TIM Gabungan Indonesia–Malaysia Perketat Patroli Perbatasan

- Penulis

Selasa, 11 November 2025 - 23:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim Gabungan patroli perbatasan mengamankan ratusan tanaman tanduk rusa yang akan di selundupkan ke Malaysia. (Foto: SI/ANTARA/Dok Tim Gabungan Patroli Perbatasan)

Tim Gabungan patroli perbatasan mengamankan ratusan tanaman tanduk rusa yang akan di selundupkan ke Malaysia. (Foto: SI/ANTARA/Dok Tim Gabungan Patroli Perbatasan)

SuarIndonesia — Tim gabungan Indonesia–Malaysia melakukan patroli lintas batas di kawasan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, hingga wilayah Serikin, Sarawak, Malaysia, untuk mencegah peredaran tumbuhan dan satwa liar ilegal di kawasan perbatasan kedua negara.

“Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, sejak 4 hingga 8 November 2025, melibatkan berbagai instansi dari kedua negara. Dari Indonesia, turut serta Komando Daerah Militer XII/Tanjungpura, Satgas Pamtas RI–Malaysia Batalyon Arhanud 1 Kostrad, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kalbar, Balai Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Kalimantan, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalbar, serta Pangkalan PSDKP Pontianak,” kata Narahubung Tim Gabungan Indonesia-Malaysia Kol Inf Adrian Adek, di Pontianak, Selasa (11/11/2025).

Dia menjelaskan, dari Malaysia, partisipasi datang dari Sarawak Forestry Corporation (SFC), Pasukan Gerakan Am Batalion 11 Sarawak, dan Pasukan Polis Marin Wilayah 5 (PDRM). Operasi ini turut didukung oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

“Patroli bersama ini bertujuan meningkatkan pengawasan dan kesadaran terhadap peredaran tumbuhan, satwa liar, dan jenis ikan dilindungi, serta memperkuat koordinasi lintas negara dalam pengelolaan sumber daya alam dan kawasan perbatasan,” tuturnya.

Operasi gabungan diawali dengan rapat koordinasi dan penyusunan strategi pada 4 November, untuk menyelaraskan langkah dan strategi antarinstansi. Patroli resmi dimulai pada 5 November dengan pemeriksaan kendaraan lintas batas di Pos Jagoi Babang.

Dari hasil pemeriksaan terhadap lebih dari 74 truk logistik, tim berhasil mengamankan 257 tanaman tanduk rusa (Platycerium sp.), yang merupakan spesies dilindungi di Malaysia dan hendak dikirim secara ilegal ke Sarawak.

Kegiatan berlanjut pada 6 November dengan peningkatan jumlah kendaraan yang diperiksa mencapai 131 unit. Tim menemukan indikasi kuat perdagangan telur penyu di Pasar Serikin, sehingga dilakukan penyelidikan lanjutan bersama otoritas Malaysia.

Baca Juga :   PENGUSAHA Singkawang Ditembak, Adik Diduga Jadi Inisiator

Pada 7 November, pemeriksaan terhadap 53 kendaraan menemukan sejumlah pelanggaran, di antaranya pengiriman buah mangga tanpa dokumen karantina dan penjualan aksesori adat berbahan bagian tubuh satwa, seperti kuku beruang madu serta taring babi. Barang-barang tersebut diperbolehkan digunakan dalam konteks adat dengan pengawasan ketat.

Selain itu, ditemukan kasus penyelundupan 38 tanaman Ficus sp. dan 18 Casuarina equisetifolia yang dibawa dari Indonesia untuk dijual di Sarawak. Pengemudi diamankan dan menjadi bagian dari penyelidikan terhadap jaringan perdagangan lintas batas.

“Pada hari terakhir, 8 November, tim gabungan berhasil menangkap dua penadah tanaman ilegal di Pasar Serikin. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap 66 kendaraan, disertai kegiatan sosialisasi kepada pedagang lokal mengenai aturan lintas batas dan pentingnya konservasi sumber daya alam,” kata Adrian, dilansir dari AntaraNews.

Selain penegakan hukum, tim juga menggelar pertemuan dengan Jabatan Pertanian Malaysia untuk menyepakati mekanisme izin keluar-masuk hasil pertanian. Pertemuan tersebut menghasilkan komitmen bersama antara Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalbar dengan Jabatan Pertanian Malaysia untuk memperkuat kerja sama pengawasan perbatasan.

“Selain penindakan, kami menekankan pentingnya pendekatan edukatif agar masyarakat memahami dampak hukum, sosial, ekonomi, dan ekologis dari penyelundupan tumbuhan dan satwa liar,” katanya. (*/ut)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

SAWIT Muncul di Bekas Karhutla Kalbar
WALHI Kalbar Desak Penindakan Perusahaan Sebabkan Karhutla
WARGA Sambut Antusias Hujan di Sebagian Wilayah Pontianak
HOTSPOT NAIK, Kalteng dan Kalbar Prioritas Penanganan Karhutla
DIDUGA 12 Perusahaan di Kalimantan Jadi Penyebab Karhutla
BKSDA Kalbar Prioritaskan Perlindungan Orang Utan saat Karhutla
SAMPURNA, Orang Utan Jantan Ditemukan Lemas Akibat Asap karhutla
KEJAGUNG Sita Aset Bos Tambang Aseng, Nilainya Tembus 338 Miliar

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 16:37

TERUNGKAP Pengemudi Mobil SUV yang Tabrak Kabur Ternyata Pengedar Narkoba Lintas Kalselteng

Rabu, 9 September 2026 - 14:51

PARIPURNA Penjelasan Raperda APBD 2027, Postur Pendapatan Dianggarkan 8 Triliun

Rabu, 9 September 2026 - 14:44

RUMAH SEWAAN di Rawasari Terbakar, Sebuah Motor Turut Hangus

Rabu, 9 September 2026 - 00:24

KEPEDULIAN ARUTMIN, Sejak Awal Turut Bergerak Penanganan Karhutla

Selasa, 8 September 2026 - 21:58

KARHUTLA Kalteng: Ada 25 Tersangka, 4 Perusahaan Diselidiki

Selasa, 8 September 2026 - 21:38

HUJAN Guyur Sejumlah Daerah di Kalsel

Selasa, 8 September 2026 - 20:47

TATA KELOLA Air Kunci Cegah Kebakaran Lahan Gambut

Selasa, 8 September 2026 - 20:40

KEMENHUT Tangkap BG Pemodal Illegal Logging

Berita Terbaru

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca