Jelajah Tiga Negara Singapura, Malaysia dan Thailand Selatan lewat Darat (2)

- Penulis

Jumat, 8 Maret 2019 - 19:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarindonesia – Sebelum meninggalkan Singapura menuju Johor Bahru, kami harus lapor Imigrasi Singapura terakhir di Tuas Link. Biasa kalau pemeriksaan di imigrasi sedikit tegang karena pemeriksaan sidik jari segala, tapi semua beres.

Lepas Tuas Link menuju perbatasan Singapura-Malaysia yang ditandai jembatan Second Link yang di bawahnya mengalir Selat Tebrau.

Setiap memasuki wilayah negara lain, sudah pasti ada pemeriksaan imigrasi dan bea cukai atau customs. Begitu juga dengan Malaysia, tidak hanya paspor yang diperiksa dan distempel, tapi juga customs untuk pemeriksaan semua barang bawaan.

Namun petugas imigrasi dan customs Malaysia melayani dengan ramah dan cepat, tapi barang bawaan tetap harus melalui cek x-ray. Sedikit beda dengan Singapura wajah tanpa ekspresi tidak ada di petugas imigrasi dan customs Malaysia.

Masuk Kota Johor Bahru, kami makan malam dulu di Mana Cafee. Hidangan yang disajikan menu masakan khas Melayu, mulai rendang daging hingga berbagai macam makanan bersantan. Semua lauk pauk bisa diambil sepuasnya sampai beberapa kali.

Kami menginap di V8 Hotel yang berbintang tiga di pusat kota atau bandar raya Provinsi Johor Bahru. Johor Bahru merupakan salah satu di antara 14 provinsi di Malaysia.

Keesokan harinya, Kamis (7/3/2019) kami melakukan perjalanan panjang sejauh 847 km lewat tol dari Johor Bahru menjuju Kuala Lumpur, yang merupakan tol terpanjang tanpa putus di negara itu. Tapi sebelumnya kami mampir di Kota Melaka, provinsi dengan wilayah nomor dua terkecil di Malaysia, namun dengan nama melegenda. Provinsi paling kecil adalah Perlis.

Suatu hal yang berlaku internasional adalah kewajiban harus menggunakan guide lokal. Kali ini Konsorsium Travel Tiga Negara menggunakan guide lokal bernama Habibi, pria tinggi besar yang masih bedarah Minang dari leluhurnya ini, sangat ramah dan fasih Berbahasa Indonesia meski dengan dialek Melayu.

Habibi bertutur soal sejarah Kota Melaka. Kota Melaka yang berpenduduk 800 jiwa ini ternyata menempati nomor wahid di destinasi pariwisata di Malaysia. Kuala Lumpur saja kalah.

Walaupun bukan hari libur, namun gerak pariwisata di kota itu tidak pernah tidur. Melaka bersama Johor Bahru Kelantan, Terengganu dan Kedah menetapkan hari libur Jumat dan Sabtu.

Baca Juga :   TONGKAT KOMANDO Kapolresta Banjarmasin Dipegang Kombes Pol Riza Muttaqin, Begini Komitmen dan Prioritasnya

Melaka mengandalkan gedung bersejarah dan kuliner terkenalnya masakan asam pedas mirip pindang Palembang. Bukan hal yang aneh, Melaka merupakan kota pelabuhan terbesar di masa lalu, sehingga menjadi incaran para penjajah.

Melaka pernah dijajah tiga negara, Portugis, Belanda dan Inggris. Tak heran, arsitektur gedung-gedungnya menjadi sangat menarik karena ketiga gaya arsitektur negara bekas penjajahnya bisa ditemukan di kota ini.

Penjajah pertama, Portugis pertama kali mendarat di Melaka pada tahun 1511 dengan membawa pasukan sebanyak 1.200 orang. Melaka jadi tanah jajahan Portugis di tahun itu juga, dan Melaka menjadi basis Portugis dalam ekspansinya ke India.

Yang kedua, tahun 1641 Belanda mengambil alih kota ini dari Portugis, mereka berkuasa dari tahun 1641 hingga 1795. Belanda tidak membangun kota ini karena mereka memusatkan pembangunan di Batavia atau Jakarta yang merupakan pusat kekuatan administrasi dan militer mereka. Tetapi mereka masih membangun satu gedung yang memiliki arsitektur Belanda yang diberi nama Stadthuys atau Red Building (Bangunan Merah) dan ada kincir angin.

Penjajahan terakhir dimulai tahun 1824 kota ini resmi menjadi koloni Inggris setelah terjadi pertukaran tanah jajahan dengan Bengkulu di Sumatera. Kota ini lalu menjadi bagian dari Negara Malaysia setelah Inggris tidak lagi berkuasa.

Kota tua Melaka ini adalah kota yang memiliki banyak tempat wisata yang menarik. Tak akan cukup jika berjalan-jalan di kota Melaka ini hanya dalam satu hari.

Ketika waktu menunjukkan pukul 14.00 waktu setempat selepas makan siang di restorran Nyonya Sayang di Kota Melaka, bus kami beranjak menuju Kuala Lumpur.(Rachman Agus/bersambung)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

DITAHAN POLISI Terduga Pelaku Penipuan Arisan Online, Para Korban Berharap Hukuman Diberikan jadi Efek Jera
RATUSAN PESERTA Berkompetisi “Road Safety Week” SDC Ditlantas Polda Kalsel
BGN Keluarkan 1.653 Satuan Pendidikan Penerima MBG
KALIMANTAN 10 Besar ISPU Tertinggi, Kotim di Posisi Teratas
POLICE LINE Lokasi Dugaan Tambang Emas di Palau Aranio
HAJI ISAM Dikabarkan Bidik 62% Saham BYAN Rp 52,7 T
3.105 HA TNTP Terbakar, Habitat Orang Utan Terancam!
KORUPSI HUTAN: Kejagung Sita Rp1,003 Triliun dari PT PSMI

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 22:22

ICT: Mekanisme Akumulasi Kuota Internet Harus Dibuat Sederhana

Rabu, 2 September 2026 - 21:48

FIRMAN YUSI Bantu Operasional Tiga UPBS di Tabalong dan Bagikan Masker

Selasa, 1 September 2026 - 21:44

SOSPER Penyelenggaraan Kesehatan, Begini Himbauan Ketua Dewan Kalsel

Senin, 31 Agustus 2026 - 18:29

KEGIATAN Sosial Kemanusiaan Kejati Kalsel Donor Darah

Kamis, 27 Agustus 2026 - 22:12

AKSI Tanggap Lingkungan Dipimpin Kapolsek Banjarmasin Selatan

Rabu, 26 Agustus 2026 - 16:28

LANJUT BAHAS Ranperda Penyelenggaraan Kesehatan

Kamis, 20 Agustus 2026 - 14:10

KABUT ASAP di Kalsel Rentan Meningkat Penyakit ISPA, Polisi Bagikan Masker

Kamis, 13 Agustus 2026 - 23:31

WASPADAI Risiko ISPA Selama Musim Kemarau

Berita Terbaru


Kepala BGN Sudaryono. (Foto: HO-BGN)

Nasional

BGN Keluarkan 1.653 Satuan Pendidikan Penerima MBG

Sabtu, 12 Sep 2026 - 00:01

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca