RIBUAN Ekor Ayam Mati Gegara Listrik Padam, Peternak Ancam Buang Bangkai ke Kantor PLN

- Penulis

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:26

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SuarIndonesia – Pemadaman listrik di Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng), sangat berdampak bagi peternakan ayam.

Ribuan ekor ayam milik peternak di Palangka Raya, (Kalteng), mati gegara pemadaman listrik dengan jadwal yang tidak konsisten.

Para peternak ayam geram. Mereka mengancam akan membuang bangkai ayam ke kantor PLN Palangkaraya. Ancaman itu disampaikan para peternak saat melakukan aksi unjuk rasa atas pemadaman listrik ke kantor PLN UP3 Palangkaraya, di Jalan Ahmad Yani, Selasa (28/7/2026).

Sebagai bentuk protes yang lebih keras, Aliansi Peternak Ayam Kalteng menegaskan akan kembali mendatangi kantor PLN UP3 Palangka Raya pada Rabu (29/7/2026).

Jika manajemen PLN tetap tidak memberikan komitmen konkret untuk menghentikan pemadaman listrik, para peternak mengancam akan membawa hingga 10 unit mobil pikap bermuatan bangkai ayam untuk dibuang langsung di halaman kantor PLN.

“Kerugian selama ini sudah mencapai sekitar ratusan juta. Kita rugi ini bukan cuma rugi tok, rugi sampai minus bahasanya. Karena kita punya modal, punya operasional untuk pemanas, tenaga kerja, dan lain-lain itu enggak akan balik. Kalau ayam sudah mati, sudah enggak bisa kita jual. Siapa yang mau beli ayam mati?” kata Satrio, salah satu peternak ayam, saat mengikuti aksi, sebagaimana dikutip dari Bima Raya.

Satrio mengungkapkan, mayoritas peternak ayam broiler di Kalimantan Tengah saat ini telah menerapkan sistem kandang modern atau close house. Sistem kandang tertutup ini sangat bergantung pada kipas elektronik (blower) untuk menjaga sirkulasi udara dan menyuplai oksigen bagi ayam.

Dalam sistem ini, kestabilan arus listrik dari PLN menjadi faktor krusial yang menentukan hidup mati ayam. “Listrik itu sebetulnya merupakan nyawa buat ayam. Jadi ketika listrik ini padam, ya kami memang tetap memiliki genset. Hanya saja PLN ini kan tidak konsisten, tidak memberikan jadwal yang tegas kapan itu dimatikan. Ditambah lagi durasi pemadaman itu yang begitu lama,” keluh Satrio.

Baca Juga :   POLISI-WARGA Penataan Eks Terminal Sentra Antasari dan Bersihkan Kawasan Pasar

Meskipun peternak memiliki genset, alat tersebut sejatinya hanya dirancang sebagai daya cadangan (backup), bukan pengganti pasokan listrik utama.

Durasi pemadaman yang terlalu lama memaksa genset bekerja melebihi kapasitasnya hingga mengalami kerusakan teknis. Ketika genset rusak, suplai udara di dalam kandang langsung terhenti, yang mengakibatkan ribuan ayam mati mendadak karena kekurangan oksigen.

Beban peternak kian berlipat karena mereka juga kesulitan dalam memperoleh bahan bakar minyak (BBM) untuk mengoperasikan genset. Pembelian BBM di SPBU dibatasi dan mereka tidak diizinkan membawa tangki penyimpanan secara bebas, yang membuat biaya operasional membengkak drastis.

Akibat polemik pemadaman listrik bergilir yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan ini, dukutip Jagad Tani, para peternak mengaku mengalami kerugian materiil dalam jumlah yang sangat besar.

Satrio juga mempertanyakan profesionalitas dan fungsi PLN sebagai penyedia layanan listrik negara. Menurutnya, kegagalan PLN dalam menjaga pasokan listrik secara konsisten telah menciptakan efek domino yang merugikan banyak pihak.

Jika biaya produksi di tingkat peternak melonjak akibat penggunaan genset dan BBM, maka Harga Pokok Penjualan (HPP) daging ayam terpaksa dinaikkan. Imbasnya, harga daging ayam di pasar tradisional akan melambung tinggi dan membebani daya beli masyarakat luas.

“Ngapain ada PLN kalau memang kita harus beli genset? Itu kan membuat operasional kita jadi bengkak. Siapa yang mampu kerja? Enggak ada! Ya semuanya dampaknya buat masyarakat,” pungkasnya. (*/ZI)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

DISITA Rokok Ilegal dan MMEA di Kalsel, Selamatkan Kerugian Negara 15 MIliar Lebih
PROPAM Polda Kalsel dan POM TNI Sidak Kelengkapan Anggota Polri di Jalan Raya
WARGA Kobar Males Antre di SPBU, Terpaksa Beli Eceran Pertalite Rp 22 Ribu per Botol
CEGAH KARHUTLA, Warga Diminta Doa Bersama Minta Hujan
BELANJA DAERAH Diproyeksi Melonjak 10,504 Triliun, DPRD Kalsel Kawal APBD Perubahan 2026
MAKLUMAT Larangan Pembakaran Hutan dan Lahan oleh Kapolda Kalteng
KABINDA KALSEL Mencek Langsung PLTU Asam-Asam Memastikan Kondisi Infrastruktur Pembangkit
INDOMARET FUN RUN 2026 Hadir di Banjarmasin, Ajak Peserta Berlari Sambil Menikmati Ikon Kota

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:44

DISITA Rokok Ilegal dan MMEA di Kalsel, Selamatkan Kerugian Negara 15 MIliar Lebih

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:26

RIBUAN Ekor Ayam Mati Gegara Listrik Padam, Peternak Ancam Buang Bangkai ke Kantor PLN

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:09

PROPAM Polda Kalsel dan POM TNI Sidak Kelengkapan Anggota Polri di Jalan Raya

Selasa, 28 Juli 2026 - 22:15

WARGA Kobar Males Antre di SPBU, Terpaksa Beli Eceran Pertalite Rp 22 Ribu per Botol

Selasa, 28 Juli 2026 - 21:12

HARGA BBM dan LPG Subsidi Dipastikan tidak Naik

Selasa, 28 Juli 2026 - 19:28

KABINDA KALSEL Mencek Langsung PLTU Asam-Asam Memastikan Kondisi Infrastruktur Pembangkit

Selasa, 28 Juli 2026 - 19:00

INDOMARET FUN RUN 2026 Hadir di Banjarmasin, Ajak Peserta Berlari Sambil Menikmati Ikon Kota

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:59

KANTOR PLN UP3 Banjarmasin “Digeruduk” Massa Aliansi Pemuda

Berita Terbaru

Foto ilustrasi. (Foto: SI/UT/Gemini.Ai)

Kalteng

CEGAH KARHUTLA, Warga Diminta Doa Bersama Minta Hujan

Selasa, 28 Jul 2026 - 21:49

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca