PEMAKAIAN Abaya di Sekolah Dianggap sebagai ‘Serangan Politik’

- Penulis

Senin, 28 Agustus 2023 - 21:53 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prancis melarang pemakaian Abaya gaun panjang yang berasal dari Timur Tengah itu untuk dikenakan di sekolah saat semester baru dimulai pekan depan, karena dianggap melanggar hukum sekuler. (business-standard.com)

Prancis melarang pemakaian Abaya gaun panjang yang berasal dari Timur Tengah itu untuk dikenakan di sekolah saat semester baru dimulai pekan depan, karena dianggap melanggar hukum sekuler. (business-standard.com)

SuarIndonesia — Pemerintah Prancis menganggap pemakaian abaya oleh beberapa siswi Muslim di sekolah-sekolah Prancis sebagai ‘serangan politik’. Hal itu menjadi alasan pemerintah Prancis melarang pemakaian abaya oleh siswi-siswi Muslim di sekolah-sekolah yang ada di negara yang menganut sekulerisme tersebut.

Seperti dikutip detikNews dari AFP, Senin (28/8/2023), Menteri Pendidikan Prancis Gabriel Attal mengumumkan pada Minggu (27/8) waktu setempat bahwa gaun panjang yang berasal dari Timur Tengah itu tidak lagi diperbolehkan untuk dikenakan di sekolah saat semester baru dimulai pekan depan, karena itu melanggar hukum sekuler.

Abaya merupakan busana berbentuk gaun panjang yang banyak dikenakan wanita Muslim di berbagai belahan dunia, terutama di Timur Tengah dan Arab. Abaya juga kerap disebut sebagai ‘gamis Arab’ di Indonesia.

Dalam penjelasannya, juru bicara pemerintah Prancis Olivier Veran mengatakan bahwa abaya ‘jelas’ merupakan pakaian keagamaan, dan itu menjadi ‘serangan politik, tanda politik’ yang dipandangnya sebagai tindakan ‘menyebarkan agama’ atau berupaya mendorong orang lain untuk masuk Islam.

“Sekolah itu sekuler. Kami mengatakannya dengan sangat tenang namun tegas: sekolah bukanlah tempat untuk itu (mengenakan pakaian keagamaan),” tegas Veran kepada saluran televisi setempat, BFM TV.

Pada Senin (28/8) waktu setempat, Attal mengatakan bahwa pemerintah dengan tegas menyatakan abaya ‘tidak pantas dikenakan di sekolah-sekolah’.

“Sekolah-sekolah kita sedang diuji. Beberapa bulan terakhir, pelanggaran terhadap peraturan sekuler kita telah meningkat secara pesat, khususnya terkait penggunaan pakaian keagamaan seperti abaya atau gamis yang masih terjadi — dan tetap ada — di beberapa tempat,” ucapnya kepada wartawan setempat.

Baca Juga :   RACE MotoGP Inggris 2026: Fernandez Juara Ungguli Martin dan Bezzecchi

Keputusan Attal melarang pemakaian abaya di sekolah-sekolah telah memicu perdebatan terbaru soal aturan sekuler yang berlaku di Prancis, dan soal apakah aturan itu digunakan untuk mendiskriminasi minoritas Muslim di negara tersebut.

Undang-undang yang diberlakukan sejak Maret 2004 di Prancis itu melarang ‘penggunaan tanda atau pakaian oleh para siswa yang seolah-olah menunjukkan afiliasi agama’ di sekolah-sekolah.

Aturan ini juga berlaku untuk tanda salib berukuran besar yang dipakai umat Kristen, juga kippa umat Yahudi dan hijab umat Muslim.

Terlepas dari itu, konstitusi Prancis menjamin hak setiap warga negara untuk menjalankan agama secara bebas, meskipun konstitusi juga mewajibkan negara dan pegawai negeri untuk menghormati netralitas.

Larangan pemakaian abaya di sekolah kemungkinan besar akan menghadapi gugatan hukum, dan bisa memicu kesulitan bagi otoritas sekolah yang harus memutuskan kapan pemakaian abaya berubah dari pilihan busana pribadi menjadi sikap keagamaan. (*/UT)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

VICTOR DENMARK OPEN 2026: Fajar/Fikri Juara!
RACE MotoGP Mandalika 2026: Marco Bezzecchi Juara, Rider Aprilia Dominan
FIFA ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia Juara Lewat Drama Adu Penalti
RACE MotoGP Jepang 2026: Marc Marquez Tempel Jorge Martin, Beda 2 Poin
RACE MotoGP Austria 2026: Kemenangan Perdana Pedro Acosta!
MOTOGP San Marino 2026: Marc Marquez Juara dan Puncaki Klasemen
BANJIR Nepal-China: Korban Tewas Bertambah 1.280 Orang, 5.260 Masih Hilang
BANJIR Nepal-China: Korban Tewas 919 Orang dan 4.800 Hilang

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 23:28

CHELSEA dan GUNDUL Terdampak Karhutla Tanjung Puting

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:49

BANPRES untuk Warga Gumas Terdampak Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 - 22:06

TNTP DIGUYUR HUJAN DERAS, Bara Api Masih Tersisa

Senin, 26 Oktober 2026 - 22:00

TANGANI KARHUTLA, 100 Personel Brimob Mabes Polri Dikerahkan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 21:12

WARGA LAMANDAU ‘MENUGAL’ Padi Gogo di Lahan Bekas Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 - 21:05

MEMBURU HUJAN TURUN, 7,2 Ton Bahan Semai Ditaburkan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 20:54

VIRAL! Foto Menkes Pakai Oksigen, Menkes Bantah Sesak Napas

Jumat, 23 Oktober 2026 - 21:59

PUNCAK MUSIM HUJAN antara Desember-Januari 2027

Berita Terbaru

Potret Chelsea dan Gundul, orang utan terdampak karhutla Tanjung Puting. (Foto: Istimewa)

Kalteng

CHELSEA dan GUNDUL Terdampak Karhutla Tanjung Puting

Selasa, 27 Okt 2026 - 23:28

Nina (43), perempuan yang tergabung dalam Srikandi BPBD Samarinda. (Foto: dokumentasi pribadi)

Kaltim

NINA, Berjibaku Padamkan Karhutla

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:18