurut dia Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah masih mengandalkan dukungan udara untuk mempercepat penanganan karhutla di sejumlah wilayah.
Saat ini terdapat tiga helikopter pengebom air atau water bombing yang masih mendukung operasi pemadaman karhutla di lapangan.
“Water bombing masih tiga helikopter yang membantu kita dari Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB). Ada juga satu helikopter patroli,” jelas Agustan.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng, saat ini untuk mendukung penanganan karhutla tersedia satu helikopter patroli, tiga helikopter water bombing, serta satu unit pesawat cessna yang bisa digunakan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca (OMC) maupun patroli. Adapun masih terdapat satu helikopter waterbombing lagi, namun saat ini masih dalam perawatan.
Berbagai upaya pemadaman karhutla dengan dukungan dari udara telah dilakukan, di antaranya di wilayah Kecamatan Sebangau Kuala Kabupaten Pulang Pisau (11/8) dengan kejadian mencapai empat hektare. Dalam penanganan ini, helikopter water bombing menggunakan hingga 84.000 liter air.
Selain itu helikopter water bombing juga mendukung upaya penanganan karhutla di Kelurahan Baamang Hulu Kecamatan Baamang Kabupaten Kotawaringin Timur (11/8) dengan luas terbakar mencapai empat hektare, dan water bombing dilakukan mencapai 108.000 liter air.

Pemadaman karhutla dekat permukiman
Sementara itu, dilansir dari Antara, BPBD Kota Palangka Raya, Kalteng, memprioritaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sekitar permukiman warga guna mencegah api meluas ke rumah penduduk.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi di Palangka Raya, mengatakan bahwa personel bersama tim gabungan terus dikerahkan untuk melakukan pemadaman dan memastikan kobaran api dapat dilokalisasi, terutama ketika titik kebakaran berada tidak jauh dari kawasan permukiman.
“Lokasi yang berdekatan dengan permukiman menjadi prioritas karena kami harus memastikan api tidak menjalar dan membahayakan rumah warga,” katanya.
Hingga saat ini BPBD bersama tim gabungan telah memadamkan kebakaran lahan dekat permukiman seperti di kawasan Kelurahan Petuk Ketimpun, Jalan Gurame, Jalan Tjilik Riwut Km 10,5 yang masuk Jalan Bumi Tegal Sari, serta Jalan Gustaf Erang.
BPBD Kota Palangka Raya bersama unsur terkait juga terus melakukan pemantauan terhadap lokasi-lokasi yang berpotensi terjadi karhutla. Patroli dan penanganan dini dilakukan untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih luas.

Tingkatkan kesiapsiagaan hadapi potensi karhutla
Bupati Kotim, Kalteng Halikinnor meminta seluruh jajaran pemerintah termasuk camat, lurah, dan kepala desa (kades) untuk meningkatkan kesiapsiagaan siaga di wilayah masing-masing terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Camat, lurah dan kepala desa, saya minta standby di wilayah masing-masing. Lakukan patroli dan sosialisasi kepada masyarakat, terutama di daerah yang rawan terjadi karhutla,” kata Halikinnor di Sampit.
Bupati menegaskan instruksi tersebut menyikapi meningkatnya intensitas karhutla di sejumlah wilayah di Kotawaringin Timur. Karhutla mulai menimbulkan kabut asap yang mengganggu kualitas udara, kesehatan masyarakat, serta memengaruhi aktivitas sosial dan ekonomi.
Halikinnor menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan dan Kekeringan terhitung sejak 30 Juli hingga 26 Agustus 2026.
Dalam kondisi tersebut, seluruh jajaran pemerintah di tingkat wilayah diingatkan untuk tidak meninggalkan tempat tugas, sebagai antisipasi terjadinya karhutla. Selanjutnya, para camat hingga kepala desa diminta meningkatkan pemantauan terhadap potensi karhutla di wilayah masing-masing.
“Semua pihak diminta lebih aktif melakukan pencegahan dan tidak hanya menunggu laporan ketika kebakaran sudah terjadi. Saya minta camat berkoordinasi dengan seluruh kepala desa, agar bisa lebih aktif dalam mencegah hingga menanggulangi karhutla,” tegas Halikinnor. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















