Suarindonesia – Pemko Banjarmasin menawarkan tiga opsi untuk relokasi sekitar 1.500 pedagang Pasar Ujung Murung dan Sudimampir, masing-masing di Mitra Plaza, bantaran sungai Martapura di Pelabuhan Lama milik Pelindo, dan Terminal Pal 6.
Relokasi atau pemindahan sementara pedagang Pasar Ujung Murung dan Sudimampir akan dilakukan sehubungan rencana pembangunan dan menjadikannya kedua pasar tersebut menjadi pasar modern seperti Pasar Tanah Abangnya Jakarta.
Wakil Walikota Banjarmasin H Hermansyah mengatakan telah menindaklanjuti pada hasil rapat awal terkait pembagian tim relokasi
penataan Pasar Ujung Murung dan Sudimampir dengan mengagendakan pemanggilan kepada pedagang maupun pengelola untuk diberitahukan.
Politisi PDIP Kalsel ini menyatakan, Pasar Ujung Murung dan Sudimampir ini dinilainya unik. Mengingat ada sekitar 10 pedagangnya berstatus hak milik, sisanya berstatus HGB dan HPL.
“Tentu ini dilakukan pendataan ulang guna memperjelas status HGB dan HPL pedagang di Pasar Ujung Murung dan Pasar Sudimampir,” katanya.
Kemudian, pada rapat koordinasi terkait relokasi yang dihelat Rabu (21/11/2018) di ruang rapat Sekdako Banjarmasin ini bertujuan mencarikan lokasi pemindahan pedagang untuk sementara.
“Jadi ada beberapa alternatif, termasuk lahan yang ada di Mitr Plaza, bantaran Sungai Martapura di Pelabuhan Lama, milik Pelindo, dan di Pal 6,” ucapnya.
Menurutnya, jika lahan yang tersedia tidak bisa tertampung, maka Pemko Banjarmasin berusaha mencarikan kembali untuk kekurangannya. “Jadi, tergantung berapa pedagang yang ditampung. Untuk sementara pedagang ini diperkirakan sekitar 1.000,” ucapnya.
Dengan direlokasikannya Pasar Ujung Murung dan Sudimampir ini, Hermansyah berharap pedagang merasa nyaman dan pembeli mudah untuk mengakses sesuai dengan misi Pemko dalam mewujudkan Banjarmasin Baiman.
Apalagi, tambahnya, Pasar Ujung Murung ini dinilai memiliki sejarah historis pernah menjadi pusat grosir dan tertua di Banjarmasin termasuk di Kalsel. “Jika pasar ini tak segera dibenahi, tentunya tidak bisa kita wujudkan menjadi Banjarmasin Baiman,” ujarnya.
Malah, ujar Hermansyah, Pasar Ujung Murung dan Sudimampir ini dianggapnya luar biasa kumuh. Sedangkan Pemko saat ini lagi
gencar-gencarnya membenahi jalan maupun gang. “Tetapi untuk di pusat kota seolah-olah dibiarkan,” katanya.
Oleh sebab itu, perlunya melibatkan seluruh SKPD terkait dalam mewujudkan Banjarmasin Baiman demi menata Pasar Ujung Murung dan Sudimampir sehingga bisa ditawarkan kepada investor sesuai dengan aturan perizinannya.
“Memang pada masa kepemimpinan Sadjoko dan Sofyan Arpan sempat mewacanakan untuk menata ulang. Maka dari itu, kita ingin menata kembali, mengingat kedua pasar ini makin hari makin kumuh,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Disperindag Drs H Khairil Anwar saat dikonfirmasi mengaku saat masih dalam proses pendataan yang tertampung sekitar 500 lebih. “Kita memiliki tahapan melalui tim pendataan, mulai.tempat relokasi, pendataan pedagang hingga dilakukam sosialisasi,” ucap Khairil.
Mantan Kadisperindag Kota Banjarmasin ini mengatakan, terkait tindak lanjut revitalisasi ini untuk lebih jelasnya bisa ditanyakan langsung kepada Walikota atau Wakil Walikota Banjarmasin menyangkut kebijakannya.
Sebelumnya, pada 2014 Pemko Banjarmasin sudah membuat design engineering detail (DED) untuk memperpermak wajah kedua pasar yang semrawut itu menjadi tertata hingga modern. Sedikitnya, dalam kalkulasi sementara dibutuhkan dana Rp200 miliar untuk revitalisasi Pasar Ujung Murung , agar setara Pasar Tanah Abang Jakarta.
Pada awal Mei 2017, sudah ada calon investor yang tertarik untuk mengubah penampilan Pasar Ujung Murung melalui PT Prima Lestari. Bahkan, perusahaan ini sudah membeberkan rencana bisnis untuk membangun pasar yang sudah ada sejak zaman Belanda dengan megah berlantai 8.
Lantas bagaimana kelanjutannya? Padahal, proses revitalisasi cukup gencar dilakoni Walikota HA Yudhi Wahyudi dan dilanjutkan Muhidin dalam masa pemerintahannya. Mulai pembebasan Pasar Burung yang masuk kawasan Ujung Murung, hingga disulap menjadi Taman Siring Kota.
Posisi Pasar Ujung Murung pun sangat strategis, karena berada di tepian Sungai Martapura dan pusat kota. Hanya saja, pemandangan pasar yang kumuh dan tak tertata, hingga menjadi kawasan langganan macet menjadi pemandangan sehari-hari.
“Ya, memang ada rencana revitalisasi Pasar Ujung Murung, setiap kali muncul pemimpin kota. Bahkan, beberapa tahun lalu sudah digulirkan, namun tak pernah terealisasi,” ucap Rakhmat, seorang pedagang kain di Pasar Ujung Murung.(SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















