BURUNG Pentis, si Biru-Kuning dari Hutan Borneo

- Penulis

Minggu, 7 Desember 2025 - 21:57

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Burung Pentis Kalimantan. (Foto: dok eBird/Matthew Kwan)

Burung Pentis Kalimantan. (Foto: dok eBird/Matthew Kwan)

SuarIndonesia — Burung Pentis Kalimantan merupakan salah satu jenis burung kecil yang memikat perhatian karena keindahan warna tubuhnya. Mereka adalah satwa endemik Pulau Borneo yang mencakup Kalimantan, Sarawak, Sabah, dan Brunei Darussalam.

Keberadaan burung mungil ini juga penting bagi lingkungan. Burung Pentis Kalimantan, mulai dari taksonomi, ciri-ciri, perilaku, makanan, musim kawin, hingga perannya buat lingkungan.

Taksonomi Burung Pentis Kalimantan
Burung pentis kalimantan diklasifikasikan dalam ordo Passeriformes atau burung yang bertengger dan famili Dicaeidae atau burung pemakan bunga. Dilansir dari Animal Diversity, berikut taksonomi dari burung Pentis Kalimantan:

  • – Kelas: Aves
    – Ordo: Passeriformes
    – Famili: Dicaeidae
    – Genus: Prionochilus
    – Spesies: Prionochilus xanthopygius

Ciri-ciri Burung Pentis Kalimantan
Burung Pentis Kalimantan juga dikenal dengan nama yellow-rumped flowerpecker. Dinamai demikian karena memiliki bercak kuning khas pada bagian tungging, baik jantan maupun betina.

Burung ini mirip dengan Pentis pelangi, namun petis kalimantan tidak memiliki setrip kumis putih. Berikut beberapa ciri-ciri fisik burung pentis kalimantan, dilansir dari eBird:

  • – Ukuran tubuh: Kecil, panjang sekitar 9-10 cm, berbentuk menyerupai bola kecil berwarna-warni.
    – Paruh: Pendek, tebal, sangat sesuai untuk pola makan frugivora (pemakan buah).
    – Warna jantan: tubuh atas biru, bawah kuning cerah, mahkota kecil merah, sapuan oranye di dada.
    – Warna betina: kepala kelabu, sayap kuning zaitun, tubuh bawah kuning kusam dibanding jantan, tenggorokan putih.

Perilaku dan Pola Makan
Dilansir dari Simply Bird, burung Pentis Kalimantan utamanya memakan buah-buahan kecil dan beri. Salah satu makanan favoritnya adalah buah mistletoe atau benalu, yang bijinya tersebar melalui kotorannya.

Burung ini juga mengonsumsi nektar, sehingga berperan penting sebagai penyerbuk berbagai tanaman berbunga. Saat mencari makan, gerakannya lincah dan cepat, berpindah dari satu cabang ke cabang lain sambil memetik buah atau mengisap nektar dengan paruhnya.

Baca Juga :   OIKN Bangun Embung untuk Perkuat Ketahanan Lingkungan

Spesies ini sering terlihat berpasangan atau dalam kelompok kecil keluarga, melakukan aktivitas sosial seperti merapikan bulu dan bersuara.

Kicauannya bernada tinggi dan merdu, sering digambarkan sebagai rangkaian bunyi tajam ‘tsip’ atau ‘chip’. Suara ini berfungsi untuk berbagai hal, mulai dari memberi tanda bahaya hingga menjaga komunikasi antaranggota kelompok.

Musim Kawin dan Bersarang
Musim kawin burung Pentis kalimantan biasanya bertepatan dengan masa puncak berbuah di habitatnya, sehingga tersedia cukup makanan untuk membesarkan anak. Betina membuat sarang kecil berbentuk cawan dari serat tumbuhan, lumut, dan benang laba-laba, biasanya digantung pada cabang.

Burung ini bertelur dua hingga tiga butir, yang dierami selama kurang lebih dua minggu. Kedua induk berperan aktif memberi makan anak, dengan membawa buah yang sudah dilumatkan serta serangga.

Anak burung akan meninggalkan sarang setelah sekitar tiga minggu, namun masih tetap dalam pengawasan induk untuk belajar mencari makan dan menguasai perilaku penting demi bertahan hidup.

Peran Ekologis
Selain memiliki keindahan visual, burung pentis kalimantan memegang peran ekologis yang krusial. Sebagai penyerbuk sekaligus penyebar biji, ia membantu regenerasi dan menjaga keragaman hutan.

Konsumsinya terhadap buah mistletoe juga berfungsi mengendalikan pertumbuhan tanaman parasit tersebut, sehingga kesehatan pohon inang tetap terjaga.

Dengan menyebarkan biji dan mendukung reproduksi tanaman, burung ini memperkuat jaringan kehidupan kompleks yang bergantung pada ekosistem hutan sehat. Kehadirannya menjadi indikator keseimbangan ekologis, dan penurunan populasinya dapat menjadi tanda adanya masalah lingkungan yang lebih luas di wilayah sebarannya. (detikKalimantan)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

OIKN Perkenalkan Budaya Lokal kepada Masyarakat
SUSTAIN: Kaltim Pusat Ekspor Batu Bara Indonesia
MOTIF MUTILASI Gegara Dituduh Selingkuh, Pelaku Suami Siri dan Rekannya
POTENSI EL NINO “Godzilla” Mengintai, Waspada Karhutla di Kalimantan
KEMENTERIAN PU Kerahkan 1.461 Alat Berat Tangani Infrastruktur Jalan, di Kalimantan Disiapkan 233 Unit DRU
TERCATAT Ada 56.904 Penumpang Mudik Lebaran Tahun 2026, Telah Diantisipasi Pelindo Sub Regional Kalimantan
SEKOLAH TERINTEGRASI Presiden Prabowo Dibangun di Kabupaten Penajam
DAFTAR Tarif Jalan Tol di Kalimantan, Cek Sebelum Mudik Lebaran

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 23:07

WALI KOTA BANJARBARU Sertakan Rombongan Lurah dan Camat ke Kementerian LH RI

Kamis, 2 April 2026 - 22:15

DUA TERDAKWA di BRI Cabang Tabalong “Telah Meraup” 4,8 Miliar

Kamis, 2 April 2026 - 21:58

PEREMPUAN BERBAJU MERAH Kebingungan Motornya Mogok di Tengah Padat Arus, Kasat Lantas Sigap Mendorong

Kamis, 2 April 2026 - 21:41

AKSI KAMISAN di Tengah Guyuran Hujan dengan Pengawalan – Pelayanan Polresta Banjarmasin

Kamis, 2 April 2026 - 21:22

UNISKA MAB Tambah Guru Besar, Rektor Zainul Resmi Dikukuhkan sebagai Profesor ke-17

Kamis, 2 April 2026 - 16:22

NENEK SIMPAN JASAD Putrinya dalam Freezer

Kamis, 2 April 2026 - 13:08

HANTARKAN ASPIRASI, Sekaligus DPRD Kalsel Berdialog dengan DPR RI

Rabu, 1 April 2026 - 23:53

DUA PEMAIN SABU Disergap Polisi, Sempat Membuang Barang Bukti

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca