KELAPARAN di Gaza, Warga Terpaksa Konsumsi Pakan Ternak!

- Penulis

Minggu, 3 Maret 2024 - 23:38

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Antre untuk mendapatkan makanan gratis.[AP Photo]

Antre untuk mendapatkan makanan gratis.[AP Photo]

SuarIndonesia — Invasi Israel ke Gaza, Palestina, benar-benar membuat pilu warga yang tinggal di wilayah itu. Kelaparan akibat blokade Israel membuat warga Gaza terpaksa membuat makanan dari bahan pakan hewan ternak.

Dilansir Anadolu Agency dan BBC, Minggu (3/3/2024), salah satu warga Gaza, Abu Qusay Abu Nasser (44) bercerita dirinya dan keluarganya menderita kelaparan hebat karena kekurangan makanan di rumah mereka di Gaza utara. Anak-anaknya kadang sampai menjerit-jerit saat terbangun dari tidur akibat kelaparan.

Abu Nasser mengaku tak mampu menemukan solusi cepat untuk memberi makan anak-anaknya di tengah perang yang terus terjadi dan blokade Israel yang menyebabkan bahan makanan sulit ditemukan. Situasi tersebut memaksa Abu Nasser menuju pasar kecil di kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara untuk mencari bahan makanan bagi keluarganya.

Dia melewati para pedagang yang memajang sayuran mereka, beberapa di antaranya tampak berjamur, dan mengamati ke kiri kanan berharap menemukan apapun yang dapat membantunya memberi makan anak-anaknya yang kelaparan. Nasser akhirnya cuma mendapat jagung kering dan selai yang dianggap sebagai pakan ternak di Gaza.

Abu Nasser berharap dapat menyiapkan roti dari bahan-bahan tersebut setelah persediaan gandum habis di bagian utara wilayah Gaza yang hancur akibat perang. Salah satu pedagang meletakkan sekantong kentang yang menunjukkan tanda-tanda pembusukan. Abu Nasser dan orang-orang yang lewat pun bergegas menghampirinya, berharap bisa membeli sesuatu yang bisa mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Warga Palestina antre untuk mendapatkan makanan gratis.[Foto: AP/Fatima Shbair]
“Sejak pagi, saya keluar mencari makanan, jagung, dan selai untuk memberi makan anak-anak saya yang kelaparan,” kata Abu Nasser.

“Sejak kemarin, saya baru makan satu kurma, dan anak-anak menangis kelaparan. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya pergi ke pasar Jabalia, namun saya hanya menemukan jagung kering yang dimaksudkan sebagai pakan ternak untuk membuat roti,” sambungnya.

Abu Nasser mengatakan jeda pertempuran selama seminggu yang sempat terjadi tak memberi perubahan apapun bagi warga di Gaza utara. Dia mengatakan bantuan yang datang tidak dapat memenuhi kebutuhan warga di utara Gaza.

Abu Nasser mengatakan dia sempat terpaksa mengonsumsi Khubbayza (malva) sejenis tanaman hijau liar. Namun, katanya, tanaman tersebut tidak tersedia lagi karena banyaknya orang yang berebut bahan pangan.

“Apakah pendudukan Israel menghukum kami dengan tidak menyediakan makanan dan minuman? Apakah karena kami belum semua mengungsi ke Jalur Gaza bagian selatan?” ujarnya. Dia berharap negara-negara Arab dan muslim segera mengirim bantuan bagi warga Gaza.

Seorang wanita Palestina yang mengungsi di salah satu sekolah di Jabalia, Rawiya Rizq, mengatakan tak ada apapun yang bisa dimakan. Dia mengatakan warga di sana hidup dalam kelaparan.

“Tidak ada makanan, dan kami hidup dalam kelaparan. Kami mengonsumsi pakan ternak yang jumlahnya semakin sedikit, dan penyakit menyebar dengan cepat. Anak-anak menderita campak dan hepatitis, sementara orang dewasa menderita diabetes dan tekanan darah tinggi,” ujarnya, dikutip SuarIndonesia dari detikNews, Minggu (3/3/2024).

Baca Juga :   PILPRES AS 2024: Donald Trump Menang!

Rizq menjelaskan pakan ternak juga langka dan mahal. Dia mengatakan pakan ternak tiga kilogram dijual dengan harga USD 219 atau setara Rp 3.438.727.

Seorang pekerja bantuan medis di Beit Lahia, Mahmoud Shalabi, juga mengatakan orang-orang di sana menggiling biji-bijian yang biasanya digunakan untuk pakan ternak menjadi tepung. Namun, katanya, bahan tersebut sudah habis.

“Orang tidak menemukannya di pasar,” katanya. “Saat ini alat ini tidak tersedia di bagian utara Gaza dan Kota Gaza.”

Dia juga mengatakan stok makanan kaleng sudah habis. Dia mengatakan orang-orang sudah tak punya apapun untuk makan.

“Apa yang kami dapatkan sebenarnya berasal dari enam atau tujuh hari gencatan senjata (pada bulan November) dan bantuan apapun yang diizinkan masuk ke utara Gaza sebenarnya telah dikonsumsi sekarang. Apa yang dimakan orang-orang saat ini pada dasarnya adalah nasi, dan hanya nasi,” ujarnya.

Ibu empat anak di Beit Lahia, Duha al-Khalidi, mengatakan dia berjalan sejauh 9,5 km ke rumah saudara perempuannya di Kota Gaza, dalam keadaan putus asa mencari makanan. Dia melakukannya setelah anak-anaknya tidak makan selama tiga hari.

“Saya tidak punya uang, dan kalaupun saya punya, tidak ada apa-apa di pasar utama kota ini,” katanya.

[Foto: yenisafak.com]
“(Adikku) dan keluarganya juga menderita. Dia membagikan pasta terakhir yang ada di rumahnya kepadaku,” sambungnya.

Warga lain, Waad, merasa kematian tak bisa lagi dihindari. Dia mengaku takut tinggal di rumah dan juga tak ada makanan.

“Kami merasa kematian tidak bisa dihindari. Kami kehilangan lantai atas rumah kami, namun kami masih tinggal di sini meski takut runtuh. Selama dua minggu, kami tidak dapat menemukan apa pun di pasar; dan jika beberapa produk tersedia, harganya 10 kali lipat dari harga normalnya,” ujar Waad.

Keluarga-keluarga di wilayah utara juga kesulitan mendapatkan pasokan air yang dapat diandalkan. Warga mengatakan air diberikan 15 hari sekali dan rasanya asin serta terdapat pasir di dalamnya.

“Banyak dari kami sekarang meminum air yang tidak dapat diminum. Tidak ada pipa, kami harus menggali untuk mendapatkan air,” jelas Mahmoud Salah di Beit Lahia.

Menurut hasil pemeriksaan malnutrisi PBB baru-baru ini, tingkat malnutrisi akut secara keseluruhan pada anak usia 6-59 bulan di Gaza telah meningkat secara signifikan menjadi 16,2%, melebihi ambang batas kritis sebesar 15% yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Israel telah melancarkan serangan mematikan di Jalur Gaza sejak serangan lintas batas oleh kelompok Palestina Hamas pada 7 Oktober, menewaskan lebih dari 30 ribu orang dan menyebabkan kehancuran massal dan kekurangan kebutuhan pokok. Sementara, hampir 1.200 warga Israel diyakini telah terbunuh. [*/UT]

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

22 BIKSU Bawa 110 Kg Ganja dari Thailand, Ditangkap di Sri Lanka
IRAN: Selat Hormuz Dibuka Penuh Selama Gencatan Senjata
KAPAL TANKER Iran Lolos Blokade AS Usai Lintasi Selat Hormuz
ARAB SAUDI Desak AS Cabut Blokade di Selat Hormuz
CENTCOM AS Mulai Blokade Selat Hormuz
BAC 2026: Korea Selatan Juara Umum
PERUNDINGAN Iran-AS tak Tercapai ‘Kesepakatan’
SELAT HORMUZ Ditutup Iran Lagi, Gegara Israel!

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 01:12

TUAN GURU APRESIASI Pengungkapan Pembunuhan Terhadap Ustazah, Meski Tinggalkan Kesedihan Mendalam

Sabtu, 2 Mei 2026 - 22:21

TERUNGKAP MOTIF Pembunuhan Seorang Ustazah di Banjarbaru

Jumat, 1 Mei 2026 - 21:38

EMBARKASI Banjarmasin Siap Berangkatkan JCH Kloter 06 dari Kalteng

Kamis, 30 April 2026 - 22:25

TIGA WNI Ditangkap di Makkah Kasus Penipuan Layanan Haji, Ditindaklanjuti Polri

Kamis, 30 April 2026 - 00:43

EMPAT Anggota TNI Didakwa Siram Andrie Yunus untuk Beri “Efek Jera”

Rabu, 29 April 2026 - 17:27

PERJUANGAN PERSIT Kartika Chandra Kirana Merawat Budaya Banjar, “Tajam seperti Todak, Teguh seperti Budaya”

Selasa, 28 April 2026 - 23:57

KPU PALANGKA RAYA Digeledah Terkait Dana Hibah Pilkada 2023-2024

Selasa, 28 April 2026 - 23:24

PDU Palangka Raya Ubah Limbah Plastik jadi Paving Block

Berita Terbaru

Kalsel

JASAD ABK Camara Nusantara 6 Ditemukan Mengapung

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:17

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca