SuarIndonesia — Seorang perempuan dilaporkan pingsan saat menunggu giliran mengisi BBM di SPBU Diponegoro, Kelurahan Madurejo, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) pada Kamis (6/8/2026). Korban diduga pingsan karena tak kuat dengan cuaca terik.
Insiden itu sempat mengundang perhatian para pengantre. Korban yang tidak sadarkan diri segera mendapat bantuan dari petugas SPBU sebelum akhirnya dievakuasi menggunakan ambulans.
“Saya lihat ibu itu sudah dibawa ambulans. Mungkin karena terlalu lama mengantre dan cuaca memang sangat panas,” ujar Endang Sutisna, seorang warga yang ikut mengantre pada Kamis (6/8/2026) siang.
Laporan kejadian tersebut langsung ditindaklanjuti oleh petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kobar. Tim PMI memberikan pertolongan pertama di lokasi sebelum memastikan kondisi korban membaik. Petugas PMI Kobar Agung Raharjo mengatakan, setelah mendapatkan penanganan medis, korban memilih untuk diantar pulang ke kediamannya di kawasan Bamban.
“Setelah ditangani, korban meminta diantar pulang ke rumahnya di Bamban,” kata Agung, melansir dari detikKalimantan.
Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab korban kehilangan kesadaran. Namun, lamanya waktu menunggu di bawah terik matahari diduga menjadi faktor yang memengaruhi kondisi fisiknya.
“Selain harus menghabiskan waktu berjam-jam, warga juga dihadapkan pada risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas berkepanjangan,” katanya.
DLH Ingatkan Potensi Dehidrasi
Menurut pantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kobar, gelombang panas mulai menyelimuti Kobar dengns suhu udara sempat menembus 36 derajat Celsius. Kondiis ini memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan kesehatan akibat cuaca ekstrem.
Data Air Quality Monitoring System (AQMS) di Taman Kota Manis, Bundaran Pancasila, mencatat suhu udara mencapai 36 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan hanya 49,47 persen pada pukul 11.00 WIB.
Kepala DLH Kobar Syahyani menilai kombinasi suhu tinggi dan kelembapan yang rendah menjadi sinyal serius yang harus diwaspadai masyarakat, terutama di tengah musim kemarau yang masih berlangsung. Cuaca panas berpotensi menyebabkan dehidrasi, kelelahan akibat paparan panas, hingga mempercepat kekeringan pada tanaman.
“Cuaca panas yang menyengat turut mengubah aktivitas masyarakat. Penggunaan pendingin ruangan dan kipas angin meningkat, sementara sejumlah pekerja luar ruangan memilih mengurangi jam kerja demi menghindari paparan panas berlebih,” jelas Syahyani.
Masyarakat diimbau memperbanyak minum air putih, membatasi aktivitas fisik berat pada siang hari, serta menjaga kondisi tubuh selama beraktivitas, termasuk saat mengantre isi BBM. Apabila mulai merasa pusing atau lemas, masyarakat diharapkan langsung beristirahat. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















