SuarIndonesia – Beberapa berita nasional melaporkan bahwa Norwegia mulai memberlakukan larangan penggunaan alat AI generatif oleh murid sekolah dasar selama kegiatan belajar pada tahun ajaran baru yang akan dimulai akhir Agustus 2026.
“Penggunaan AI generatif pada jenjang pendidikan anak-anak yang lebih tinggi juga dibatasi untuk mencegah dampak negatif pada pembelajaran,” kata Perdana Menteri Jonas Gahr Stoere, pada Jumat (19/6/2026).
Langkah ini merupakan kebijakan lanjutan dalam menyikapi penurunan nilai ujian pendidikan secara luas.
Sebelumnya pemerintah Norwegia pada tahun 2024 telah membuat larangan penggunaan ponsel pintar di sekolah, guna memberikan guru lebih banyak wewenang untuk menegakkan kembali disiplin di kelas, demikian kutipan beritanya.
Bahwa hari ini hidup pada zaman ketika manusia dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik, tetapi justru semakin kehilangan waktu untuk mengajukan pertanyaan yang benar.
Memiliki kecerdasan buatan yang mampu merangkum buku, menerjemahkan bahasa, menyusun tulisan, mencari data, bahkan membantu menjelaskan berbagai persoalan yang dahulu membutuhkan berjam-jam membaca dan berdiskusi.
“Semua itu adalah kemajuan yang tidak perlu kita tolak”.
Tetapi di tengah kecepatan itu, perlu berhenti sebentar dan bertanya apakah masih memiliki kesempatan untuk berpikir dengan pikirannya sendiri?.
Apakah masih mempunyai kesabaran untuk membaca satu buku sampai selesai, membuka halaman demi halaman, mencium aroma kertas dan tinta, memberi tanda pada kalimat yang dianggap penting, menulis catatan di pinggir halaman, lalu menutup buku dan membiarkan isi buku itu mengendap dalam pikiran?.
Ataukah zaman kini sedang menciptakan generasi yang mengetahui banyak jawaban tetapi semakin sedikit memiliki pengalaman untuk menemukan pertanyaannya sendiri?.
Karena itu, mungkin sudah waktunya memutar haluan. Bukan kembali ke masa lalu dengan menolak teknologi, tetapi kembali kepada sesuatu yang paling mendasar dalam pendidikan: membaca, mengalami, mengamati, mempertanyakan, dan berpikir.
Kembali ke buku bukan berarti meninggalkan teknologi. Kembali ke buku berarti mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri. Ada pengalaman intelektual yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh layar.
Ketika seseorang membuka sebuah buku, ia tidak hanya membaca kata-kata, tetapi memasuki sebuah ruang perenungan.
Ia berhenti sejenak dari kebisingan dunia, memusatkan perhatian, mengikuti alur pikiran seorang penulis, berdebat dengan gagasannya, menerima sebagian, menolak sebagian lainnya, kemudian membangun pikirannya sendiri. Buku mengajarkan kesabaran.
Buku mengajarkan bahwa pengetahuan tidak selalu datang secara instan. Ada proses, ada keraguan, ada kesalahan, ada pencarian, dan ada waktu yang harus diberikan kepada pikiran untuk tumbuh.
Karena itu, di tengah banjir informasi dan kecerdasan buatan, kita justru membutuhkan lebih banyak manusia yang mampu membaca secara mendalam.
Kita membutuhkan mahasiswa yang tidak sekadar bertanya kepada mesin, “Apa jawabannya?”, tetapi berani bertanya kepada dirinya sendiri.
“Mengapa persoalan ini terjadi, siapa yang mengalami akibatnya, dan apa yang dapat saya lakukan?”.
Di sinilah makna kedua dari gagasan “kembali ke ibu” menjadi penting. Ibu bukan hanya seseorang yang melahirkan kita.
Ibu adalah metafora tentang rumah, kampung halaman, tanah kelahiran, sungai tempat kita bermain, ladang tempat orang tua bekerja, pasar tempat masyarakat bertemu, adat yang diwariskan, bahasa yang kita dengar sejak kecil, dan seluruh pengalaman sosial yang membentuk identitas.
Dunia pendidikan tinggi jangan sampai membuat mahasiswa semakin jauh dari tempat asalnya. Mahasiswa begitu sibuk mempelajari teori kemiskinan tetapi tidak pernah bertanya mengapa kemiskinan terjadi di kampungnya sendiri, mempelajari konflik agraria tetapi tidak pernah berbicara dengan petani di daerah asalnya, mempelajari perubahan sosial tetapi tidak pernah duduk bersama orang-orang tua yang menyaksikan perubahan kampungnya selama puluhan tahun; mempelajari ekologi tetapi tidak pernah menyusuri sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan keluarganya.
Mahasiswa mempunyai hak untuk mengetahui detail problematika sosial di tempat asalnya. Dan universitas mempunyai tanggung jawab untuk membuka jalan agar pengetahuan akademik bertemu dengan kenyataan sosial.
Maka, barangkali tugas mahasiswa bukan hanya pergi jauh untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga pulang membawa pengetahuan itu kembali kepada masyarakatnya.
Pulanglah ke desa. Duduklah bersama ibu. Dengarkan cerita ayah. Temuilah petani, nelayan, pedagang kecil, buruh, seniman, tetua adat, perempuan kampung, anak-anak muda, dan mereka yang selama ini mungkin tidak pernah masuk ke dalam ruang seminar universitas. Tanyakan kepada mereka apa yang sedang berubah.
Tanyakan apa yang mereka takutkan. Tanyakan apa yang mereka harapkan. Catat cerita mereka. Bandingkan dengan teori yang dipelajari di kampus. Kemudian tulislah kembali kehidupan mereka dalam bentuk pengetahuan yang dapat dibaca, diperdebatkan, dan menjadi dasar perubahan. Sebab masyarakat bukan objek penelitian semata.
Masyarakat adalah sumber pengetahuan. Kampung halaman bukan tempat yang harus ditinggalkan setelah seseorang menjadi mahasiswa kampung halaman justru dapat menjadi laboratorium sosial pertama bagi ilmu pengetahuan.
Karena itu, mari tinggalkan AI sebentar—bukan karena AI harus dimusuhi, tetapi karena manusia membutuhkan ruang untuk mendengar suara pikirannya sendiri.
Ada saat ketika kita tidak perlu bertanya kepada mesin. Ada saat ketika kita cukup duduk di bawah pohon, memandang sungai, berjalan di jalan kampung, membuka buku, kemudian membiarkan pikiran bekerja tanpa bantuan algoritma.
Biarkan kita mengalami kebingungan. Biarkan salah memahami sebuah paragraf lalu membacanya kembali.
Biarkan menulis kalimat yang buruk lalu memperbaikinya sendiri. Biarkan mahasiswa mengalami malam panjang ketika sebuah persoalan penelitian belum menemukan jawabannya. Karena dalam proses itulah daya intelektual tumbuh.
Pendidikan bukan sekadar kemampuan mendapatkan jawaban dengan cepat pendidikan adalah kemampuan bertahan cukup lama di dalam sebuah pertanyaan.
Belajar dari Norwegia dan negara-negara yang menempatkan kemampuan membaca, literasi, perpustakaan, dan budaya belajar sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Kemajuan teknologi tidak harus membuat buku kehilangan tempat. Justru masyarakat yang maju adalah masyarakat yang mampu menggunakan teknologi dengan cerdas tanpa menyerahkan seluruh kemampuan berpikirnya kepada teknologi.
Teknologi seharusnya menjadi alat yang memperluas kemampuan manusia, bukan menggantikan seluruh proses manusia dalam memahami kehidupan.
AI boleh membantu kita mencari informasi, mengolah data, atau membuka kemungkinan baru dalam penelitian, tetapi keputusan tentang apa yang penting, apa yang benar, apa yang adil, dan apa yang harus diperjuangkan tetap harus lahir dari kesadaran manusia.
Mesin dapat membantu kita membaca dunia, tetapi manusia tetap harus menentukan bagaimana ia memaknai dunia itu.
Mungkin inilah saatnya universitas memutar sedikit arah pendidikannya: dari sekadar mengejar kecepatan menuju kedalaman, dari sekadar mengejar jawaban menuju keberanian mengajukan pertanyaan, dari sekadar menghasilkan tugas menuju menghasilkan pengalaman intelektual, dari sekadar membuat mahasiswa memahami teori menuju membuat mereka mampu membaca masyarakatnya sendiri.
Perpustakaan harus kembali menjadi ruang yang hidup. Buku harus kembali menjadi sahabat. Penelitian harus kembali menyentuh persoalan nyata.
Dan mahasiswa harus diberi kesempatan untuk pergi, melihat, mendengar, mencatat, membaca, kemudian pulang dan bercerita.
Sebab ilmu pengetahuan yang tidak pernah kembali kepada masyarakat pada akhirnya hanya menjadi tumpukan pengetahuan yang kehilangan rumahnya.
Maka, mari mulai dari hal yang sederhana. Buka sebuah buku. Rasakan aura kertasnya. Cium aroma tintanya.
Baca perlahan. Jangan buru-buru mencari ringkasan. Jangan langsung bertanya kepada AI tentang apa yang dimaksud seorang penulis. Temukan sendiri maksudnya.
Berdebatlah dengan buku itu. Tandai halaman yang membuatmu marah, bahagia, bingung, atau berpikir ulang. Setelah selesai membaca, pulanglah.
Temui ibumu. Temui keluargamu. Temui masyarakatmu. Lihat apakah teori yang baru saja kau baca benar-benar hidup di sana.
Barangkali engkau akan menemukan bahwa sebuah konsep yang tampak sangat rumit di ruang kelas ternyata hidup sederhana dalam percakapan seorang petani, dalam kesunyian seorang ibu, dalam sungai yang semakin keruh, dalam tanah yang semakin sempit, atau dalam cerita seorang tua yang perlahan dilupakan generasinya.
Kembali ke buku. Kembali ke ibu. Bukan sebuah ajakan untuk menolak masa depan, tetapi sebuah ajakan agar tidak kehilangan manusia ketika memasuki masa depan.
Boleh menggunakan AI, tetapi jangan biarkan AI mengambil alih seluruh keberanian untuk berpikir. hidup di dunia digital, tetapi jangan sampai lupa bahwa kehidupan nyata berada di luar layar.
“Ibu adalah sosok insan pertama kita mendengar dan membaca”
Boleh membaca ribuan informasi dari seluruh dunia, tetapi jangan lupa membaca satu kampung dengan sungguh-sungguh.
Menjadi mahasiswa yang memiliki pengetahuan global, tetapi tetaplah menjadi manusia yang mengenal tanah tempat ia dilahirkan.
Sebab sebelum kita ingin mengubah dunia, barangkali perlu terlebih dahulu memahami rumah kita sendiri.
Dan mungkin, setelah perjalanan panjang mencari pengetahuan ke mana-mana, akan menemukan bahwa sebagian jawaban yang cari ternyata sedang menunggu di sebuah buku di sebuah rumah sederhana, dalam suara ibu yang sejak awal berkata “Pulanglah, Nak. Ceritakan apa yang sudah kau baca dari buku.”
(Oleh Setia Budhi.PhD, Dosen Senior Jurusan Sosiologi FISIP ULM)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















