Suarindonesia – Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor mengharapkan Pemerintah Kota (Pemko) berlaku lebih bijaksana dalam menyikapi rencana perubahan desain klotok (perahu mesin) sebagai sarana angkutan wisata sungai yang selama ini menjadi andalan.
“Saya hanya berpesan kalau memang ingin merubah bentuk klotok harus bijaksana lah jangan membebani para juragan klotok dan jangan sampai mereka terbeban sebagai pemilik klotok, yang akan berdampak pariwisata,” ungkap Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor menjawan pertanyaan wartawan, di sela-sela peninjuan pembangunan Masjid Terapung di Surgi Mukti Banjarmasin, Rabu (13/03/2019) siang.
Bahkan, ujar Sahbirin Noor, ketika berbincang dengan sejumlah wartawan usai pemancangan tiang pertama mesjid terapung di Sungai Jingah, keinginan Pemko tersebut cukup baik, maksudnya untuk keselamatan penumpang.
Namun, jika para juragan Klotok disuruh mengganti kelotok atau merubah bentuknya yang ada itu cukup memberatkan karena ekonomi mereka para juragan klotok juga pas-pasan.
“Pemko lebih bijaksana jika ingin mengganti atau merubah bentuk kelotok yang sudah ada itu dengan menggunakan biaya Pemko sendiri, bukan biaya pemilik kelotok,” kata Paman Birin.
Oleh karena itu, jika memberatkan, maka tak masalah jika kelotok yang ada tersebut tetap dipakai asalkan aturan yang dipertegas, yakni penumpang harus pakai baju pelampung. Karena yang dipersoalkan bukan bentuk kelotoknya tetapi kan keamanannya.

Selain itu, bentuk kelotok sekarang kan itu hasil karya masyarakat setempat yang sudah menjadi budaya, yang turun temurun dan bentuk seperti itu ciri khas kelotok di Banjar. “Jangan latah mengganti model lain yang justru merusak ciri khas tersebut,” katanya.
Walikota Banjarmasin H Ibnu Sina saat dikonformasi masalah wacana pengganti kelotok yang dikritik Gubernur Kalsel H Syahbrin Noor mengatakan sebenarnya Pemko melalui Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin sudah mencari solusi termasuk peringatan penumpang yang duduk di atas supaya tidak dibiasakan.
Karena hal ini selain sangat membahayakan, sehingga dari masukan Dinas Perhubungan pihaknya ingin mencari solusi dan tidak menjadi beban pada juragan kelotok yang selama ini dinilai kurang memperhatikan keselamatan.
Karenanya ke depan masalah faktor keselamatan menjadi pemikiran bagi pemko. Kini sudah 5 juragan kelotok bersedia melakukan modifikasi dan perubahan dengan mengutamakan keselamatan.
Bahkan, berdasarkan catatan Dishub Banjarmasin diberikan batas waktu enam bulan ke depan kepada motoris kelotok agar mengubah desain keamanan.
Begitu juga Pemko sudah kumpulkan 88 orang pemilik atau motoris kapal yang beroperasi di sepanjang tempat wisata Siring Tendean. Tujuan agar mereka mengubah desain kelotok sesuai apa yang diinginkan Pemko setempat.(SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















