SuarIndonesia — Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mematangkan strategi baru dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan.
“Penanganan sebenarnya sudah berjalan, tetapi karena api belum mati, akhirnya merembet ke wilayah lain. Karena itu, diperlukan strategi baru untuk melakukan penanganan,” ujarnya di Banjarbaru, Jumat (9/10/2026).
Dia mengatakan penanganan karhutla yang telah berjalan masih menghadapi tantangan karena api yang belum sepenuhnya padam berpotensi merembet ke wilayah lain.
Oleh sebab itu, diperlukan strategi baru dengan pemetaan yang lebih terperinci dan pembagian tugas yang jelas.
Sebagai langkah awal, tim akan menyusun peta secara terperinci dengan penandaan pada sejumlah poligon sasaran.
Pemetaan ini diharapkan memudahkan tim lapangan menentukan lokasi prioritas dan mempercepat pergerakan personel dalam melakukan pemadaman.
Selanjutnya, pada Jumat pagi, tim teknis dari kementerian dan perangkat daerah membahas peta tersebut untuk mematangkan rencana operasi penanganan darurat.
Setelah itu, tim dinas terkait bergerak sesuai dengan rancangan kegiatan yang telah disusun.
Pemerintah juga menjadwalkan pertemuan teknis seusai Shalat Jumat dengan melibatkan 10 unit usaha. Pertemuan tersebut untuk menyelaraskan dukungan dan kesiapan penanganan karhutla.
Pada Sabtu (10/10/2026) ini, dilaksanakan apel gelar pasukan dilanjutkan dengan operasi di lokasi sasaran.
Wilayah Jalan Gubernur Sarkawi dan kawasan Handil Bakti menjadi perhatian karena munculnya sumber api baru yang berpotensi memperluas kebakaran.
Hanif menegaskan pemadaman harus dilakukan secara optimal agar api tidak terus merembet, terlebih sumber daya penanganan semakin terbatas.
“Kalau api tidak mati, risikonya akan terus merembet. Sementara itu, ketersediaan sumber daya untuk penanganan semakin terbatas,” katanya.
Melalui konsolidasi lintas sektor dan pemetaan yang lebih terarah, pemerintah berharap penanganan karhutla di Kalimantan Selatan dapat berjalan lebih efektif, terutama dalam mengendalikan sumber api baru dan mencegah meluasnya kebakaran.

Ketersediaan pangan cukup hingga Desember
Sementara itu, dilansir dari Antara, Wamenko Hanif Faisol Nurofiq, menyampaikan berdasarkan perhitungan sementara untuk ketersediaan pangan nasional hingga Desember 2026 masih mencukupi kebutuhan.
“Kalau sampai di hitungan kita, sampai di bulan Desember sepertinya masih memiliki ketersediaan mencukupi untuk kebutuhan kita. Namun demikian, untuk tahun depan karena terjadi pergeseran waktu tanam tentu akan berpengaruh,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Banjarbaru, Jumat (9/10/2026).
Ia menambahkan, pemerintah sedang mengidentifikasi kemungkinan terjadinya defisit pasokan sekaligus memperkirakan waktu yang berpotensi mengalami kekurangan.
Hasil perhitungan tersebut nantinya menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan dan pengadaan pangan.
Selain faktor produksi dalam negeri, kondisi pasar pangan global juga menjadi perhatian.
Hanif menyebut sejumlah negara membatasi ekspor pangan demi menjaga kebutuhan domestik masing-masing, sehingga upaya memenuhi kebutuhan melalui pasar internasional juga menghadapi tantangan.
Menurutnya, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi secara terukur, terutama apabila hasil pemantauan menunjukkan adanya potensi kekurangan pangan yang membutuhkan penanganan cepat.
“Kalau nanti terdapat peringatan dini yang mengharuskan pengadaan pangan dilakukan dalam skala cepat, tentu akan kita diskusikan lebih detail mengenai langkah dan sistem yang diperlukan,” katanya. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















