SuarIndonesia — Tekanan fiskal mulai dirasakan hingga ke pemerintahan desa. Sebelas kades dari Kabupaten Pulang Pisau dan Katingan mendatangi DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng). Kedatangan mereka untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi di tengah keterbatasan anggaran.
Keluhan paling mencolok datang dari sektor pendanaan desa. Sejumlah desa mengaku mengalami penurunan Alokasi Dana Desa (ADD) secara signifikan. Jika sebelumnya anggaran yang diterima bisa mencapai Rp 1 miliar hingga Rp 1,5 miliar, kini ada desa yang hanya memperoleh sekitar Rp 200 juta hingga Rp 300 juta.
Kondisi tersebut membuat pemerintah desa harus memangkas atau menyesuaikan berbagai rencana kegiatan. Di sisi lain, kebutuhan untuk menjalankan pemerintahan, memberikan pelayanan kepada masyarakat, hingga menangani persoalan di wilayah tetap berjalan.
Ketua Komisi II DPRD Kalteng, Siti Nafsiah mengatakan, sebelas desa yang datang terdiri dari enam desa dari Kabupaten Pulang Pisau dan lima desa dari Kabupaten Katingan. Mereka membawa sejumlah persoalan yang dinilai membutuhkan perhatian pemerintah.
“Pada Selasa (6/10/2026) kemarin mereka menemui kami di Komisi II. Mereka menyampaikan aspirasi, pokok-pokok pikiran mereka terkait dengan permasalahan-permasalahan di kecamatan dan desa masing-masing,” ujar Nafsiah dikutip SuarIndonesia dari detikKalimantan, Kamis (8/10/2026).
Selain persoalan anggaran, para kades juga menyampaikan minimnya dukungan sarana dan prasarana untuk sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Kebutuhan pembangunan infrastruktur yang menghubungkan antarwilayah desa turut menjadi perhatian.
Menurut Nafsiah, kondisi geografis Kalteng yang luas membuat kebutuhan setiap desa tidak sama. Desa di wilayah pedalaman menghadapi persoalan akses dan infrastruktur, sedangkan desa yang berada di kawasan pesisir membutuhkan dukungan lebih besar untuk mengembangkan sektor perikanan.
“Dari mereka menyampaikan bahwa belum mendapatkan bantuan berupa sarana pertanian, peternakan, perikanan juga bagi yang di wilayah pesisir. Diharapkan ke depannya ini menyisir kepada mereka,” jelasnya.
Persoalan kebencanaan juga ikut dibawa dalam pertemuan tersebut. Para kepala desa menyampaikan kekhawatiran terhadap kekeringan serta kebutuhan peralatan pemadam kebakaran untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Ketersediaan sarana pemadam dinilai penting bagi desa-desa yang lokasinya jauh dari pusat pemerintahan. Ketika kebakaran terjadi, keterbatasan akses dapat membuat penanganan membutuhkan waktu lebih lama,” ujarnya.
Namun, keterbatasan anggaran desa menjadi persoalan yang dinilai paling mendesak. Dengan dana yang semakin kecil, pemerintah desa mengaku kesulitan menentukan prioritas program yang masih bisa direalisasikan.
“Salah satunya itu. Jadi ada satu desa, misalnya bisa Rp 1 miliar atau Rp 1,5 miliar, sekarang itu ada yang tersisa cuma Rp 200juta – Rp 300 juta,” ungkap Nafsiah.
Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat kepala desa harus kembali menghitung kemampuan keuangan masing-masing untuk menjalankan program sekaligus menyelesaikan persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
“Dalam rangka itu juga mereka ini kan kebingungan, ke mana lagi mereka untuk merealisasikan program dan kegiatannya dan untuk mengatasi persoalan-persoalan di desa mereka kalau anggarannya yang sangat-sangat minimalis,” lanjutnya.
Nafsiah memahami tekanan fiskal tidak hanya dirasakan pemerintah desa. Pemerintah Provinsi Kalteng juga menghadapi keterbatasan anggaran sehingga ruang untuk memberikan dukungan tambahan kepada kabupaten dan desa turut terbatas.
Meski demikian, ia berharap keterbatasan fiskal tidak membuat pelayanan publik dan pembangunan di tingkat desa semakin tertinggal. Pemerintah diharapkan tetap mencari ruang kebijakan agar bantuan dapat diarahkan kepada wilayah yang memiliki kebutuhan paling mendesak.
“Jadi ini harus diupayakan ya. Kita mengimbau juga kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah supaya dengan kondisi anggaran yang seperti ini kita masih tetap bisa mengupayakan kepada asas pemerataan dan cukup berkeadilan bagi masyarakat kita,” pungkasnya. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















