KIAN BERAT Beban Masyarakat, 100 Hari Jokowi-Ma’ruf

- Penulis

Selasa, 28 Januari 2020 - 17:23

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kenaikan tarif menjadi salah satu keluhan masyarakat pada 100 hari kerja Jokowi-Ma’ruf. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).

 

SuarIndonesia – Hembusan nafas panjang keluar dari hidung Dwija Purnama saat menunggu di salah satu rumah sakit di bilangan Jakarta Selatan. Keluhan terlontar dari mulutnya sambil memegang erat tangan istrinya yang sedang sakit.

Pria berumur 42 tahun itu bekerja sebagai seorang buruh pabrik. Selagi menemani istrinya berobat, ia tak berhenti menyampaikan protes kepada pihak rumah sakit.

Sebab, ia merasa istrinya sudah menunggu terlalu lama. Sudah satu setengah jam ia duduk menunggu di ruang tunggu untuk mendapatkan kepastian perawatan istrinya.

Ia pun menggerutu menyalahkan pemerintah terhadap persoalan BPJS Kesehatan yang kini masih ramai diperbincangkan publik.

Dwija merupakan salah satu dari kelompok masyarakat yang memutuskan untuk menurunkan tingkat kelas layanan karena kenaikan iuran BPJS Kesehatan untuk Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) atau mandiri.

Ayah dari empat anak itu menilai kebijakan pemerintah menaikkan BPJS merupakan tindakan yang menyusahkan rakyat kecil seperti dirinya. Pasalnya, ia merasa kenaikan iuran BPJS sangat tinggi dan tidak searah dengan meningkatnya layanan.

Kenaikan iuran BPJS Kesehatan sendiri merupakan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Jaminan Kesehatan yang diteken Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 24 Oktober 2019.

Kenaikan iuran yang sudah berlaku per 1 Januari 2020 menaikkan iuran seluruh peserta mandiri pada ketiga kelas layanan.

Kebijakan kenaikan iuran BPJS hanya satu dari berbagai kebijakan yang menjadi pro-kontra publik dalam 100 hari kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi)  dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Selain iuran BPJS Kesehatan, pemerintah juga mengerek cukai rokok per 1 Januari 2020 yang dianggap ‘menyusahkan’ bagi sebagian masyarakat.

Keluhan itu salah satunya dilontarkan oleh Arifin Salim yang sehari-hari bekerja sebagai penjaga warung.

Ia protes kenaikan cukai rokok telah mengurangi jumlah pelanggan di warungnya.

Tak hanya menambah beban bisnisnya, ia merasa kebijakan tersebut tidak juga efektif dalam mengurangi jumlah perokok. Pasalnya, mayoritas pembeli dapat beralih membeli rokok dalam jumlah ketengan dengan kenaikan cukai tersebut.

Sebelum kenaikan rokok, Arifin mengaku dapat meraup untung sekitar Rp2,8 juta rupiah dalam satu bulan. Namun, bulan ini ia memperkirakan keuntungannya turun menjadi sekitar sekitar Rp2,3 juta rupiah saja.

Diketahui, kenaikan cukai rokok itu termuat dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 152/2019 tentang Perubahan Kedua atas PMK 146/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. Aturan ini ditetapkan pada 18 Oktober 2019 dan diundangkan pada 21 Oktober 2019.

Selain cukai rokok, kenaikan tarif beberapa ruas tol juga telah dicap menjadi salah satu kebijakan yang membebani sebagian publik.

Ekonom dan Direktur Riset dari Center of Reforms on Economics (CORE) Piter Abdullah menilai wajar banyaknya keluhan masyarakat terhadap kebijakan 100 hari kinerja Jokowi.

Piter merasa kebijakan Jokowi pada periode sebelumnya lebih baik daripada kebijakan yang diambilnya pada awal periode ini.

“Pak Jokowi mengatakan di kampanye bahwa dia sudah nothing to lose, dia akan all out. Tapi yang kita lihat, kalau saya membandingkan periode pertama dengan kedua, justru periode yang pertama yang lebih nothing to lose,” ucap Piter.

Menurut Piter, Jokowi lebih berani untuk mengambil kebijakan yang mengapresiasi anggaran, seperti mengurangi jumlah subsidi sehingga dapat mengubah struktur Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan mengerek investasi.

Baca Juga :   STRATEGI Peningkatan Kualitas Pelayanan Pelanggan PAM Bandarmasih

“Dia lebih membebani masyarakat. Seperti menaikkan cukai rokok, (iuran) BPJS Kesehatan, kemudian ini juga arahnya akan mengubah terkait dengan subsidi gas. Ini selain dia membebani, tapi dampaknya terhadap APBN-nya, ya tidak positif juga,” tuturnya.

Pertumbuhan konsumsi kita (Indonesia) jadi tertahan, bahkan menurun. Kebijakan yang diambil pun malah yang mengurangi daya beli itu sendiri, mengurangi kemampuan konsumsinya masyarakat. Menaikkan iuran BPJS itu mengurangi daya belinya masyarakat, menaikkan cukai rokok demikian juga,” jelasnya.

Tidak menutup kemungkinan, Piter pun berpendapat hal tersebut dapat berimbas kepada pertumbuhan perekonomian Indonesia yang berpotensi melesu.

Alih-alih memberikan kebijakan yang meringankan beban, ia merasa pemerintah justru semakin menjadi-jadi membebani daya beli masyarakat dengan isu kebijakan perubahan pada subsidi gas yang kini menjadi perbincangan.

“Di sisi lain, perbaikan di APBN-nya juga tidak signifikan. Bukan itu yang seharusnya dilakukan,” tegasnya.

Menurut Piter, Jokowi sebaiknya tidak terlalu fokus terhadap kebijakan yang dibuat untuk mengerek investasi saja. Pasalnya, ia menilai komposisi subsidi, dan pengeluaran pembiayaan untuk infrastruktur serta belanja modal pemerintah sudah membaik dibandingkan ketimpangan alokasi anggaran subsidi yang terlalu besar pada era kepemimpinan pertama Jokowi.

“Kalau sekarang sudah kebalik, investasi pemerintah sudah jauh lebih besar, anggaran kita untuk memperbaiki infrastruktur itu Rp400 triliun, jauh di atas pengeluaran subsidi kita,” tuturnya.

Piter kemudian mengatakan akan lebih tepat apabila pemerintah sekarang lebih fokus terhadap kebijakan dalam mempertahankan daya beli masyarakat. Pasalnya, capaian tingginya investasi yang didamba-dambakan oleh Jokowi pun sangat membutuhkan nilai konsumsi dari masyarakat.

“Kalau konsumsinya jatuh rendah, walaupun pemerintah mengeluarkan omnibus law, bagaimanapun juga, investasi masih akan tertahan. Orang tidak akan mau investasi kalau memang konsumsinya masyarakat juga rendah. Orang tidak akan investasi di Indonesia kalau orang tidak mau beli,” paparnya.

Daya beli yang rendah, lanjut Piter dapat dinilai berdasarkan Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan laju inflasi inti sebesar 3,02 persen sepanjang 2019 yang menurun dibandingkan posisi pada 2018 sebesar 3,07 persen. Melambatnya inflasi tersebut dikhawatirkan terjadi karena melemahnya daya beli masyarakat.

Piter kemudian merasa pemerintah harus memikirkan dan merenungkan kembali terkait aturan-aturan yang jelas telah memberatkan daya beli rakyat selama ini.

“Pertama yang jelas adalah, jangan dikurangi daya belinya. Seperti kenaikan iuran BPJS, cukai rokok, dan gas. Setidaknya ini jangan dilakukan dulu,” ujarnya.

Selain pengaturan kebijakan yang mengurangi daya beli, Piter juga merekomendasikan agar pemerintah juga seharusnya lebih fokus melakukan perbaikan terhadap kebijakan perpajakan.

Saat ini, pemerintah memang telah memberikan insentif perpajakan untuk mendorong investasi perusahaan seperti tax allowance, tax holiday, dan super deductive tax. Namun, pemerintah belum memberikan insentif perpajakan bagi rumah tangga. Padahal, daya beli masyarakat dapat meningkat jika pemerintah juga memberikan insentif pajak bagi kelompok perorangan.

“PPh-nya perorangan, kan belum ada yang insentifnya. (Insentif) itu sudah dijanjikan oleh pemerintah, tapi belum direalisasikan juga,” pungkasnya.(CNNIndonesia/RA)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

TIM SAR Gabungan Masih “Berjibaku” Pencarian Remaja Tenggelam di Sungai Martapura
4 KORBAN Heli PK-CFX Teridentifikasi, Sisanya Tunggu Data Keluarga
PRESIDEN Terbitkan Tiga Regulasi Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
KEJAGUNG Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto Tersangka Korupsi Nikel
TANGANI KBGO, Kemkomdigi Ketatkan Pengawasan Platform Digital
LULUSAN SR Dijanjikan Beasiwa dan Peluang Kerja
KERIBUTAN di Depan Tempat Gym, Seorang Pria Keluarkan “Pistol”
RUPIAH Menguat Dipicu Ketegangan Geopolitik yang Mereda

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 21:16

KAPAL TANKER Iran Lolos Blokade AS Usai Lintasi Selat Hormuz

Rabu, 15 April 2026 - 00:43

ARAB SAUDI Desak AS Cabut Blokade di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 - 23:17

CENTCOM AS Mulai Blokade Selat Hormuz

Minggu, 12 April 2026 - 22:15

BAC 2026: Korea Selatan Juara Umum

Minggu, 12 April 2026 - 21:58

PERUNDINGAN Iran-AS tak Tercapai ‘Kesepakatan’

Kamis, 9 April 2026 - 22:33

SELAT HORMUZ Ditutup Iran Lagi, Gegara Israel!

Kamis, 9 April 2026 - 21:47

HARGA MINYAK Naik Lagi di Tengah Keraguan Gencatan Senjata AS-Iran

Rabu, 8 April 2026 - 21:22

IRAN-AS Sepakat Gencatan Senjata Bersyarat!

Berita Terbaru

Headline

DUEL SENGIT Barito Putera Vs Persiba Sama Kuat 3-3

Sabtu, 18 Apr 2026 - 17:58

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca