Membangun Kembali Situs Bersejarah

Membangun Kembali Situs Bersejarah

Suarindonesia – Provinsi Kalimantan Selatan menjadi salah daerah yang pernah disinggahi kompeni Belanda. Berdasarkan catatan sejarah, penjajah dari Belanda cukup lama berada di Banua.

Namun sayang, bukti fisik penjajahan Belanda di Kalsel sangat minim.

Salah satu bukti fisik penjajahan Belanda di Kalsel adalah kolam pemandian dan reruntuhan bangunan gaya tempo dulu di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, Mandiangin, Kecamatan Karang Intan.

Situs bersejarah berupa bangunan itu tinggal menyisakan pondasi karena runtuh akibat kebakaran beberapa tahun silam.

Benteng Belanda, demikian masyarakat menyebutnya. Pihak Dinas Kehutanan Kalsel selaku pengelola Tahura merencanakan merekonstruksi situs bersejarah tersebut.

Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq menjelaskan, untuk merekontruksi bangunan tersebut pihaknya melibatkan ahli sejarah. Begitupu dengan Balai Arkeologi turut disertakan dalam penyusunan bentuk bangunan.

“Kami coba menggali informasi sebanyak-banyak. Saya sudah arahkan staf untuk mengejar informasi sampai dapat,’’ ujarnya belum lama ini.

Ia menjelaskan, bangunan yang tersisa di bukit tersebut adalah Sanatorium.

Yakni sebagai tempat penyembuhan berbagai macam penyakit masyarakat Belanda dulu. Selain itu juga, di sana ada beberapa asrama.

“Bangunan ini meskipun sisa pondasi tapi masih kokoh. Contoh tempat air di bawah lantai sampai sekarang tidak bocor,’’ ujarnya.

Untuk sementara agar tidak semakin rusak, pengelola Tahura membloking kawasan benteng tersebut.

Sebab menurut Hanif dikhawatirkan batu-batuan tersisa hilang.

Sejatinya di Tahura tidak hanya benteng peninggalan Belanda.

Namun ada juga situs sejarah lainnya, yaitu kolam pemandian yang airnya langsung dari sumber di dalam tanah.

Provinsi Kalsel sedang fokus mengembangkan dan meningkatkan kepariwisataan.

Salah satu penarik wisatawan luar adalah situs-situs bersejarah. Karena itu, bangunan di Tahura ini perlu dikembalikan ke bentuk aslinya sehingga menjadi daya tarik bagi wisatawan.(RW)

 335 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: