SuarIndonesia – Kepala Stasiun Klimatologi Banjarbaru, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan pada 2023 ini dinamika atmosfer menunjukkan kondisi El Nino lemah, dan diprediksi berkembang menjadi El Nino moderat atau menengah pada akhir tahun nanti.
“Kondisi ini berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan,” katanya.
Ia mengungkap, kondisi dinamika atmosfer saat ini berbeda dengan tiga tahun terakhir.
Pada 2020 sampai 2022, dinamika atmosfer dipengaruhi La Nina, sehingga mengalami kemarau basah atau kemarau dengan curah hujan di atas normal.
“Tahun ini terjadi El Nino, maka musim kemarau terjadi dengan curah hujan di bawah normal,” ungkap Goeroeh.
Kondisi ini menurutnya perlu diwaspadai oleh masyarakat dan pemerintah, karena kemarau akan lebih panas dibanding tiga tahun terakhir.
“Cukup kering, namun tidak separah tahun 2015 lalu. Suhu maksimum diprediksi 33 sampai 34 derajat Celcius,” ujarnya.
Ia menyampaikan, sebagian besar wilayah Kalsel memasuki puncak musim kemarau pada bulan September.
“Hanya di bagian selatan Tabalong dan bagian barat Balangan yang puncak musim kemaraunya pada bulan Agustus,” jelasnya.(RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















