SuarIndonesia – Gas elpiji 3 kilo masih diburu masyarakat, pasalnya misteri atau jadi langka gas melon ini sudah sepekan lebih.
Selain langka juga mahalnya harga melebihi batas kewajaran hingga 50 ribu pertabung yang melebihi harga eceran tertinggi.
Dari Harga Eceran Tertinggi (HET), tentu nilai ini sudah tidak wajar meski prakteknya pada jalur transportasi, tentu jadi pertimbangan, misalnya distribusi melalui feri penyeberangan.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Selatan membidangi ekonomi dan keuangan, Muhammad Yani Helmi mengatakan, jangan sampai terjadi dan harus dilakukan pendataan ulang bagi masyarakat penerima manfaat subsidi gas 3 Kg (Kilogram).
“Tujuannya agar tepat sasaran dan memastikan penerima subsidi gas melon benar-benar masyarakat miskin,” ujarnya, Rabu (24/2/2021).
Persoalan sulitnya elpiji 3 Kg ini harus secepatnya diatasi.
“Karena terjadi berulang-ulang namun seakan tidak ada solusinya. Oleh karena itu pendataan ulang penting sebagai salah bentuk upaya menyiasati mencarikan solusinya dalam hal ini tentu saja pihak Pertamina, tambah pria yang akrab disapa Paman Yani ini.
“Sebelum banjir gas yang disebut melon ini pernah langka juga dan dampaknya harga meroket, kasihan rakyat kecil,” ucapnya
Kelangkaanjuga berdampak pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Imbasnya ekonomi kerakyatan yang sangat terdampak akibat langka dan mahalnya harga gas ini.
Jangan sampai upaya pemulihan ekonomi yang digalakkan pemerintah juga terganggu karena persoalan gas 3 kg ini.
“Kita ingin otoritas berwenang bisa mengatasi masalah ini agar ekonomi rakyat kecil bisa lancar,” tutupnya (HM)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















