SuarIndonesia — Karhutla di Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali menunjukkan tanda mengkhawatirkan. Setelah sempat turun hingga 950 titik, jumlah hotspot melonjak lagi dalam sehari.
“Berdasarkan data Sistem Monitoring Hutan dan Lahan (SIPONGI) Kementerian Kehutanan periode 2-10 September 2026, tercatat 2.340 hotspot di Kalteng pada 10 September. Angka tersebut meningkat drastis dibandingkan sehari sebelumnya yang hanya mencatat 950 titik,” ujar Kepala Dinas Kehutanan Kalteng Agustan Saining, Jumat (11/9/2026).
Lonjakan hotspot menjadi perhatian karena terjadi saat Kalteng masih berada dalam status tanggap darurat karhutla. Pemerintah daerah bersama tim penanganan di lapangan masih melakukan berbagai upaya untuk mencegah meluasnya kebakaran.
“Data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalteng mencatat hingga kini telah terjadi 2.819 kejadian karhutla. Luas lahan yang terbakar mencapai 9.228,04 hektare,” kata Agustan.
Sejumlah daerah tercatat menjadi penyumbang hotspot cukup tinggi pada 9 September. Pulang Pisau berada di posisi teratas dengan 560 titik, disusul Palangka Raya sebanyak 398 titik dan Kotawaringin Timur mencapai 281 titik.
“Selain itu, hotspot juga terdeteksi di Kapuas sebanyak 247 titik, Seruyan 228 titik dan Katingan 218 titik. Barito Selatan tercatat 36 titik, sedangkan Gunung Mas sebanyak 34 titik,” tutur Agustan dilansir dari detikKalimantan.
Ia mengatakan perkembangan hotspot terus menjadi perhatian pemerintah dalam penanganan karhutla. “Berdasarkan data tersebut, sejumlah daerah tercatat menyumbang hotspot cukup tinggi pada 10 September,” katanya.
Jika melihat pergerakannya, hotspot di Kalteng memang masih sangat fluktuatif. Pada 2 September tercatat 4.861 titik, kemudian turun menjadi 3.552 titik pada 3 September.
Jumlah tersebut kembali naik menjadi 4.436 titik pada 4 September dan mencapai 5.357 titik pada 5 September. Sehari berikutnya menjadi angka tertinggi dalam periode tersebut dengan 5.746 hotspot.
Setelah itu, hotspot turun tajam menjadi 1.824 titik pada 7 September dan kembali anjlok menjadi 950 titik pada 8 September. Namun, tren penurunan tersebut kembali berbalik dengan lonjakan menjadi 2.340 titik pada 9-10 September.
Di tengah kondisi tersebut, penguatan pemadaman dan pencegahan karhutla dinilai masih menjadi pekerjaan utama. Peningkatan hotspot dikhawatirkan memicu munculnya titik api baru, terutama jika terjadi di wilayah yang berdekatan dengan permukiman.
Sementara itu, beberapa daerah tercatat relatif minim hotspot. Barito Timur hanya mencatat satu titik, Barito Utara dua titik, sedangkan Murung Raya tidak mencatat hotspot pada 9 September.
“Status tanggap darurat karhutla Kalteng masih berlangsung hingga 29 September 2026. Status tersebut telah diberlakukan sejak 31 Agustus 2026,” katanya.
Agustan menambahkan data hotspot yang menjadi bahan pemantauan tersebut memiliki tingkat kepercayaan medium-high. Data itu digunakan sebagai salah satu dasar bagi pemerintah dan petugas untuk menentukan langkah penanganan karhutla di lapangan.
“Status tanggap darurat karhutla Kalteng berlangsung pada 31 Agustus hingga 29 September 2026. Tingkat kepercayaan data hotspot dalam materi berada pada kategori medium-high,” pungkasnya. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















