HELITA, Olah Bajakah Jadi Minuman Herbal Berizin BPOM

- Penulis

Senin, 6 Juli 2026 - 21:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Helita Gusran bersama kedua muridnya Anggina Rafitri (kiri) dan Aysa Aurealya Maharani (kanan). (Foto: dokpri Helita Gusran)

Helita Gusran bersama kedua muridnya Anggina Rafitri (kiri) dan Aysa Aurealya Maharani (kanan). (Foto: dokpri Helita Gusran)

SuarIndonesia — Penelitian akar bajakah pernah mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional. Setelah membimbing tiga siswanya meraih medali emas di World Invention Creativity Olympic (WICO) 2019 di Korea Selatan, Guru Biologi SMA Negeri 2 Palangka Raya, Helita Gusran, mengembangkan hasil risetnya menjadi produk teh herbal berbahan dasar akar bajakah.

Produk yang diberi nama Hesabi tersebut hadir dalam bentuk teh siap minum dan teh kemasan pouch. Meski masih dipasarkan dalam jumlah terbatas, produk itu telah mengantongi izin edar dari BPOM. Ini merupakan karya bersama dalam wadah Central Borneo Scientific Organization (CBSO) atau Perkumpulan Peneliti Muda Kalimantan Tengah.

“Ini yang menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan penelitian berbasis potensi lokal. Produknya berupa teh botol siap saji dan pouch. Sudah mulai saya edarkan, tetapi masih dalam skala kecil untuk masyarakat yang mencari. Produk tersebut juga sudah memiliki izin edar dari BPOM,” ujar Helita, Senin (6/7/2026) melansir detikKalimantan.

Teh bajakah karya Central Borneo Scientific Organization (CBSO) atau Perkumpulan Peneliti Muda Kalimantan Tengah. (Foto: Istimewa)

Pengembangan produk tersebut merupakan kelanjutan dari penelitian yang telah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya riset lebih berfokus pada identifikasi kandungan senyawa aktif akar bajakah, kini Helita memperdalam penelitian berdasarkan pengalaman masyarakat yang telah mengonsumsi tanaman tersebut. Menurutnya, penelitian terbaru mengumpulkan data empiris dari masyarakat yang mengonsumsi bajakah selama tiga hingga enam bulan.

“Penelitian terbaru saya mengangkat data empiris selama pemakaian bajakah dalam kurun waktu tiga sampai enam bulan,” katanya.

Meski telah menghadirkan produk herbal, Helita mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai berbagai klaim yang menyebut akar bajakah sebagai obat penyembuh kanker. Ia menegaskan hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang membenarkan klaim tersebut pada manusia.

Baca Juga :   RIBUAN Ekor Ayam Mati Gegara Listrik Padam, Peternak Ancam Buang Bangkai ke Kantor PLN

Menurutnya, setiap manfaat kesehatan harus dibuktikan melalui tahapan penelitian yang panjang, mulai dari uji laboratorium, uji praklinis hingga uji klinis sebelum dapat dinyatakan aman dan efektif.

Nama Helita dikenal luas setelah mendampingi tiga siswanya, Aysa Aurealya Maharani, Anggina Rafitri, dan Yazid Rafli Akbar, meraih medali emas dalam ajang WICO 2019 melalui penelitian tentang akar bajakah. Prestasi itu membuat tanaman hutan khas Kalimantan menjadi sorotan dunia sekaligus membuka peluang penelitian lebih lanjut terhadap potensi kekayaan hayati daerah.

Semangat riset tersebut kini terus berlanjut melalui Central Borneo Scientific Organization (CBSO) atau Perkumpulan Peneliti Muda Kalimantan Tengah yang menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan penelitian berbasis potensi lokal.

Bagi Helita, penelitian bukan sekadar mengejar prestasi, melainkan upaya membuktikan bahwa pengetahuan tradisional masyarakat Dayak dapat dikembangkan secara ilmiah hingga menghasilkan inovasi yang bermanfaat. Dari hutan Kalimantan, riset tentang akar bajakah kini tak hanya dikenal dunia, tetapi juga hadir dalam secangkir teh herbal hasil karya anak bangsa. (*/ut)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

SMAN 2 Katingan Kuala Juara Nasional Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI 2026
KARHUTLA Meluas, Gubernur Agustiar Desak Helikopter Segera Tiba
KARHUTLA KOTIM: Status Tanggap Darurat Diperpanjang Hingga 15 September
PRESIDEN Prabowo Pastikan Perkuat Pengendalian Karhutla di Kalteng
314 NAKES-Logistik Dikirim ke Provinsi Terdampak Karhutla
PERKUAT Ikhtiar Hadapi Kemarau Melalui Salat Istisqa
KUALITAS Udara Kota Palangka Raya “Berbahaya”
CEGAH Dampak Asap Karhutla, Kotim Hentikan Pembelajaran Tatap Muka

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 22:53

BANJIR NEPAL: Lebih dari 270 Orang Tewas, Hampir 1.400 Hilang

Kamis, 27 Agustus 2026 - 22:44

MASSA AKSI Mulai Membubarkan Diri dari Depan Gedung DPR/MPR RI

Kamis, 27 Agustus 2026 - 22:12

AKSI Tanggap Lingkungan Dipimpin Kapolsek Banjarmasin Selatan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 20:07

3 TON Sisik Trenggiling Gagal Diselundupkan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:49

UDARA Pontianak Berbahaya Warga Diminta Kurangi Kegiatan di Luar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 13:05

POLDA KALSEL Kerahkan 350 Personel Gabungan dan Siapkan Kolam Bioflok Portable

Kamis, 27 Agustus 2026 - 12:28

USAI TELPONAN Seorang Pemuda Gantung Diri di Halaman Tetangga

Rabu, 26 Agustus 2026 - 21:37

KEPEDULIAN Anggota Partai UMMAT Kalsel

Berita Terbaru

Lumpur penuhi permukiman di Nepal usai banjir bandang. (Foto: REUTERS/Navesh Chitrakar)

Internasional

BANJIR NEPAL: Lebih dari 270 Orang Tewas, Hampir 1.400 Hilang

Kamis, 27 Agu 2026 - 22:53

Mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah. (detikcom/Gilang Faturahman)

Hukum

PRAPERADILAN Febrie Ditolak

Kamis, 27 Agu 2026 - 22:29

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca