SuarIndonesia — Pemandangan antrean panjang di SPBU masih ditemukan di Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Warga tak hanya mengantre untuk mengisi BBM subsidi jenis Pertalite. Antrean juga mulai terjadi pada BBM nonsubsidi.
Warga yang beralih ke BBM nonsubsidi harus menghadapi antrean untuk mendapatkan Pertamax. Seorang warga Pangkalan Bun, Yanto Kurniadi, mengatakan dirinya terpaksa memilih Pertamax karena antrian Pertalite dinilai sudah tidak memungkinkan. Bahkan, antrean kendaraan disebut bisa mencapai sekitar satu kilometer.
“Pertalite sudah tidak memungkinkan karena antreannya bisa sampai satu kilometer. Ini Pertamax juga ikut antre,” ujar Yanto, Kamis (6/8/2026).
Menurut Yanto, kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-harinya. Dia mengaku sudah tiga hari tidak membawa mobil untuk bekerja karena kesulitan mendapatkan BBM.
“Sudah tiga hari ini saya tidak membawa mobil karena tidak dapat BBM,” katanya.
Yanto berharap kondisi antrean BBM di Kobar segera mendapat solusi. Menurutnya, masyarakat membutuhkan kepastian ketersediaan BBM agar aktivitas pekerjaan dan mobilitas sehari-hari tidak terganggu.
“Antrean panjang yang terjadi juga membuat warga mencoba mencari alternatif dengan beralih dari Pertalite ke Pertamax. Namun, peralihan tersebut ternyata belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan karena pertama juga ikut dipadati kendaraan,” keluhnya.
Sementara itu, Sales Branch Manager ll Fuel Kalimantan PT Pertamina Putra Niaga, Lucky Haryanto, menyampaikan adanya upaya untuk menambah kuota Pertamax di Kobar. Lucky mengatakan penambahan kuota yang diusulkan mencapai 50% dari kuota Pertamax yang tersedia saat ini. Usulan tersebut terlebih dahulu harus disampaikan kepada pihak pusat.
“Ada diusahakan penambahan kuota pertama 50% dari kuota yang ada. Kita usulkan dulu ke pusat,” kata Lucky saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) di kantor DPRD Kobar beberapa waktu lalu.
Harga BBM eceran meroket, Pertalite bisacapai Rp 25 ribu/botol
Sementara itu, dilansir dari detikKalimantan, harga BBM eceran di sejumlah pelosok Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah dikeluhkan warga. Harga Pertalite yang dijual per botol disebut mencapai Rp 20.000 hingga Rp 25.000.
Salah satu warga Kobar, Ahmad Yani, menyebut harga tersebut ditemukan di Kecamatan Arut Utara. Menurutnya, warga terpaksa membeli BBM eceran dengan harga mahal.
“Pertalite per botol ada yang Rp 20 ribu bahkan ada yang menjual sampai Rp 25 ribu,” kata Ahmad, Kamis (6/8/2026).
Menurut Ahmad, harga tinggi tersebut dianggap masuk akal oleh sebagian pengecer karena mereka juga mendapatkan BBM dengan harga mahal dari pemasok. Ada pemasok yang menjual BBM kepada pengecer dengan harga Rp 18.000 per liter.
“Ada juga yang menjual di atas Rp 20 ribu alasannya karena mereka antre berjam-jam dan barangnya susah didapat,” ujarnya.
Sementara itu di Kecamatan Arut Selatan, khususnya wilayah dalam kota, pengecer lebih banyak menjual Pertamax. Harganya juga berada di kisaran Rp 20 ribu per botol.
Siti, warga Pasir Panjang, mengatakan dirinya mendapatkan Pertamax dari pemasok dengan harga bervariasi, sekitar Rp 17 ribu – Rp 18 ribu per liter. “Kalau Pertalite sudah tidak ada yang mengantar,” ucapnya. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















