KASUS PMK di Kalsel, 22 Sapi di Tala Terpapar, 9 Sapi HSU Suspect

- Penulis

Sabtu, 21 Mei 2022 - 00:44

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SuarIndonesia – Saat ini kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi di Kalimantan Selatan, sudah terdeteksi di dua kabupaten, yakni Kabupaten Tanah Laut dan Hulu Sungai Utara.

Kepala Balai Veteriener Banjarbaru, drh Putut Eko Wibowo mengatakan, dari dua kabupaten tersebut sedikitnya terdapat 22 ekor sapi yang diketahui terpapar PMK, dan 9 ekor masih suspect.

“Yang terdeteksi positif PMK itu 22 ekor di Desa Bumi Jaya, Kabupaten Tanah Laut (Tala), dan 9 ekor di salah satu desa di Kabupaten HSU masih suspect,” ungkapnya saat ditemui awak media disela pemantauannya di Rumah Potong Hewan (RPH) Basirih, Jumat (20/05/2022).

Meski demikian, pihaknya memutuskan untuk melakukan lockdown untuk distribusi dari dua desa tersebut agar PMK pada hewan ternak sapi ini tidak menyebar ke wilayah lain.

“Kita juga sudah berkolaborasi dengan pihak kepolisian untuk melakukan tindakan lockdown distribusi sapi di kedua desa tersebut,” ujarnya.

“Untuk yang di HSU ini masih suspect gejala klinis mengarah ke PMK, dan menunggu hasil laboratorium di Surabaya,” tambah Eko.

Ia menjelaskan, keputusan tersebut diambil setelah pihaknya melakukan survei klinis ke seluruh peternakan sapi yang ada di wilayah Kalimantan Selatan.

“Sekarang kami sudah melakukan surveilans, untuk di Wilayah Kalsel ada laporan hanya ditemukan di dua desa tadi saja,” pungkasnya.

Di samping menjalankan Surveilans, pihaknya juga memberikan pengobatan dan pemberian vitamin pada sapi-sapi di peternakan yang ada di desa tersebut.

 

KASUS PMK di Kalsel, 22 Sapi di Tala Terpapar, 9 Sapi HSU Suspect (1)

 

“Semuanya dalam penanganan, dan menurut laporan, sapi yang di Tanah Laut dan HSU ini sudah mulai sembuh,” jelasnya

Lantas, sampai kapan distribusi kedua desa tersebut dilockdown?

Terkait hal itu, Eko menuturkan bahwa keputusan untuk menghentikan lockdown itu tergantung dari sampai kapan wabah PMK sapi di desa itu selesai dan dianggap sembuh.

“Kedua desa ini lockdownnya sampai kasus PMK di lokasi tersebut hilang, jadi tidak ada batas waktu,” imbuhnya.

Kendati demikian, ia menekankan, bahwa PMK ini tidak membahayakan dengan kesehatan manusia. Sehingga masyarakat untuk tidak perlu panik dan takut.

“Belum ada laporan dan kalau kasus PMK ini berdampak pada kesehatan manusia,” tandasnya

Baca Juga :   IDEOLOGI Pancasila Diterapkan Secara Utuh, Begini Harapan Wakil DPRD Kalsel

Di Banjarmasin sendiri, ia menambahkan, tidak ada ditemukan wabah PMK, khususnya sapi-sapi yang masuk di penampungan RPH Basirih.

“Sampai hari ini, semua sapi dalam kondisi sehat dan tidak ditemukan indikasi adanya PMK,” ungkapnya.

“Untuk gejalanya yang terlihat secara kasat mata, sapi yang terpapar ini mengeluarkan air liur yang banyak, kemudian ada luka di bagian mulkosa mulutnya ada luka lepuh atau ropeng, dan di bagian kukunya ada luka.”

Sehingga, kalau kondisi seperti otomatis sapi itu tidak bisa makan dan kalau tidak segera diobati maka akan lemas dan akhirnya mati.

Tapi ia menekankan, bahwa PMK ini sebenarnya juga mudah disembuhkan dengan perawatan dan pengobatan yang rutin ketika ditemukan kasus ini.

“Dengan diberikan obat-obatan, vitamin atau antibiotik, maka PMK pada sapi ini akan sembuh dengan cepat,” ujarnya.

Selain itu, ia menyebut, mortalitas dari virus pembawa PMK pada sapi ini juga termasuk rendah, hanya satu sampai lima persen.

“Tapi penularan penyakit ini juga termasuk cepat, karena melewati udara atau aerosol. Makanya, misalkan ada satu ekor terkena, maka sapi yang lainnya pasti kena,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin, M Makhmud mengungkapkan, dari hasil pengecekan bersama Balai Veteriener Banjarbaru, bersyukur tak ada temuan PMK di Kota Seribu Sungai ini.

“Alhamdulillah tidak ditemukan gejala klinis PMK. Bahkan sapi-sapi kita sehat dan makannya kuat, dan dari fisik tidak terlihat penyakit,” terangnya.

Setiap harinya pun kata Makhmud, pihaknya terus melakukan pemeriksaan sapi melalui satuan tugas badan kesehatan hewan dipimpin dokter hewan.

“Jadi kalau sapi sebelum masuk kandang selalu diperiksa kesehatannya,” tuntasnya.

Kemudian, Kepala UPTD RPH Basirih, Agus Siswandi menegaskan, selain melakukan perawatan secara normal, pihaknya juga mensyaratkan surat keterangan sehat bagi setiap sapi yang masuk ke RPH Basirih.

“Setiap sapi harus ada surat pengantar itu. Kalau tidak kami tidak berani membiarkan sapi itu masuk ke sini,” katanya singkat. (SU)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

TIGA PRIA Diamuk Warga, Diduga Ingin Curi Kabel Telkom di Banua Anyar
BPDLH-TIM PMU NC Evaluasi RHL FOLU Net Sink
BEM Menuntut Kehadiran Anggota DPR RI Dapil Kalsel
DIBEDAH Bapperida Balangan Indikator Makro Daerah
DIPERSIAPKAN Pemkab Balangan Skema Nonton Bareng Piala Dunia
DIPAPARKAN Gubernur Muhidin di Hadapan Kemenhut, Menkopolkam dan Lembaga Terkait Kesiapan Kalsel Hadapi Karhutla
354 JEMAAH HAJI Kloter 11 asal HSU Tiba
AKSI MASSA Tiga Hari Berturut-turut, DPRD Kalsel Janji Senin Mendatang Antar Tuntutan ke DPR RI

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 22:00

DIPAPARKAN Gubernur Muhidin di Hadapan Kemenhut, Menkopolkam dan Lembaga Terkait Kesiapan Kalsel Hadapi Karhutla

Jumat, 19 Juni 2026 - 01:10

KASUS MBG: Ketua Yayasan Indonesia Food Security Review Jadi Tersangka

Kamis, 18 Juni 2026 - 21:18

DIAPRESIASI Pemprov Kalsel Kinerja Aparat Kepolisian

Kamis, 18 Juni 2026 - 20:04

KASUS MBG, KPK: Sementara tidak Dilanjutkan Penyelidikan

Kamis, 18 Juni 2026 - 19:57

KPK: Terjadi Dugaan Pemerasan di Kanim pada Sejumlah Daerah

Kamis, 18 Juni 2026 - 19:48

DATA SENSUS EKONOMI Bukan untuk Kepentingan Pajak

Kamis, 18 Juni 2026 - 19:43

GERAKAN 7 KAIH Perkuat Pendidikan Karakter Murid SPNF

Kamis, 18 Juni 2026 - 19:36

DIPERCEPAT Hilirisasi Perkebunan Rakyat 870 Ribu Hektare

Berita Terbaru

Banjir yang terjadi di Kabupaten Sanggau beberapa waktu lalu. (Foto: Dok Antara/Rendra Oxtora)

Kalbar

BPBD KALBAR: Waspadai Banjir saat Kemarau

Jumat, 19 Jun 2026 - 23:30

Petugas melepasliarkan orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. (Foto: Yayasan BOS)

Kalteng

LIMA ORANGUTAN Dilepasliarkan ke Hutan Kalimantan

Jumat, 19 Jun 2026 - 23:23

BPDLH dan Tim Norwegia bersama Dishut Kalsel saat mengevaluasi pelaksanaan rehabilitasi hutan dan lahan program FOLU Net Sink 2030 di Desa Pasar Batu, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Kamis (18/6/2026). (Foto: Dishut Kalsel)

HST

BPDLH-TIM PMU NC Evaluasi RHL FOLU Net Sink

Jumat, 19 Jun 2026 - 23:15

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca