SuarIndonesia — Seorang mahasiswi Program Studi Bisnis Digital, Fakultas Bisnis dan Informatika (FBI), Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR) Adhelwis Sekar Risdayanti meraih juara dua pada kompetisi TIK khusus bagi penyandang disabilitas tingkat Regional II.
“Tema lomba ini adalah ‘Inklusi Digital, Aksesibilitas untuk Disabilitas’ di Bali oleh BAKTI Komdigi dan Yayasan Paradifa,” kata Adhelwis Sekar Risdayanti di Palangka Raya, Rabu (30/7/2025).
Mahasiswi semester 5 ini menerangkan, kompetisi berlangsung selama dua jam dengan penilaian dari dua orang juri ini menantang para peserta untuk menunjukkan inovasi dan kemampuan menciptakan solusi berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang inklusif.
Dalam ajang ini, Adhelwis menampilkan proyek konten edukatif digital bertema ‘Inklusi Disabilitas Digital’, yang bertujuan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya aksesibilitas digital bagi semua kalangan, khususnya penyandang disabilitas.
“Saya adalah penyandang Tuli sejak lahir dan aktif di bidang konten digital inklusif. Saya ingin menyuarakan bahwa dunia digital harus bisa diakses oleh siapa saja, tanpa terkecuali,” ujar Adhel.
Proyeknya mengangkat ide utama menciptakan konten digital yang ramah disabilitas. Ia memadukan elemen visual yang inklusif, seperti subtitle, warna yang ramah mata, serta ilustrasi yang merepresentasikan keberagaman disabilitas.
Tak hanya itu, ia juga melibatkan perspektif sesama penyandang disabilitas untuk berbagi tips dan pengalaman mereka dalam menggunakan media sosial dan teknologi digital.
“Teknologi itu bukan hanya untuk generasi muda atau orang yang mahir IT, tapi juga untuk semua, termasuk penyandang disabilitas yang ingin belajar dan berkreasi,” lanjutnya.
Selama persiapan, Adhel mengembangkan seluruh kontennya secara mandiri, tanpa bantuan alat bantu seperti AI maupun gawai pribadi, sesuai ketentuan lomba. Semua desain visual dibuat melalui Canva, lengkap dengan riset dan penulisan konten edukatif yang menggugah kesadaran akan pentingnya inklusi digital.
“Tantangan terbesarnya adalah mengerjakan semuanya sendiri dalam waktu terbatas tanpa alat bantu. Tapi dari situ saya belajar disiplin dan lebih percaya diri,” kata Adhel, dilansir dari ANTARANews.
Dalam proses ini, Adhel mengaku sangat terbantu oleh dukungan dari rekan kampusnya, Andykha Mujizatryo.
“Ia seperti mentor pribadi saya selama proses ini. Memberikan arahan, masukan, dan semangat. Saya sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti dia,” tuturnya.
Saat diumumkan meraih juara kedua, Adhel merasa bangga karena perjuangannya sebagai penyandang disabilitas mendapat pengakuan di tingkat regional.
“Meskipun bukan juara satu, saya tetap merasa hebat. Ini bukan tentang peringkat, tapi tentang membuktikan bahwa disabilitas bukan penghalang untuk berkarya.”
Adhel pun berharap ke depan akan semakin banyak ruang digital yang inklusif, terutama di Kalimantan Tengah. Menurutnya, inklusi bukan sekadar akses teknis, melainkan juga soal keadilan dan penghargaan terhadap semua manusia.
Ke depan, Adhel ingin terus membuat konten edukatif yang inklusif dan mengajak lebih banyak komunitas serta institusi, termasuk kampus, untuk peduli terhadap isu disabilitas digital.
“Semoga ini menjadi langkah awal dari perubahan yang lebih besar,” pungkasnya. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















