SuarIndonesia — Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membantah terlibat dalam serangan terhadap penjaga perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) yang menewaskan tiga prajurit TNI.
“Dalam 24 jam terakhir, IDF telah meninjau insiden pada Senin (30/3/2026), di mana pasukan UNIFIL dilaporkan terluka akibat ledakan di wilayah Bani Hayyan, Lebanon selatan,” kata IDF di Telegram, Selasa (31/3/2026).
Mereka mengaku tidak memasang alat peledak dan “tidak ada pasukan kami di lokasi tersebut.”
UNIFIL sebelumnya melaporkan seorang penjaga perdamaian Indonesia gugur pada Minggu (29/3/2026) setelah sebuah proyektil menghantam salah satu posnya.
Pada Senin, UNIFIL juga melaporkan dua penjaga perdamaian Indonesia lainnya tewas dalam serangan terhadap kendaraan patroli mereka di wilayah Bani Hayyan.
Pada Selasa, Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat di New York atas permintaan Indonesia dan Prancis.
“Kami menyatakan dengan jelas dan ini perlu diulang berkali-kali, pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi sasaran,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian Jean-Pierre Lacroix dalam pertemuan itu.
Eskalasi antara Israel dan Hizbullah dimulai pada 2 Maret, ketika kelompok tersebut melanjutkan serangan roket ke wilayah Israel di tengah memburuknya situasi di Timur Tengah.
Sebagai tanggapan, Israel melancarkan serangan besar ke Lebanon, termasuk wilayah selatan, Lembah Beqaa, dan pinggiran Beirut.

RI tuntut PBB selidiki serangan Israel
Sementara itu, dilansir dari Antara, perwakilan tetap RI untuk PBB Umar Hadi menuntut penyelidikan PBB yang cepat, menyeluruh, dan transparan atas serangan Israel di Lebanon selatan yang menewaskan tiga prajurit Indonesia dalam misi UNIFIL akhir Maret 2026.
Pemerintah Indonesia juga meminta Dewan Keamanan memantau dan menindaklanjuti hasil penyelidikan secara tegas, serta menuntut pertanggungjawaban hukum para pelaku tanpa pemberian kekebalan dalam kasus serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tersebut.
Berbicara dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB tentang Situasi di Timur Tengah, Selasa, Umar mengutuk keras serangan terhadap pasukan UNIFIL pada 29 dan 30 Maret 2026.
Indonesia turut mendesak semua pihak, termasuk Israel, menghentikan agresi serta mematuhi hukum internasional guna menjamin keselamatan personel dan perlindungan aset milik Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Umar menegaskan keselamatan pasukan penjaga perdamaian harus menjadi prioritas utama, termasuk melalui langkah darurat guna memperkuat perlindungan personel di tengah meningkatnya eskalasi konflik di lapangan.
Langkah tersebut mencakup peninjauan ulang protokol keamanan serta pengaktifan rencana evakuasi yang disesuaikan dengan perkembangan situasi di wilayah konflik Lebanon selatan.
Dewan Keamanan diminta menegaskan kembali prinsip perlindungan pasukan penjaga perdamaian serta mengambil langkah konkret untuk memastikan keselamatan mereka dari serangan lanjutan.
Indonesia menegaskan komitmennya terhadap perdamaian dunia serta mendesak Dewan Keamanan bertindak tegas, bersatu, dan jelas dalam merespons insiden tersebut. (*/ut/sputnik/ria novosti)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















