JEPANG Mencatat 977 Kasus Bakteri Pemakan Daging yang Mematikan, 77 Meninggal

- Penulis

Rabu, 19 Juni 2024 - 00:29

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Ilustrasi -- Per-2 Juni, ada 977 kasus streptococcal toxic shock syndrome (STSS) di Jepang dengan kematian mencapai 77 orang. [www.cdc.gov]

Foto Ilustrasi -- Per-2 Juni, ada 977 kasus streptococcal toxic shock syndrome (STSS) di Jepang dengan kematian mencapai 77 orang. [www.cdc.gov]

SuarIndonesia — Jepang mencatat rekor baru kasus infeksi bakteri ‘pemakan daging’.

Kementerian Kesehatan Negeri Sakura melaporkan per 2 Juni, ada 977 kasus streptococcal toxic shock syndrome (STSS) yang tersebar di seluruh negeri. Selama rentang Januari hingga Maret, sebanyak 77 orang meninggal dunia akibat infeksi ini.

Dilansir dari CNN, ini merupakan rekor baru kasus STSS di Jepang setelah pada 2023 mencapai 941 kasus.

[newscentral.africa]
National Institute of Infectious Diseases Jepang melaporkan pada 2023, sebanyak 97 kematian terjadi akibat STSS. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi kedua selama enam tahun terakhir.

Apa itu STSS?
STSS merupakan kasus infeksi bakteri yang jarang terjadi namun bisa berakibat fatal ketika dialami manusia. STSS mampu berkembang ketika bakteri menyebar ke jaringan dalam dan aliran darah.

Pasien yang terinfeksi mulanya akan menderita demam, nyeri otot, dan muntah-muntah. Gejala ini bisa semakin parah hingga mengancam nyawa karena menurunkan tekanan darah, menyebabkan pembengkakan, dan syok tubuh sehingga beberapa organ tak bisa bekerja.

“Bahkan meskipun diobati, STSS bisa tetap mematikan. Dari 10 orang yang mengidap STSS, tiga orang akan meninggal karena infeksi,” demikian menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Sebagian besar kasus STSS disebabkan oleh bakteri group A streptococcus (GAS). Bakteri ini yang menyebabkan demam dan sakit tenggorokan pada anak-anak.

GAS bisa menjadi invasif ketika menghasilkan racun yang memungkinkannya mendapatkan akses ke aliran darah sehingga mengakibatkan penyakit serius seperti syok toksik.

Kendati begitu, kondisi tersebut cukup jarang terjadi.

GAS juga bisa menyebabkan kondisi fasciitis nekrotikans alias infeksi jaringan lunak yang bisa menghancurkan jaringan di kulit dan otot. Pasien dengan kondisi ini berpotensi kehilangan anggota tubuh.

Kendati demikian, sebagian besar pasien yang mengidap STSS memiliki riwayat kesehatan lain seperti kanker atau diabetes sehingga menurunkan kemampuan tubuh mereka untuk melawan infeksi.

Baca Juga :   REFLEKSI Hidupkan Kembali Perjuangan Pahlawan Bangsa, Menghadapi Tantangan Saat Ini

Meroket Pasca-pandemi
Kasus infeksi bakteri ini sempat tak masif ketika pandemi Covid-19. Sebab saat itu orang-orang mengenakan masker dan menjaga jarak.

Namun, setelah pembatasan dilonggarkan, kasus ini pun kembali merebak.

Pada Desember 2022, lima negara Eropa melapor kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa ada peningkatan invasive group A streptococcus (iGAS) yang kebanyakan menjangkiti anak-anak di bawah 10 tahun.

CDC saat itu juga melaporkan peningkatan serupa ketika mereka mengaku sedang menginvestigasi kasus tersebut.

Pemerintah Jepang sendiri sejak Maret telah memperingatkan bahwa ada lonjakan kasus STSS.

Menurut Institut Nasional Penyakit Menular Jepang, jumlah kasus STSS yang disebabkan iGAS sudah meningkat sejak Juli 2023. Kasus ini disebut banyak terjadi di kalangan orang berusia di bawah 50 tahun.

Seiring dengan itu, CDC menyebut orang tua yang memiliki luka terbuka paling berisiko terjangkit STSS. Begitu pula mereka yang baru menjalani operasi.

“Namun, para ahli tidak tahu bagaimana bakteri itu masuk ke dalam tubuh,” demikian pernyataan CDC.

Sejauh ini, penyebab peningkatan kasus STSS di Jepang tahun ini belum diketahui.

Profesor dari Tokyo Women’s Medical University, Ken Kikuchi, menduga lonjakan kasus di Jepang diakibatkan oleh melemahnya sistem kekebalan tubuh setelah pandemi Covid-19.

“Kita bisa meningkatkan kekebalan tubuh jika kita terus-menerus terpapar bakteri. Namun mekanisme itu tidak terjadi selama pandemi Covid-19,” ujarnya.

“Oleh sebab itu, banyak orang sekarang rentan terhadap infeksi dan mungkin itu jadi salah satu alasan kasus ini meningkat tajam,” imbuh dia. [*/UT]

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

BERGEMA SENI BUDAYA Dilantunkan Ratusan Peserta di Banjarbaru, Kapolda Kalsel : Ini Komitmen Nyata Polri Menjaga Kearifan Lokal
MEMBARA Rumah Tingkat Dua di Kawasan Jafri Zam-zam Banjarmasin
TIGA PRIA Diamuk Warga, Diduga Ingin Curi Kabel Telkom di Banua Anyar
BEM Menuntut Kehadiran Anggota DPR RI Dapil Kalsel
DIPAPARKAN Gubernur Muhidin di Hadapan Kemenhut, Menkopolkam dan Lembaga Terkait Kesiapan Kalsel Hadapi Karhutla
IRAN BEBASKAN BIAYA Melintas di Selat Hormuz selama 60 Hari
PIALA DUNIA 2026: Kanada Bantai Qatar 6-0
AKSI MASSA Tiga Hari Berturut-turut, DPRD Kalsel Janji Senin Mendatang Antar Tuntutan ke DPR RI

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 19:29

POTENSI Karhutla dan Atasi Distribusi BBM, Ini Langkah Telah Dilakukan Polda Kalsel

Sabtu, 13 Juni 2026 - 19:10

KALSEL WASPADA, Telah Muncul Ribuan Titik Panas

Kamis, 11 Juni 2026 - 22:17

WN MALAYSIA DITANGKAP Mau Selundupkan 21,49 Kg Sabu

Kamis, 11 Juni 2026 - 22:05

KASUS TAMBANG EMAS ILEGAL: Pabrik PT SJU Disita Bareskrim

Kamis, 11 Juni 2026 - 21:49

WALHI Minta Pemerintah Perkuat Perlindungan Ruang Hidup Masyarakat Adat

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:38

PULUHAN JEMAAT GEREJA Diduga Keracunan Usai Santap Nasi Kotak

Senin, 8 Juni 2026 - 23:22

WASPADA BANJIR ROB di Kalimantan 14-25 Juni 2026

Senin, 8 Juni 2026 - 23:11

FESTIVAL BAKCANG 2026 Singkawang Hadirkan Beragam Tradisi dan Atraksi Budaya

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca