SuarIndonesia — Teheran menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap terbuka untuk pelayaran global, tetapi tertutup untuk musuh-musuh Iran.
Penasihat pemimpin tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, mengatakan bahwa akhir perang akan ditentukan oleh strategi Iran daripada “ilusi” para musuhnya.
“Perang akan berakhir dengan strategi dan otoritas Iran, bukan dengan khayalan dan ilusi para agresor,” katanya di X.
Pernyataan tersebut disampaikan beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi dari Gedung Putih bahwa Iran hanya memiliki “sedikit” peluncur rudal dan bahwa kemampuannya untuk meluncurkan rudal dan drone telah “sangat berkurang.”
Trump mengatakan dia memperkirakan perang akan berlanjut selama dua hingga tiga pekanlagi, tetapi percaya konflik tersebut telah mendekati akhir.
Di lain pihak, Iran telah mempertahankan kendalinya atas Selat Hormuz—jalur perairan strategis untuk pasokan energi ke negara-negara Asia.
Teheran telah mengizinkan kapal-kapal dari sejumlah “negara sahabat” Iran untuk melintasi Hormuz.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang mengakibatkan lebih dari 1.340 kematian, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan Iran menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.

Trump ultimatum Iran buka Selat Hormuz dalam 48 jam
Sementara itu, dikutip dari Antara, Presiden Donald Trump menyatakan Iran memiliki waktu 48 jam untuk mencapai kesepakatan nuklir atau membuka kembali Selat Hormuz.
“Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk membuat kesepakatan atau membuka Selat Hormuz,” kata Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social, Sabtu (4/4/2026).
“Waktu hampir habis — 48 jam sebelum neraka menimpa mereka,” ujarnya.
Pada 26 Maret, Trump mengatakan ia memperpanjang tenggat negosiasi nuklir menjadi 10 hari setelah Iran mengizinkan 10 kapal tanker minyak berbendera Pakistan melewati Selat Hormuz.
Eskalasi di Timur Tengah telah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta fasilitas militer AS di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk.
Iran juga membatasi pergerakan kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. (*/ut/anadolu/antara)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















