SuarIndonesia — Proses identifikasi korban kecelakaan helikopter PK-CFX yang jatuh di Sekadau terus dilakukan oleh petugas Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo Polda Kalimantan Barat (Kalbar). Hingga Jumat (17/4/2026) sore, empat dari delapan jenazah telah berhasil diidentifikasi.
Dari hasil pencocokan tersebut, empat korban yang telah teridentifikasi yakni Joko Catur Prasetyo, Charles Dominson Lakidang, Patrick Kee Chuan Peng (warga negara Malaysia), dan Victor Tan Keng Liam.
Kepala Bidang Dokkes Polda Kalbar, Kombes Subur mengatakan, seluruh jenazah tiba di rumah sakit sekitar pukul 10.30 WIB dan langsung ditangani tim forensik.
“Penanganan dilakukan oleh empat dokter spesialis forensik. Saat ini proses identifikasi melalui pencocokan data ante mortem dan post mortem,” ujarnya dalam konferensi pers, Jumat (17/4/2026).
Ia menjelaskan, data ante mortem diperoleh dari keluarga korban yang datang ke posko, meliputi identitas, ciri fisik, hingga riwayat medis korban sebelum meninggal.
“Misalnya tanda lahir, kondisi fisik, hingga riwayat tertentu yang bisa membantu proses pencocokan dengan kondisi jenazah,” jelasnya.
Sementara itu, empat jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi. Tim masih menunggu kelengkapan data dari pihak keluarga yang terus berdatangan ke rumah sakit.
Subur menyebut, secara umum kondisi jenazah masih memungkinkan untuk dikenali sehingga membantu proses identifikasi. Namun, prosedur tetap dilakukan secara menyeluruh guna memastikan keakuratan data.
“Semua jenazah sudah berada di ruang post mortem dan telah dilakukan tindakan. Tinggal proses pencocokan dengan data keluarga agar benar-benar valid sebelum diserahkan,” katanya.
Setelah proses rekonsiliasi dinyatakan lengkap dan disaksikan pihak keluarga, jenazah akan diserahkan secara resmi untuk dimakamkan.
Polda Kalbar, kata dia, berharap proses identifikasi dapat segera rampung, mengingat sebagian besar keluarga korban telah berada di Pontianak.
“Semakin cepat data ante mortem lengkap, maka proses identifikasi juga bisa segera diselesaikan,” pungkasnya.

Operasi SAR di Kalbar Resmi Ditutup
Sementara itu, dilansir dari detikKalimantan, operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap kecelakaan helikopter PK-CFX di Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, resmi ditutup pada Jumat (17/4/2026). Penutupan dilakukan setelah seluruh korban berhasil ditemukan dan dievakuasi oleh tim SAR gabungan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak, I Made Junetra memastikan seluruh korban dalam insiden tersebut telah ditemukan, meski dalam kondisi meninggal dunia.
“Seluruh korban telah ditemukan, namun dalam kondisi meninggal dunia. Kami turut berduka cita yang mendalam kepada seluruh keluarga korban,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

KNKT: Heli PK-CFX tak Dilengkapi Black Box
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengusut penyebab kecelakaan helikopter PK-CFX di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat (Kalbar). Dalam temuan awal, helikopter tersebut diketahui tidak dilengkapi perangkat perekam data penerbangan atau black box.
Investigator KNKT, Dian Saputra menjelaskan, helikopter tipe Airbus Helicopters H130 memang tidak dilengkapi Cockpit Voice Recorder (CVR) maupun Flight Data Recorder (FDR) seperti pesawat komersial.
“Untuk helikopter jenis ini memang tidak dilengkapi black box seperti pesawat besar. Tidak merekam percakapan,” ujarnya saat konferensi pers di Kantor SAR Pontianak, Jumat (17/4/2026).
Ketiadaan perangkat tersebut menjadi tantangan dalam proses investigasi. Meski begitu, KNKT tetap mengumpulkan berbagai data pendukung untuk mengungkap kronologi kecelakaan.
“Kita berupaya mendapat informasi dan data dari alat perekam yang lain,” ujarnya.
Salah satu sumber data yang akan dianalisis adalah perekam performa mesin (engine data recorder) yang dimungkinkan masih menyimpan informasi penting terkait kondisi teknis sebelum insiden terjadi. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















