SuarIndonesia — Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut situasi di Rumah Sakit Al-Aqsa di Gaza tengah layaknya “pembantaian besar-besaran”. Israel berjanji akan mengintensifkan pertempuran melawan Hamas dalam beberapa hari mendatang.
Gemma Connell dari badan kemanusiaan PBB OCHA menyebut banyak orang yang terluka parah tak bisa mendapat perawatan di rumah sakit tersebut lantaran kondisi rumah sakit “benar-benar padat”.
“Yang saya lihat di RS al-Aqsa di Deir Al-Balah adalah pembantaian besar-besaran, kata Gemma kepada program BBC World Service, Newshour.
Tom White, Direktur UNRWA, badan PBB yang mengurusi pengungsi Palestina menambahkan bahwa saat ini diperkirakan 150.000 orang di Gaza tengah diperintahkan untuk evakuasi oleh militer Israel.
Sementara itu, Benjamin Netanyahu berkata pada anggota partainya bahwa dia telah mengunjungi Gaza pada Senin (25/12/2023) pagi dan menyebut bahwa operasi militer Israel di sana “belum berakhir”.
Pernyataan Netanyahu muncul beberapa hari setelah Menteri Luar Negeri AS mengatakan Israel harus mengurangi intensitas serangannya.
Perang antara Israel dan Hamas dimulai pada 7 Oktober silam, setelah Hamas melakukan serangan terhadap warga Israel di dekat perbatasan.

Disebutkan bahwa sebagian besar korban jiwa adalah perempuan dan anak-anak.
Di sisi lain, sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, tewas ketika Hamas menyerbu perbatasan pada 7 Oktober. Sekitar 240 orang dibawa ke Gaza sebagai sandera. Israel mengatakan 132 orang masih disandera Hamas.
Netanyahu berjanji bahwa dia akan menghancurkan Hamas dan mengembalikan sandera ke Israel.
Dia mengatakan pada pertemuan partai Likud bahwa pasukan yang dia temui dalam kunjungannya ke Gaza telah mendesak Israel untuk terus berperang “sampai akhir”.
“Kami tidak akan berhenti. Kami terus berjuang, dan kami akan mengintensifkan pertempuran dalam beberapa hari mendatang. Ini akan menjadi perang panjang dan belum akan berakhir.”
‘Satu-satunya cara saya bertahan adalah membayangkan wajah anak-anak, istri, dan ibu saya’ – Cerita warga Thailand yang disandera Hamas
‘Para korban ditembak di dalam lingkungan paroki’ – Israel serang gereja Katolik di Gaza yang jadi tempat perlindungan warga sipil.
Pada hari Senin, dia menerima sentimen negatif dari keluarga sandera yang menuntut pembebasan segera orang yang mereka cintai saat berpidato di parlemen.
“Kami tidak akan bisa melepaskan semua korban penculikan tanpa tekanan militer kami tidak akan berhenti berperang,” tegas Netanyahu.
Media Israel dan Arab melaporkan bahwa Mesir telah mengusulkan rencana gencatan senjata antara kedua belah pihak.
Menurut sejumlah laporan, rencananya adalah pembebasan bertahap semua sandera Israel dan tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel, yang diakhiri dengan penangguhan serangan Israel.
Kesepakatan gencatan senjata sementara sebelumnya yang dinegosiasikan oleh Qatar menghasilkan puluhan sandera dibebaskan dari Gaza dengan imbalan tahanan Palestina.
Sejauh ini, baik Israel dan Hamas menolak seruan gencatan senjata.
‘Tak ada tempat aman di Gaza’
Pada hari Minggu (24/12/2023), Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 70 orang di kamp pengungsi Al-Maghazi di tengah jalur tersebut, dan sebuah blok perumahan padat penduduk hancur.
Pejabat PBB Gemma Gonnel mengatakan bahwa ketika dia mengunjungi Al-Aqsa pada Senin (25/12/2023), “ada serangan udara yang menghantam daerah sekitar rumah sakit dan korban baru memasuki rumah sakit”.
“Tragisnya saya melihat seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun dengan cedera kepala parah meninggal dunia,” tambahnya.

“Dan beberapa dari mereka yang saya lihat adalah orang-orang yang terkena serangan kemarin [Minggu],” katanya merujuk pada laporan serangan terhadap kamp pengungsi Al-Maghazi di Gaza tengah.
“Ketika saya mengatakan bahwa ada serangan lagi hari ini dan banyak korban berjatuhan, beberapa dari serangan tersebut terjadi di daerah dimana orang-orang telah diperintahkan untuk mengungsi, yang sekali lagi kembali ke pernyataan yang, saya pikir, saya muak untuk mengatakan: bahwa tidak ada tempat yang aman di Gaza,” katanya.
“Dan bahkan ketika orang-orang diminta untuk mengungsi, tempat-tempat yang mereka tuju tidaklah aman.”

Dalam sebuah pernyataan kepada BBC pada hari Minggu (24/12/2023), militer Israel mengatakan mereka telah menerima “laporan tentang insiden di kamp Maghazi”.
“Meskipun ada tantangan yang ditimbulkan oleh teroris Hamas yang beroperasi di wilayah sipil di Gaza, IDF [Pasukan Pertahanan Israel] berkomitmen terhadap hukum internasional termasuk mengambil langkah-langkah yang layak untuk meminimalkan kerugian terhadap warga sipil,” tambahnya. [*/UT]
*) BBC Indonesia-detikNews
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















