SuarIndonesia — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan (DPKP Kalsel) mengembangkan porang seluas 127 hektare di enam kabupaten guna mempercepat diversifikasi pangan dan meningkatkan nilai tambah ekonomi petani.
Kepala DPKP Kalsel Syamsir Rahman di Banjarbaru, Selasa (28/4/2026), mengatakan penguatan ketahanan pangan tidak dapat dibebankan pada satu sektor, melainkan harus dilakukan secara kolaborasi lintas perangkat daerah, sesuai arahan gubernur agar seluruh pemangku kepentingan bergerak terpadu dan berkelanjutan.
“Peningkatan kapasitas petani dalam budidaya serta hilirisasi porang menjadi fokus utama pemerintah daerah, karena komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang pasar yang terbuka luas, sehingga mampu menjadi alternatif unggulan dalam sistem pangan daerah,” ujarnya.
Ia menegaskan, diversifikasi pangan menjadi kebutuhan mendesak agar daerah tidak terus bergantung pada komoditas utama seperti padi, sehingga pengembangan porang diharapkan mampu memperluas basis pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan yang lebih adaptif terhadap perubahan.
“Pengembangan porang di Kalimantan Selatan kembali menunjukkan tren positif, seiring dukungan pemerintah daerah serta keberadaan fasilitas pengolahan di kawasan Bati-Bati yang memperkuat rantai pasok dari hulu hingga hilir,” katanya.
Ia merinci luasan pengembangan porang meliputi Kabupaten Tapin 60 hektare, Kabupaten Tanah Laut 16 hektare, Kabupaten Banjar 15 hektare, Kabupaten Hulu Sungai Selatan 15 hektare, Kabupaten Balangan 15 hektare, serta Barito Kuala seluas 6 hektare.
Menurut Syamsir, dukungan anggaran melalui APBD yang disetujui gubernur menunjukkan komitmen kuat pemerintah daerah dalam mengangkat kembali porang, sebagai komoditas strategis untuk diversifikasi pangan sekaligus penguatan ekonomi berbasis pertanian.
“Program porang diarahkan untuk meningkatkan nilai tukar petani dengan menjadikannya sebagai sumber pendapatan tambahan di luar komoditas utama, seperti padi dan jagung, sehingga struktur ekonomi petani menjadi lebih kuat dan berkelanjutan,” ujar Syamsir dilansir dari Antara.
Melalui program “Porang Reborn” tersebut, pemerintah provinsi setempat mendorong pengembangan porang secara terintegrasi dengan melibatkan kelompok tani, memperkuat kelembagaan, serta memastikan hilirisasi berjalan optimal agar produk porang mampu terserap industri dan bersaing di pasar domestik maupun ekspor. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















