Urang Banjar Kaltim dan Kaltara

Urang Banjar Kaltim dan Kaltara

Oleh: Ahmad Barjie B
Penulis beberapa buku sejarah dan budaya Banjar

Manyanga iwak baminyak lanjar
Basayur tarung wan pucuk katu
Ulun himung lawan urang Banjar
Makin kompak dan bersatu

Tasipak tunggul bakas puhun kayu
Jangan kada ingat mamakai sapatu
Amun bubuhan Banjar kompak dan bersatu
Insyaallah Kutai, Kaltim dan Kaltara semakin maju

Pantun di atas mengawali amanat atau pituah Sultan Banjar Khairul Saleh Al-Mu’tashim Billah dalam acara pengukuhan kerukunan bubuhan Banjar Provinsi Kaltim, Provinsi Kaltara dan Kabupaten Kutai Kartanegara di pendopo Kutai Kartanegara Tenggarong, Jumat malam 29 Maret 2019 lalu.

Di hadapan Gubernur Kaltara Dr Irianto Lambrie, yang mewakili Gubernur Kaltim, Bupati Kutai Eddy Darmansyah dan Sultan Kutai Kartanegara Sultan Aji Mohammad Arifin, serta ribuan warga Banjar yang memenuhi pendopo, Sultan Banjar menyampaikan ptuahnya, yang intinya meminta agar urang Banjar di mana saja, termasuk di Kaltim, Kaltara, dan Kutai Kartanegara semakin kompak, rukun dan bersatu antarsesama untuk kemaslahatan dan kemajuan bersama.

Kalau ada urang Banjar yang menjadi calon legislatif, dari partai mana saja, hendaknya didukung dan dipilih, supaya bisa jadi. Kalau ada urang Banjar yang menjadi pejabat publik, hendaknya didukung juga supaya sukses mengemban jabatannya, sehingga mampu memajukan daerah dan masyarakatnya, juga membawa harum nama daerah asalnya yaitu Banjar Kalimantan Selatan.

Bahkan urang Banjar yang badagang atau bajualan, hendaknya juga ditukari (dibeli dan dijadikan langganan) supaya laku, sehingga usahanya semakin berkembang dan membawa kesejahteraan hidup, yang tentu akan berimbas kepada daerah asal. Dengan begitu keberadaan urang Banjar di perantauan semakin eksis dan mampu mewarnai bahkan memajukan daerah.

Sultan berpesan, meskipun urang Banjar di Kaltim, Kaltara dan Kutai Kartanegara sudah sekian lama tinggal di wilayah ini, bahkan sudah dianggap sebagai penduduk asli, bukan pendatang lagi, namun tidak salahnya mereka mampu membawa diri, di maan bumi dipijak, di stiu langit dijunjung, sehingga tidak terjadi konflik dan benturan dengan suku-suku lain. Dengan begitu terwujud persatuan dan kesatuan dalam NKRI yang bhinneka tungal ika.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Irianto Lambrie, bahwa selama ini perantau Banjar dikenal santun, mereka tidak pernah mengganggu dan menyulut konflik dengan suku-suku lain, sehingga terwujud kehidupan yang rukun dan kondusif.

Perantau Andal
Menurut Abdullah Majedi, perantau Banjar di Kaltim dan klatara sangat besar. Di Kabupaten Kutai Kartanegara saja dari jumlah pendidikl yang mencapai 675 ribu jiwa (2018), 45 persennya adalah urang Banjar.

Mengapa jumlah mereka begitu besar? Tak lain karena urang Banjar memang sudah lama merantau (madam) ke daerah ini. Sejak zaman Pangeran Suryanata dari Kerajaan Negaradipa sudah ada hubungan dengan Kerajaan Kutai, dan hal ini berlanjut di zaman Kesultanan Banjar. Bahkan Sultan Kutai pada abad ke-19 pernah mengundang sejumlah perantau Banjar datang ke sini untuk menangani usaha-usaha di bidang perikanan air tawar (sungai), pertanian dan perdagangan, terutama dengan masyarakat Dayak pedalaman. Sultan Kutai bersedia membayarkan utang-utang pajak mereka kepada penjajah Belanda, agar mereka bisa meninggalkan Banjar untuk berdiam di Kutai.

Irianto Lambrie yang berasal dari Rantau Tapin dan sebelum menjadi Gubernur Kaltara memegang sejumlah jabatan di Kaltim menekankan, urang Banjar adalah perantau handal, tidak hanya merantau di daerah-daerah yang ada di Kalimantan, tetapi juga di wilayah-wilayah Nusantara lainnya bahkan hingga ke luar negeri.

Menurutnya, perantau Banjar banyak bekerja sebagai pedagang, petani, nelayan sungai dan usaha-usaha jasa seperti tukang jahit, guru mengaji, ulama dan ustadz, khatib, muadzin, imam dan pengurus masjid.

Perantau Banjar di wilayah ini memiliki keunggulan di bidang agama, dalam arti banyak menggeluti urusan-urusan keagamaan baik formal maupun nonformal. Bagi yang bekerja sebagai pegawai negeri kebanyakan bekerja di instansi/lembaga keagamaan, seperti kantor-kantor kementerian agama, pengadilan agama, perguruan tinggi agama Islam dan sebagainya.

Di masyarakat, perantau Banjar berusaha untuk menghidupkan masyarakat dalam suasana religius. Saat uini kerukunan keluarga Banjar sedang mengupayakan pembangunan rumah Al Qur’an, untuk memfasilitas anak-anak, remaja dan orang dewasa manapun yang ingin belajar Al Qur’an. Intinya komitmen mereka pada bidang keagamaan cukup kuat. Ini terlihat pula pada besarnya arus jamaah dari Kaltim pada setiap event haul Guru Sekumpul.

Melebarkan Sayap
Salah seorang tokoh Banjar asal Barabai, H Khairansyah mengatakan, beberapa daerah di Kaltim dan Kaltara, khususnya Kutai Kartanegara memiliki kekayaan alam yang sangat besar, baik dari sektor pertambangan batubara, migas, kayu dan hasil-hasil hutan lainnya.

Hal ini memudahkan dalam berusaha, pokoknya asal mau berusaha Insyaallah hidupnya akan sejahtera. Banyak toko dan pasar buka sejak pagi hingga malam hari, usaha-usaha perdagangan barang dan jasa juga ramai.

Karena kelebihan ini maka urang Banjar yang bergerak di bidang keagaman juga mendapatkan insentif yang lumayan. Pemerintah memberikan tunjangan yang cukup besar kepada kaum-kaum masjid (marbot), guru-guru agama swasta, dan sejenisnya, hingga para ketua RT pun bergaji Rp1,5 juta per bulan. Dibanding gaji Ketua RT di Banjarmasin yang hanya Rp400 ribu, dan akan naik menjadi Rp500 ribu, tentu jumlah di atas lumayan besar.

Meskipun demikian Khairansyah berharap warga Banjar bisa mengembangkan sayapnya, tak hanya menonjol di bidang keagamaan, tetapi juga bidang-bidnag pembangunan lain yang sangat luas.dengan begitu urang Banjar akan semakin eksis dan dapat memajukan daerah secara lebih komprehensif. Ini tentu membutuhkan diversifikasi pengetahuan dan keahlian, dan hal ini sangat terkait dengan penguatan, pengayaan dan peningkatan pendidikan.

Menurut Muchlis, seorang tokoh perantau Banjar, kerukunan bubuhan Banjar di daerah ini cukup aktif. Pengurusnya tersebar hingga ke kecamatan-kecamatan. Ia mengharapkan selain menjalin hubungan melalui media online, seyogyanya ada media cetak khusus seperti bulletin yang bisa menjadi media informasi, komunikasi dan aspirasi sesama warga Banjar di perantauan.

 922 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: