Suarindonesia – Sejumlah anggota dari Tim K-9 Dit Samapta Polda Kalsel, melakukan penyisiran pada dua tempat Klenteng di Banjarmasin, Senin (4/2) sore.
Dua anjing pelacak ikut diturunkan dan menyisir di sekeliling tempat peribadatan etnis Tionghoa ini.
Seperti diketahui, Imlek 2019 atau tahun baru Cina 2570 dilaksanakan Selasa, 5 Februari

Dari pantauan, sejumlah petugas dipimpin Bripka Pol Samosir, membawa pula para Polisi Wanita (Polwan), tiba di Klenteng Klenteng Soetji Nurani Jalan Piere Tendean Kota Banjarmasin, sekitar pukul 15.30 WITA, dan dilanjutkan ke Klenteng yang ada di kawasan Pasar Cempaka Banjaramsin Tengah.
Selain melakukan penyisiran, mendata dan berkoordinasi dengan pengurus Klenteng tentang maksud dan tujuan kedatangan mereka di lokasi.
Bahkan tiga Polwan mencatat apa saja yang diminta pengurus sehubungan dengan akan dilaksanakan pribadatan serta kegiatan lainnya.
“Sampai saat ini tidak ditemukan hal mencurigakan.
Untuk pengamanan lanjut ada tim lain baik dari Intel, Reskrim maupun Samapta, Kita akan koordinasi terus dengan pengurus Klenteng,’’ kata Bripka Pol Samosir.
Diketahui untuk perayaan Tahun Baru atau Imlek di Indonesia, menempuh jalan panjang dan berliku dengan 32 tahun telah dipendam.
Itu akibat rezim Orba, sehingga tidak berdaya, atas kebebasan etnis asal daratan Tiongkok ini dikekang.
Bahkan mereka menjadi korban diskriminasi yang justru diperankan negara.
Namun kini, etnis Tionghoa bernapas lega berkat jasa Presiden ke-4, Abdurrahman ‘Gus Dur’ Wahid, yang menerbitkan Kepres Nomor 6 Tahun 2000 tentang Pencabutan Inpres Nomor 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat China.
Dengan Keppres No 6/2000 inilah, ekspresi budaya, agama, dan kepercayaan bagi etnis Tionghoa
telah dibebaskan secara terbuka, sebagaimana terlihat pada salah satu tradisi Imlek, yaitu permainan barongsai, yang kemarin sudah ramai di sejumlah tempat di Banjarmasin. (ZI)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















