LUTUNG KUTAI Terancam Punah!

- Penulis

Sabtu, 6 Desember 2025 - 00:24

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lutung Kutai, salah satu spesies terancam di Hutan Lindung Wehea, Kutai Timur. (Foto: Istimewa)

Lutung Kutai, salah satu spesies terancam di Hutan Lindung Wehea, Kutai Timur. (Foto: Istimewa)

SuarIndonesia — Di tengah minimnya perlindungan hukum negara, keberadaan Lutung Kutai atau Presbytis canicrus justru bertahan berkat penjagaan masyarakat adat Wehea, salah satu suku dayak yang ada di Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim). Meski secara global berstatus Endangered (terancam), satwa ini belum masuk daftar satwa yang dilindungi di Indonesia.

Lutung Kutai juga dikenal dengan julukan “Lutung Drakula” karena warna putih keabuannya yang mencolok di bagian leher hingga dada. Nama ini diberikan oleh salah seorang jurnalis senior konservasi Kaltim, Awaluddin Jalil, yang pernah mengikuti survei satwa ini di Hutan Lindung Wehea karena terlihat seperti memakai jubah.

Primata ini sempat tidak terlihat selama bertahun-tahun dan hampir dinyatakan punah. Sebagian pakar menduga hilangnya lutung Kutai di masa lalu dipicu kebakaran hutan. Luas sebarannya yang kecil membuat spesies ini sangat rentan.

Penemuan kembali terjadi pada 2019 di Hutan Lindung Wehea melalui kamera trap, disusul laporan keberadaan di Taman Nasional Kutai dan area lain dalam bentang alam Wehea-Kelay. Kawasan bentang alam Wehea-Kelay masih menjadi kantong habitat paling aman, termasuk beberapa area perusahaan yang menjaga kawasan High Conservation Value (HCV).

Spesialis Spesies Terancam Punah Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), M Arif Rifqi, menyebut temuan ini sangat penting mengingat sedikitnya pengetahuan tentang satwa tersebut.

“Sebaran lutung Kutai itu hanya ada di tiga lokasi di dunia, salah satunya di hutan Wehea. Perjumpaan langsung sangat jarang, yang banyak justru dari kamera trap,” ujar Arif, Jumat (5/12/2025) melansir detikKalimantan.

Disebutkan, Lutung Kutai sempat masuk dalam sub spesies dari Lutung Banggat atau Presbytis Hosei. Namun pada 2014 Lutung Kutai terpisah dari sub spesies tersebut karena ditemukan fakta lainnya jika secara ciri dan persebarannya berbeda.

“Di hutan Wehea sudah mendata, hanya tidak tahu kalau jenis ini spesial. Kalau jenis primata lain masih bisa diteliti, tapi ini belum. Di masuk 1.3 karena endangered, jenis yang tidak kita ketahui, khawatirnya statusnya lebih terancam dari yang kita perkirakan,” ungkapnya.

Baca Juga :   ASKOMPSI Gandeng LSWare Inc Perkuat Keamaman Digital Pemerintah

Arif mengatakan, meskipun populasinya sangat kecil, Lutung Kutai belum dimasukkan ke daftar satwa dilindungi. Diduga, regulasi pada 2018 belum memperbarui informasi taksonomi terbaru sehingga spesies ini terlewat.

“Mungkin pada saat penyusunan P20 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi tidak mendapatkan sains yang memadai. Sehingga dia tidak update terhadap konferensi primata sehingga tak masuk,” pungkasnya.

Konservasi Adat Wehea, Penjaga Terakhir
Manajer Kemitraan Program Terestrial YKAN, Edy Sudiono, menuturkan bahwa bertahannya Lutung Kutai tidak lepas dari pengelolaan adat Suku Dayak Wehea sejak 2004. Ini membuktikan pentingnya konservasi berbasis adat.

“Bahwa hutan lindung Wehea, sebetulnya inisiatif awal itu belajar dari pengelolaan hutan lindung di mana-mana yang banyak konflik, banyak klaim, dan banyak illegal logging. Dari sini kita coba bagaimana membangun satu model yang melibatkan masyarakat adat. Ini model pengelolaan berbasis adat yang banyak daerah lain ingin pelajari,” kata Edy.

Ia mengatakan masyarakat adat menjadi benteng terakhir perlindungan hutan. Terutama ketika ancaman terhadap kawasan konservasi selalu ada.

“Masuk ke hutan Wehea itu dingin sekali, tajuk rapat, sungai bening. Sulit membayangkan dulunya ini kawasan bekas logging. Semua kawasan hutan memang tentunya ada ancaman dan tantangan, maka itu masyarakat adat sebagai benteng terakhir dalam pengelolaan hutan, kita harus tetap dampingi, kita kembangkan untuk menjaga hutan lindung Wehea ini supaya tidak ada gangguan,” tegasnya.

Penemuan kembali Lutung Kutai menggarisbawahi peran besar kearifan lokal dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Di saat perlindungan negara belum mencakup spesies ini, masyarakat adat Wehea justru menjadi pihak yang paling efektif mempertahankan habitatnya. (*/ut)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

KASUS Eks Bupati Kukar Berlanjut, Pejabat Kemenkeu Dipanggil KPK Jadi Saksi
PEMBANGUNAN IKN Diarahkan ke Sembilan Wilayah Perencanaan
AKP DEKY Diperiksa dan Resmi Dipecat! Diduga Jadi Beking-Terima Dana dari Jaringan Narkoba
AKP BONAR Terancam Dipecat! Terlibat Jaringan Peredaran Narkotika
OIKN Berikan Payung Hukum Masyarakat Adat Jaga Kearifan Lokal IKN
OIKN Ambil Langkah Tegas Penegakan Hukum Pengrusakan Hutan
PEGUNUNGAN Liangpran, Satu Puncak Tertinggi di Kalimantan
SANGKULIRANG-MANGKALIHAT Dipersiapkan jadi Geopark Dunia

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 23:16

KASUS Eks Bupati Kukar Berlanjut, Pejabat Kemenkeu Dipanggil KPK Jadi Saksi

Senin, 25 Mei 2026 - 23:09

DUA GADIS Asal Medan Diamankan, Diduga akan Dijual ke China

Senin, 25 Mei 2026 - 23:02

KASUS K3: JPU Tuntut Eks Wamenaker Noel 5 Tahun Penjara

Senin, 25 Mei 2026 - 22:48

DUA IKON Daerah di Kalteng Ditetapkan jadi Kawasan Berbasis KI

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:50

LAHAN JADI TAMBANG, Warga Adat Barut Ajukan Banding ke PTUN-MA

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:42

PECATAN Polisi Bawa Kabur Mobil

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:33

3 PROVINSI di Kalimantan Rawan Karhutla

Sabtu, 23 Mei 2026 - 22:47

MOMENTUM BERSEJARAH Kesepakatan Hibah Pembangunan Rindam XXII/TB, Begini Penyataan Mayjen TNI Zainul Arifin

Berita Terbaru

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto (tengah) dan Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Panitia SNPMB Tahun 2026 Eduart Wolok (kiri) dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (25/5/2026). (Foto: Antara/Sean Filo M)

Headline

SNBT 2026: 256.369 Peserta Lulus

Selasa, 26 Mei 2026 - 00:28

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca